Posted by: azkaa,, | November 20, 2009

dari pintu ke pintu

Senin depan saya mau pindah kost. Lagi. Hehehe, iseng (lagi) ah ngasi liat foto kost yang pernah, sedang, dan akan saya tempati. Kalo fasilitas kost sih rata-rata sama lah; spring bed, lemari, meja belajar, dan kamar mandi pribadi di dalem kamar. Untuk layanan cuci-setrika baju dan koneksi Internet opsional, bayarnya per bulan. TV, kulkas, dispenser, kompor gas, microwave, dan kawan-kawannya ya disediakan di ruang tengah.

Kalo soal makanan, di Bogor terutama di daerah sekitar kampus, nggak perlu takut kelaperan. Tinggal SMS/telepon kalo pengen nasi goreng, mie goreng, Indomie, pecel ayam, atau burger. Ntar pesenan bakal dianter sampe depan kost bahkan depan kamar. Untuk burger malah buka 24 jam (dan jelas lebih murah dari 14045 atau 14042 karena yang ini nggak pake ongkos kirim). Hehehe. Nggak heran dapur kost kami selalu rapi dan bersih,  daripada masak ya mending pesen. Halah, bilang aja emang nggak bisa masak. =P

Enaknya ngekost dibanding ngontrak rumah patungan gitu:

  • Nggak ribet ngurusin uang listrik, air, telepon, iuran sampah, gas elpiji, galon air mineral, dan sebagainya.
  • Cuma perlu ngebersihin kamar sendiri aja. Ruang tamu, ruang tengah, dapur, teras, dan halaman kost dibersihkan oleh penjaga kost.
  • Ada satpamnya. Ngontrak rumah isinya cewek semua nggak ada yang ngejagain bisa berakibat kemalingan berkali-kali. *Lirik Ophie*

 

Rumah warna; kost pertama. Konsep kostnya oke banget. Lokasi agak menjauh dari keramaian, jadi nyaman. Sayang lembab, lemari dan meja belajar harus dilap tiap hari kalo nggak muncul jamur putih tipis gitu. Oh iya, ada monyetnya segala.

Kost Putri Bunda; yang sekarang saya tempati. Enak karena satu kost dengan temen sekelas yang rajin. Gampang nyontek tugas dan pinjem catetan. Sayang jalanan depannya jelek dan becek. Tempat parkir mobilnya juga sempit, spion kiri udah jadi korban.

Posted by: azkaa,, | November 11, 2009

hey, kamuuu

“Ayo kita nonton film ini, yang 3 dimensi… Slurp… Hehehe…”

cloudywithachanceofmeatballs

Saking lamanya nggak nulis, tadi hampir lupa password blog, hehe. Seperti biasa, tolong maklumi saja dulu kicau tanpa makna ini. Lagipula, sejak dulu saya memang menulis untuk saya, bukan? =)

