Astaghfirullah… Saya lupa tadi bayar angkot kagak ya? Kok kayaknya turun terus langsung ngeloyor ke Indomaret dah… Ya Allah, gimana donk??? T_T
Maafin saya ya, Abang angkot… Huhu…
gawat
Posted in Uncategorized
alhamdulillah
Yeah, 24 SKS semester ini resmi ditunaikan. Alhamdulillah wa syukurillah. Semoga dikaruniai IP 4, amiin. Pengen gitu ngerasain IP 4. Kayaknya lezat. Hehe. Kalo semester ini belum dikasih, ya nggak apa. Masih ada hari esok.
Mau mulai ngurus persiapan International Students Week ke Rumania, ah. Asiah-chan nyemangatin lagi soalnya. =)
Tapi terus terang, dibanding ke Rumania, lebih pengen umrah Ramadhan euy. Mudah-mudahan diundang lagi jadi tamu Allah ya. Ada yang mau nraktir saya untuk umrah? =P
Iya, postingan semacam ini nantinya bakal dihapus. ^^
Posted in Uncategorized
bisa!

Jauh, jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” karya Rhonda Byrne dengan konsep “Law of Attraction” atau “Quantum Ikhlas” dari Erbe Sentanu, saya telah diberikan pemahaman oleh bapak saya tentang kekuatan pemikiran dan korelasinya dengan keberhasilan dalam hidup.
Posted in kisah, kontemplasi
table manner

Selama di Bogor, saya cukup sering makan di Warung Tegal alias Warteg. Alasannya sederhana, Warteg adalah tempat makan yang paling mudah dicapai dari tempat kost saya. Cukup salto tiga kali dari pintu gerbang kost, nyampe deh! Menu-menu sederhana yang ditawarkan juga memiliki nilai tersendiri karena terasa familiar di lidah. Selain itu, alasan penting yang menjadikan Warteg adalah favorit mahasiswa hingga pekerja bangunan tentu tidak terlepas dari harganya yang murah. Sebagai gambaran, jika saya makan dengan nasi setengah porsi (karena satu porsinya adalah takaran bagi para pekerja berat), sayur sop, udang, tahu, dan es teh tawar, saya cukup membayar seharga lima ribu rupiah. Banyak pengunjung lain yang saya perhatikan bahkan makan dengan nasi menggunung dan semur tahu tempe, yang demikian tentu akan lebih murah lagi.
Pengunjung Warteg yang beragam benar-benar menarik untuk diperhatikan. Suasana yang tercipta pun khas. Akrab. Santai. Bapak pemilik Warteg Barokah dekat tempat kost saya pun sering menyapa dan mengajak ngobrol saya dan Mevi jika kami makan di sana. Tadi, misalnya, sang bapak bertanya, “Kok lama nggak makan di sini? Sibuk ya?” Hehehe, saya sudah dianggap langganan rupanya. Nah, yang saya amati, siapa pun yang makan di Warteg sungguh bebas untuk berekspresi. Mau makan sambil mengangkat kaki kanan? Silakan. Tidak akan ada yang melirik aneh atau memprotes. Kecuali jika saya atau Mevi yang demikian. Hehe, gile aje itu mah.
Ya. Intinya, kita tidak perlu table manner untuk makan di Warteg. Masalahnya, Saudara-saudara, emang seumur hidup kita hanya akan makan di Warteg? Nggak donk. Karena itulah tetap penting bagi kita untuk mengetahui tata cara makan alias table manner yang baik. Siapa tahu suatu saat kita harus makan dengan klien di angkringan, tenda pecel lele, atau warung bakso pinggir jalan. Hoho, itu juga nggak perlu table manner denk ya (lagian masak ketemu klien di tenda pecel lele?). Maksud saya, sesekali kita makan di restoran, kan? Bagaimana jika suatu saat kita diundang makan malam di Hotel Mulia yang udang goreng tepung mayonnaise-nya uenak tenan itu? Malu donk kalau kita menyamakannya dengan cara abang-abang yang biasa makan di Warteg?
Posted in kisah
rabithah
#1
Jikalah di hatiku terdaftar nama-nama perempuan yang paling kusayangi, tentu engkau satu di antaranya.
Posted in embun jiwa
dunia metafora #2
“Faktanya, kau tidak pernah mencegahku pergi. Sebagaimana kau tidak pernah mencoba menunjukkan arah pulang untukku.”
…
Di tengah gesa, kusempatkan menulis surat ini untukmu. Mencoba menyibak tirai beku yang dulu kucipta agar aku tak perlu menjelaskan apa-apa. Lagipula aku tahu kau membenci alasan. Kau hanya peduli akibat. Karena bagimu, sebab adalah sesuatu yang masih mungkin ditawar. Sedangkan akibat tiada bisa diganggu gugat.
Kepergianku, dengan cara ini, tidak bermakna sedalam itu bagimu. Duniamu tidak runtuh. Aku mengamatimu terus berjalan. Berdiri semakin tegak. Juga semakin, berpendar? Ha! Syukurlah. Aku turut berbahagia untukmu. Dengan demikian satu-satunya yang perlu kukasihani hanya diriku.
Sejujurnya, aku tidak pernah pergi. Tadi aku sekedar mengutip diksimu. Yang sungguhnya terjadi ialah, aku terlalu jauh berjalan. Hingga tiba-tiba tersadar dalam huyung bahwa aku lupa jalan ke rumah.
Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang. Tidak, aku tidak lupa tawa pongah kita yang menyabda pulang hanyalah metafora. Rumah adalah di mana hati kita berada. Ternyata, seiring kembara hati, konsep itu tidak lagi mudah dimengerti.
Nanti kan tiba saatnya, kakimu lelah mengayuh. Tangan letih mendayung. Ketika itu, yang kau inginkan hanyalah memejamkan mata. Melupakan semua. Merasa yakin bahwa di pagi hari, akan ada hidangan hangat di meja makan dan sapaan “Jangan berangkat sebelum sarapan.”
Sayang, hari makin malam dan belum mampu kutemukan jalan menuju rumah. Tersesat.
: Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang.
Posted in fiksi
irit

