Posted by: azkaa,, | February 1, 2010

saya

… benar-benar ingin (dan butuh) menulis lagi.

bismillah.

Posted by: azkaa,, | December 15, 2009

mungkin

Di antara sekian banyak ketidakbiasaan (keanehan?) yang ada pada diri saya, salah satu yang saya pun baru sadari adalah; ternyata sejak dulu hal detail tidak selamanya mampu menjadi teman baik saya.

Segala sesuatu yang begitu jelas, rinci, dan nyata seringkali terasa menakutkan bagi saya.

Mungkin itulah sebabnya, saya kini hampir tidak pernah lagi menonton televisi. Dalam kotak yang bising tersebut, saya merasa demikian asing. Semakin lama semakin asing. Hingga akhirnya menyadari … saya tersesat dalam ruang berdimensi 21 inci itu. Read More…

Posted by: azkaa,, | December 6, 2009

bismillah

Posted by: azkaa,, | October 19, 2009

tetapi hujan tak mendengar

“Jangan. Jangan sekarang. Tunggu sebentar.”

Tetapi langit semakin gelap.

“Sedikit lagi saja. Sampai ada yang menjawab panggilanku.”

Gerimis.

“Kumohon. Jangan sekarang. Tunggu. Sebentar. Tunggu.”

Menderas.

“Sejak pagi aku berjalan. Berteriak. Sejak pagi. Sejak kemarin.”

Tetapi langit semakin gelap.


“Apa yang harus kukatakan pada istri dan anakku nanti?”

Air hujan mulai menggenang.

“Untuk terus bersabar?”

Di lelubang aspal.


“Bahwa Gusti Allah ora sare?”

Di pepatah hati.


Enam buah sapu lidi itu ia masukkan ke dalam sebuah plastik hitam.

Lalu dipeluknya erat-erat.

Posted by: azkaa,, | October 15, 2009

sang mu’adzin

“Tak tak tak.”

Ini hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Duk duk duk.”

Tiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh kali pula dia membangunkanku dengan cara ini.

“Tak.”

Bukan dengan kecupan di kening. Pun segelas susu coklat hangat. Apalagi sekuntum bunga.

“Duk.”

Tetapi percayakah bila kukatakan, ini ucapan selamat pagi termanis yang pernah ada?

“Tak tak.”

Karena setelah dingin ini kusibak, lamur ini kuabaikan, dan ringkih ini kutegakkan, segera akan kujumpai dirinya berdiri di balik pagar itu. Menungguku.

“Duk duk duk duk.”

Dengan senyum yang sama. Binar mata yang sama.

Read More…

Posted by: azkaa,, | August 8, 2009

demi masa

taken from vanishing_s.deviantart.com

Dalam ilmu fisika, waktu dan ruang menempati posisi fundamental. Mereka berdiri sendiri, tidak ada besaran lain yang ikut menentukan keduanya. Hal ini berbeda dengan energi, gaya, dan kecepatan yang besarannya justru turut ditentukan oleh waktu dan ruang.

Read More…

Posted by: azkaa,, | June 12, 2009

bisa!

taken from nabzieemomo.deviantart.com

Jauh, jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” karya Rhonda Byrne dengan konsep “Law of Attraction” atau “Quantum Ikhlas” dari Erbe Sentanu, saya telah diberikan pemahaman oleh bapak saya tentang kekuatan pemikiran dan korelasinya dengan keberhasilan dalam hidup.

Read More…

Posted by: azkaa,, | April 29, 2009

rabithah

#1

Jikalah di hatiku terdaftar nama-nama perempuan yang paling kusayangi, tentu engkau satu di antaranya.

Read More…

Posted by: azkaa,, | April 3, 2009

dunia metafora #2

“Faktanya, kau tidak pernah mencegahku pergi. Sebagaimana kau tidak pernah mencoba menunjukkan arah pulang untukku.”

Di tengah gesa, kusempatkan menulis surat ini untukmu. Mencoba menyibak tirai beku yang dulu kucipta agar aku tak perlu menjelaskan apa-apa. Lagipula aku tahu kau membenci alasan. Kau hanya peduli akibat. Karena bagimu, sebab adalah sesuatu yang masih mungkin ditawar. Sedangkan akibat tiada bisa diganggu gugat.

Kepergianku, dengan cara ini, tidak bermakna sedalam itu bagimu. Duniamu tidak runtuh. Aku mengamatimu terus berjalan. Berdiri semakin tegak. Juga semakin, berpendar? Ha! Syukurlah. Aku turut berbahagia untukmu. Dengan demikian satu-satunya yang perlu kukasihani hanya diriku.

Sejujurnya, aku tidak pernah pergi. Tadi aku sekadar mengutip diksimu. Yang sungguhnya terjadi ialah, aku terlalu jauh berjalan. Hingga tiba-tiba tersadar dalam huyung bahwa aku lupa jalan ke rumah.

Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang. Tidak, aku tidak lupa tawa pongah kita yang menyabda pulang hanyalah metafora. Rumah adalah di mana hati kita berada. Ternyata, seiring kembara hati, konsep itu tidak lagi mudah dimengerti.

Nanti kan tiba saatnya, kakimu lelah mengayuh. Tangan letih mendayung. Ketika itu, yang kau inginkan hanyalah memejamkan mata. Melupakan semua. Merasa yakin bahwa di pagi hari, akan ada hidangan hangat di meja makan dan sapaan “Jangan berangkat sebelum sarapan.”

Sayang, hari makin malam dan belum mampu kutemukan jalan menuju rumah. Tersesat.

: Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang.

Posted by: azkaa,, | February 17, 2009

pascatiada

Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.

Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar lembut. Begitu pula dengan wajah Mbah Uti yang saya cium di ujung pelepasannya. Cantik dan damai.

Sedangkan kondisi menyedihkan terlihat pada sesosok jenazah yang mengambang di Laut Kepulauan Seribu. Saya dan kawan-kawan sewaktu itu sedang menyeberang menuju Pulau Untung Jawa. Sang pengendali mesin perahu berkata pada kami, “Jangan lihat ke arah kanan! Jangan lihat ke arah kanan!” Dapat diduga, justru sekian pasang mata mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Di sanalah, terombang-ambing di atas gedebong pisang, seorang yang menurut kabar angin adalah pelaku kejahatan dengan pengasingan sebagai hukuman.

Read More…

Posted by: azkaa,, | January 19, 2009

pernik

Untuk kuli panggul yang tertawa lepas mendengar ledekan kawannya setelah berkarung-karung barang yang ia naikkan ke atap mobil harus diturunkan kembali

Untuk pedagang minuman yang begitu bahagia berbincang dengan pemain bola terkenal dari klub sepak bola kabupaten

Untuk tukang ojek yang memanggilkan taksi bagi penumpangnya yang jatuh dan meminjamkan jas hujannya agar bagian dari baju yang robek dapat tertutupi lalu menolak dibayar

Untuk ibu pengemis di sisi loket karcis stasiun yang selalu mengucapkan doa panjang bagi yang memberinya uang

Read More…

Posted by: azkaa,, | January 3, 2009

perubahan

Saat mengganti beberapa hal di blog ini, saya bermaksud membiarkan siapa pun yang berkunjung memberi terjemah sesuai pemahamannya masing-masing terutama perihal judul, subjudul, dan header. Toh siapalah saya sampai harus wara-wiri setiap melakukan suatu hal? Namun karena seseorang menyarankan agar saya menjelaskan maksud perubahan-perubahan tersebut, saya akhirnya manut dan membuat tulisan singkat ini.

Jadi begini lho, bagi yang sebelumnya pernah berkunjung ke blog ini, mungkin tersadar akan perubahan nama dan header yang ada. Dahulu nama blog ini adalah Hakuna Matata, sebuah frase Swahili yang secara bebas dapat diartikan ‘no worries‘. Dengan taglineLook Beyond What U See‘ yang saya kutip dari film Lion King ‘Hakuna Matata’. Header-nya pun gambar bunga berwarna pelangi.

Read More…

Posted by: azkaa,, | December 13, 2008

dunia metafora

“Percayalah. Aku sudah mencoba. Namun mengucapkan selamat tinggal padamu bukanlah hal mudah.”

Karena di sinilah duniaku. Menadahkan tangan dan menyaksikan rintik kata jelmakan diri sebagai ribuan sayap kecil yang mengutuh satu. Mencurah segala dan membiarkan ia menjadi saksi perjalananku -tanpa pernah, sekali pun, ia mencoba alih peran sebagai hakim di hadapanku.

Read More…

Posted by: azkaa,, | November 21, 2008

dua hati

ibu dan bapak

 

Beni menyisir rambutnya dengan gugup. Ia belum juga beranjak dari motor RX King miliknya. Sesekali diliriknya rumah Tyas, gadis yang hendak dilamarnya. Setelah keberanian akhirnya terkumpul, ia berdiri dan mendekati pagar rumah tersebut. Lalu diucapkannya salam.

 

Read More…

Posted by: azkaa,, | October 23, 2008

maaf mas, asap rokoknya.

Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang merokok di dekat Anda?

Beberapa orang memilih menyingkir jika hal itu memungkinkan. Sebagian lain berdiam diri, memasang tampang terganggu, dan menggerutu dalam hati. Ada pula orang yang lantas terbatuk-batuk menyindir sang perokok. Atau mungkin, jika sesama perokok, hanya akan diam tidak peduli.

Tetapi tidak demikian dengan saya. Jika ada seseorang yang merokok di tempat umum dan asap rokoknya mengenai saya atau tercium baunya, saya akan langsung berkata, “Maaf Mas, asap rokoknya”.

Read More…

Older Posts »

Categories