Perasaan malu nan tidak jua menyurut – ah, sepele padahal. Surat dokter. Ujian susulan. Sekeranjang baju kotor. Dua kipas angin yang menyala 24 jam. SMS pesanan nasi goreng siap-antar-sampai-ke-kamar. Tumpukan DVD bajakan, koran, dan majalah. Dompet dan tas kosmetik yang hilang – sepertinya, memang keabadian hanya sudi bicara soal keberadaan(-Nya), selebihnya tak. Iritasi di wajah. Es Nutrijell. Water heater yang rusak. Payung yang tertinggal di kost teman. Bando telinga jerapah. Password WLAN yang salah. Dehidrasi. Antrian tugas. Bapak dan ibu yang akan berangkat haji. Kampanye Capresma – semangaWD. Cinta. Sedekah. Ketidakyakinan. My Sister’s Keeper; saya nangis hampir sepanjang film, hoho. Dia. Lantai. Percakapan di kost Arina di Bandung; berdasarkan tes, otak kanan saya lebih dominan sedangkan bagi Arina, otak kirinya yang lebih dominan (di sini terletak satu ironi ~ saya menghapal angka dan logika, Arina menyelami dunia seni). Nina in Japan – Youtube. Perasaan dicintai. AC portabel. Dompet – jam tangan – cookies (?). Online shopping. Rutinitas yang hilang selama ujian: Gramedia – Celebrity Fitness – Nescafe (ha, aneh memang). Ucapan maaf. Avanza merah. Rasa nyaman bersamanya, juga karenanya. Bisnis. Pembayaran tersendat. Blow the Blooming Snow. Tulisan ’shut down’ yang jarang sekali dipilih – ’sleep’ saja, atau bahkan langsung tutup (haha, parah). Ketidaktahuan yang asing – tentang siapa yang tertidur lebih awal. Taksi. Penolakan sapa (baik di- maupun me-). Kartu telepon. Kecenderungan seseorang untuk merasa ‘lebih’ dibanding yang sebenarnya karena lingkungan yang sedikit ‘pasokan’, sehingga mau tidak mau ‘permintaan’ terhadap dirinya menjadi sangat tinggi. Ibadah yang tidak sempurna. Utang pulsa Rp 29.000,- ke T, L, B. Utang Rp 3.000,- ke tukang ojek. Piutang kembalian Rp 34.000,- di warung. Kebahagiaan yang meluap-luap. Idealisme. Mimpi. Adik asuh. Rahasia – karena itulah ia bernama, karena tidak perlu siapa pun tahu tentangnya. Foto dan video. Perempuan (saya, kamu, kita) yang terlalu berharga untuk didapatkan dengan mudah, siapa pun yang akan menikahinya nanti harus berjuang terlebih dahulu untuknya dan penuh syukur saat mendapatkannya. Kepalsuan. Kamera digital – baterai yang lupa diisi ulang. Pengakuan: saya tidak peduli dengan kasus-kasus itu, maafkan saya (biarlah mereka [para reptil dan artis berdempul itu] saling dusta, tetapi sekali lagi maaf, saya tidak ingin terseret prasangka). Tidur siang. Malam terang. Masa lalu. Masa depan. Saat ini. Analogi “Pause – [Buffering] – Play” dalam hidup.

Posted by: azkaa,, | October 19, 2009

tetapi hujan tak mendengar

“Jangan. Jangan sekarang. Tunggu sebentar.”

Tetapi langit semakin gelap.

“Sedikit lagi saja. Sampai ada yang menjawab panggilanku.”

Gerimis.

“Kumohon. Jangan sekarang. Tunggu. Sebentar. Tunggu.”

Menderas.

“Sejak pagi aku berjalan. Berteriak. Sejak pagi. Sejak kemarin.”

Tetapi langit semakin gelap.


“Apa yang harus kukatakan pada istri dan anakku nanti?”

Air hujan mulai menggenang.

“Untuk terus bersabar?”

Di lelubang aspal.


“Bahwa Gusti Allah ora sare?”

Di pepatah hati.


Enam buah sapu lidi itu ia masukkan ke dalam sebuah plastik hitam.

Lalu dipeluknya erat-erat.

Posted by: azkaa,, | October 15, 2009

sang mu’adzin

“Tak tak tak.”

Ini hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Duk duk duk.”

Tiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh kali pula dia membangunkanku dengan cara ini.

“Tak.”

Bukan dengan kecupan di kening. Pun segelas susu coklat hangat. Apalagi sekuntum bunga.

“Duk.”

Tetapi percayakah bila kukatakan, ini ucapan selamat pagi termanis yang pernah ada?

“Tak tak.”

Karena setelah dingin ini kusibak, lamur ini kuabaikan, dan ringkih ini kutegakkan, segera akan kujumpai dirinya berdiri di balik pagar itu. Menungguku.

“Duk duk duk duk.”

Dengan senyum yang sama. Binar mata yang sama.

Read More…

Posted by: azkaa,, | August 8, 2009

demi masa

taken from vanishing_s.deviantart.com

Dalam ilmu fisika, waktu dan ruang menempati posisi fundamental. Mereka berdiri sendiri, tidak ada besaran lain yang ikut menentukan keduanya. Hal ini berbeda dengan energi, gaya, dan kecepatan yang besarannya justru turut ditentukan oleh waktu dan ruang.