“Tadi Pak Ujang bilang ada materi kuliah yang ditaruh di blognya kan? Coba buka ah,” gumam Mevi di sela waktu kuliah. Saya mengintip PDA O2 mini milik teman saya tersebut, browser Internet Explorernya sedang membuka blog dosen kami lengkap dengan background warna hijau yang ikut terunduh.
“Mau tahu gak Mev cara gw supaya bisa murah browsing di PDA? Nih gw kirimin ya link-nya,” timpal saya setelah melihat ia membuang banyak pulsa dengan membuka web layaknya browsing di komputer.
Pesan singkat berisi link http://www.google.com/gwt/n?u=http%3A%2F%2F pun saya kirimkan pada Mevi.
“Tulis link situs persis setelah huruf F terakhir itu, semua web bakalan dikompres jadi kecil banget. Coba buka blognya Pak Ujang lagi deh.”
“Wah! Iya, ya! Tadi blog Pak Ujang lebih dari 50 kb, sekarang gak sampe 10 kb!” Mevi terlihat senang. Meski selanjutnya ia protes, “Lo gak ngomong dari dulu sih, padahal biasanya gw buka web bisa sampai ratusan kb.”
Begitulah. Hidup di jaman sekarang memang perlu cari banyak akal, supaya serba murah. Alias irit. Beberapa ‘akal-akalan’ yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
Posted in kisah
pascatiada
Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.
Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar lembut. Begitu pula dengan wajah Mbah Uti yang saya cium di ujung pelepasannya. Cantik dan damai.
Sedangkan kondisi menyedihkan terlihat pada sesosok jenazah yang mengambang di Laut Kepulauan Seribu. Saya dan kawan-kawan sewaktu itu sedang menyeberang menuju Pulau Untung Jawa. Sang pengendali mesin perahu berkata pada kami, “Jangan lihat ke arah kanan! Jangan lihat ke arah kanan!” Dapat diduga, justru sekian pasang mata mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Di sanalah, terombang-ambing di atas gedebong pisang, seorang yang menurut kabar angin adalah pelaku kejahatan dengan pengasingan sebagai hukuman.
Posted in kisah, kontemplasi
pernik
Untuk kuli panggul yang tertawa lepas mendengar ledekan kawannya setelah berkarung-karung barang yang ia naikkan ke atap mobil harus diturunkan kembali
Untuk pedagang minuman yang begitu bahagia berbincang dengan pemain bola terkenal dari klub sepak bola kabupaten
Untuk tukang ojek yang memanggilkan taksi bagi penumpangnya yang jatuh dan meminjamkan jas hujannya agar bagian dari baju yang robek dapat tertutupi lalu menolak dibayar
Untuk ibu pengemis di sisi loket karcis stasiun yang selalu mengucapkan doa panjang bagi yang memberinya uang
Posted in embun jiwa, hakuna matata
perubahan
Saat mengganti beberapa hal di blog ini, saya bermaksud membiarkan siapa pun yang berkunjung memberi terjemah sesuai pemahamannya masing-masing terutama perihal judul, subjudul, dan header. Toh siapalah saya sampai harus wara-wiri setiap melakukan suatu hal? Namun karena seseorang menyarankan agar saya menjelaskan maksud perubahan-perubahan tersebut, saya akhirnya manut dan membuat tulisan singkat ini.
Jadi begini lho, bagi yang sebelumnya pernah berkunjung ke blog ini, mungkin tersadar akan perubahan nama dan header yang ada. Dahulu nama blog ini adalah Hakuna Matata, sebuah frase Swahili yang secara bebas dapat diartikan ‘no worries‘. Dengan tagline ‘Look Beyond What U See‘ yang saya kutip dari film Lion King ‘Hakuna Matata’. Header-nya pun gambar bunga berwarna pelangi.
Posted in hakuna matata
dunia metafora
“Percayalah. Aku sudah mencoba. Namun mengucapkan selamat tinggal padamu bukanlah hal mudah.”
…
Karena di sinilah duniaku. Menadahkan tangan dan menyaksikan rintik kata jelmakan diri sebagai ribuan sayap kecil yang mengutuh satu. Mencurah segala dan membiarkan ia menjadi saksi perjalananku -tanpa pernah, sekali pun, ia mencoba alih peran sebagai hakim di hadapanku.
Posted in fiksi
aneh
Posted in kontemplasi
dua hati