Read More…

Posted by: azkaa,, | June 12, 2009

bisa!

taken from nabzieemomo.deviantart.com

Jauh, jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” karya Rhonda Byrne dengan konsep “Law of Attraction” atau “Quantum Ikhlas” dari Erbe Sentanu, saya telah diberikan pemahaman oleh bapak saya tentang kekuatan pemikiran dan korelasinya dengan keberhasilan dalam hidup.

Read More…

Posted by: azkaa,, | April 29, 2009

rabithah

#1

Jikalah di hatiku terdaftar nama-nama perempuan yang paling kusayangi, tentu engkau satu di antaranya.

Read More…

Posted by: azkaa,, | April 3, 2009

dunia metafora #2

“Faktanya, kau tidak pernah mencegahku pergi. Sebagaimana kau tidak pernah mencoba menunjukkan arah pulang untukku.”

Di tengah gesa, kusempatkan menulis surat ini untukmu. Mencoba menyibak tirai beku yang dulu kucipta agar aku tak perlu menjelaskan apa-apa. Lagipula aku tahu kau membenci alasan. Kau hanya peduli akibat. Karena bagimu, sebab adalah sesuatu yang masih mungkin ditawar. Sedangkan akibat tiada bisa diganggu gugat.

Kepergianku, dengan cara ini, tidak bermakna sedalam itu bagimu. Duniamu tidak runtuh. Aku mengamatimu terus berjalan. Berdiri semakin tegak. Juga semakin, berpendar? Ha! Syukurlah. Aku turut berbahagia untukmu. Dengan demikian satu-satunya yang perlu kukasihani hanya diriku.

Sejujurnya, aku tidak pernah pergi. Tadi aku sekadar mengutip diksimu. Yang sungguhnya terjadi ialah, aku terlalu jauh berjalan. Hingga tiba-tiba tersadar dalam huyung bahwa aku lupa jalan ke rumah.

Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang. Tidak, aku tidak lupa tawa pongah kita yang menyabda pulang hanyalah metafora. Rumah adalah di mana hati kita berada. Ternyata, seiring kembara hati, konsep itu tidak lagi mudah dimengerti.

Nanti kan tiba saatnya, kakimu lelah mengayuh. Tangan letih mendayung. Ketika itu, yang kau inginkan hanyalah memejamkan mata. Melupakan semua. Merasa yakin bahwa di pagi hari, akan ada hidangan hangat di meja makan dan sapaan “Jangan berangkat sebelum sarapan.”

Sayang, hari makin malam dan belum mampu kutemukan jalan menuju rumah. Tersesat.

: Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang.

Posted by: azkaa,, | February 17, 2009

pascatiada

Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.

Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar lembut. Begitu pula dengan wajah Mbah Uti yang saya cium di ujung pelepasannya. Cantik dan damai.

Sedangkan kondisi menyedihkan terlihat pada sesosok jenazah yang mengambang di Laut Kepulauan Seribu. Saya dan kawan-kawan sewaktu itu sedang menyeberang menuju Pulau Untung Jawa. Sang pengendali mesin perahu berkata pada kami, “Jangan lihat ke arah kanan! Jangan lihat ke arah kanan!” Dapat diduga, justru sekian pasang mata mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Di sanalah, terombang-ambing di atas gedebong pisang, seorang yang menurut kabar angin adalah pelaku kejahatan dengan pengasingan sebagai hukuman.

Read More…

Posted by: azkaa,, | January 19, 2009

pernik

Untuk kuli panggul yang tertawa lepas mendengar ledekan kawannya setelah berkarung-karung barang yang ia naikkan ke atap mobil harus diturunkan kembali

Untuk pedagang minuman yang begitu bahagia berbincang dengan pemain bola terkenal dari klub sepak bola kabupaten

Untuk tukang ojek yang memanggilkan taksi bagi penumpangnya yang jatuh dan meminjamkan jas hujannya agar bagian dari baju yang robek dapat tertutupi lalu menolak dibayar

Untuk ibu pengemis di sisi loket karcis stasiun yang selalu mengucapkan doa panjang bagi yang memberinya uang

Read More…

Posted by: azkaa,, | January 3, 2009

perubahan

Saat mengganti beberapa hal di blog ini, saya bermaksud membiarkan siapa pun yang berkunjung memberi terjemah sesuai pemahamannya masing-masing terutama perihal judul, subjudul, dan header. Toh siapalah saya sampai harus wara-wiri setiap melakukan suatu hal? Namun karena seseorang menyarankan agar saya menjelaskan maksud perubahan-perubahan tersebut, saya akhirnya manut dan membuat tulisan singkat ini.

Jadi begini lho, bagi yang sebelumnya pernah berkunjung ke blog ini, mungkin tersadar akan perubahan nama dan header yang ada. Dahulu nama blog ini adalah Hakuna Matata, sebuah frase Swahili yang secara bebas dapat diartikan ‘no worries‘. Dengan taglineLook Beyond What U See‘ yang saya kutip dari film Lion King ‘Hakuna Matata’. Header-nya pun gambar bunga berwarna pelangi.

Read More…

Posted by: azkaa,, | December 13, 2008

dunia metafora

“Percayalah. Aku sudah mencoba. Namun mengucapkan selamat tinggal padamu bukanlah hal mudah.”

Karena di sinilah duniaku. Menadahkan tangan dan menyaksikan rintik kata jelmakan diri sebagai ribuan sayap kecil yang mengutuh satu. Mencurah segala dan membiarkan ia menjadi saksi perjalananku -tanpa pernah, sekali pun, ia mencoba alih peran sebagai hakim di hadapanku.

Read More…

Posted by: azkaa,, | November 21, 2008

dua hati

ibu dan bapak

 

Beni menyisir rambutnya dengan gugup. Ia belum juga beranjak dari motor RX King miliknya. Sesekali diliriknya rumah Tyas, gadis yang hendak dilamarnya. Setelah keberanian akhirnya terkumpul, ia berdiri dan mendekati pagar rumah tersebut. Lalu diucapkannya salam.

 

Read More…

Posted by: azkaa,, | October 23, 2008

maaf mas, asap rokoknya.

Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang merokok di dekat Anda?

Beberapa orang memilih menyingkir jika hal itu memungkinkan. Sebagian lain berdiam diri, memasang tampang terganggu, dan menggerutu dalam hati. Ada pula orang yang lantas terbatuk-batuk menyindir sang perokok. Atau mungkin, jika sesama perokok, hanya akan diam tidak peduli.

Tetapi tidak demikian dengan saya. Jika ada seseorang yang merokok di tempat umum dan asap rokoknya mengenai saya atau tercium baunya, saya akan langsung berkata, “Maaf Mas, asap rokoknya”.

Read More…

Posted by: azkaa,, | October 19, 2008

pengemis vs persepsi

Dalam salah satu mailing list yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi mengenai pengemis di negeri ini. Ada pun mereka yang terlibat diskusi umumnya tidak setuju akan keberadaan pengemis. Mengutip perkataan wartawan yang satu ini, pengemis adalah salah satu kesalahan jika dilihat dari segi tatanan masyarakat. Saya setuju, bahwa pengemis memang sedapat mungkin ditiadakan. Karena perbandingan jumlah pengemis kemungkinan besar merepresentasikan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu wilayah. Sehingga persoalan pengemis merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua untuk segera diselesaikan.

Pengemis, berbeda dengan pengamen, adalah orang-orang yang ‘memanfaatkan’ keterbatasan mereka sebagai cara untuk meminta belas kasihan orang lain. Sepanjang pengamatan saya yang sering menggunakan jasa angkutan umum termasuk kereta rel listrik (KRL), para pengemis di Jabodetabek terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

Read More…

Older Posts »

Categories