Beni menyisir rambutnya dengan gugup. Ia belum juga beranjak dari motor RX King miliknya. Sesekali diliriknya rumah Tyas, gadis yang hendak dilamarnya. Setelah keberanian akhirnya terkumpul, ia berdiri dan mendekati pagar rumah tersebut. Lalu diucapkannya salam.
Posted in hakuna matata, kisah
HP = candu?

Toko buku adalah tempat pelarian favorit saya jika sedang suntuk. Beberapa hari lalu, tanpa uang sepeser pun kecuali untuk ongkos, saya pergi ke Gramedia. Lumayan, saya sukses membaca gratis dua komik Kungfu Boy The Legend terbaru (aku padamu, Chinmi! Meski cintaku pada Rukawa belum tergantikan sebenarnya, hehe). Selain itu, saya juga membaca komik Benny & Mice yang bertemakan telepon genggam alias telepon bimbit alias mobile phone alias ponsel alias HP (hand phone). Banyak hal menarik dalam komik karya Benny Rachmadi dan Muhammad Mirsad yang biasanya dimuat di Kompas setiap hari minggu ini seputar HP di kehidupan kita sehari-hari.
Posted in hakuna matata, kisah
maaf mas, asap rokoknya.

Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang merokok di dekat Anda?
Beberapa orang memilih menyingkir jika hal itu memungkinkan. Sebagian lain berdiam diri, memasang tampang terganggu, dan menggerutu dalam hati. Ada pula orang yang lantas terbatuk-batuk menyindir sang perokok. Atau mungkin, jika sesama perokok, hanya akan diam tidak peduli.
Tetapi tidak demikian dengan saya. Jika ada seseorang yang merokok di tempat umum dan asap rokoknya mengenai saya atau tercium baunya, saya akan langsung berkata, “Maaf Mas, asap rokoknya”.
Posted in hakuna matata, kisah
