5 oktober 2012

Aku sudah bersiap-siap mati ketika itu.

Kupikir kau perlu tahu tentang ini, Gadis kecilku.

Bahwa menjelang kau terlahir di dunia melalui operasi karena setelah tiga puluh enam jam aku merintih-rintih kesakitan tidak ada kemajuan persalinan, aku meminta waktu kepada dokter kandunganku.

Untuk mandi yang bersih. Lalu berwudhu. Lalu memohon maaf kepada ibuku.

Persis seperti ini kata-kataku kepada nenekmu, “Bu, maafin ya, Bu… Kakak baru tahu ternyata seperti ini rasanya melahirkan. Maafin ya, Bu…”

Nenekmu pun tahu, bahwa aku sudah bersiap-siap mati ketika itu.

Bukan berarti aku tak mendoa keselamatanku dan –mu.

Tetapi inilah sesungguh-sungguh jihadku.

Menggadai jiwa.

Siap kulepas jika ternyata nyawaku dan –mu menjadi pilihan tak terelakkan.

Ya, sedalam itu cintaku padamu, Gadis kecilku.

Kupikir kau perlu tahu.

raudha 1

khusyuk

Bagi sebagian orang, aku mungkin hanya seorang penjual jamu. Biarlah, ada hal-hal yang tak perlu dilihat sesiapa kecuali Gusti Allah. Biarlah, semisal semua menyemat kata “hanya”, di depan pekerjaanku. Toh sejatinya setiap diri memang hanya hamba; hamba Allah. Dengan memahami hakikat penghambaan kepada Tuhan inilah, kuselami hidup sekhusyuk-khusyuknya.

Pukul dua pagi, hariku dimulai. Kuucap hamdalah, atas satu lagi jatah usia. Kubangunkan anak dan suamiku, mengajak mereka ikut shalat malam. Kadang mereka mau, kadang tak. Lalu kusiapkan semua kebutuhan untuk berjualan jamu hari ini.

Kunyit, kencur, temulawak, jahe, adas, asam, kedawung, keningar, brotowali, sambiloto, jambi, manis jangan, dan bahan lainnya kuracik dengan takaran tepat. Membuat jamu yang berkhasiat ada ilmunya. Kupelajari dan kuterapkan sungguh-sungguh.

Sebelum Subuh, semua jamu telah tersusun rapi di keranjang belakang sepedaku. Lalu aku beralih dari satu wujud penghambaan ke penghambaan lain, Subuh. Salah satu waktu shalat yang magis, ketika semesta merekah, bergeliat bersiap.

Kuperlama setiap sujudku, agar semakin kuat tertanam dalam dada, aku hanya seorang hamba. Terasa benar, tak ada yang bisa disombongkan ketika kepala kita ada di titik terendah membenam bumi. Tak juga perlu rendah diri, karena justru dalam sujud, di titik terendah itu, Allah terasa begitu dekat.

Lalu kusapu lantai semen rumahku, kubuka tirai-tirai yang menyimpan banyak debu, lalu kuhidangkan sarapan terbaik untuk orang-orang tercintaku. Nasi goreng lauk kerupuk, dengan jaminan rasa yang siap diadu dengan buatan restoran. Kopi hitam untuk bapak. Lalu teh manis untuk si Ujang.

Setelahnya, aku pamit berangkat duluan. Dengan jilbab yang kusemat rapi. Celana panjang bahan yang memudahkanku mengayuh sepeda. Juga sekelumit doa.

Sepanjang jalan, aku khusyuk berdzikir. Menderas harap, agar daganganku kali ini banyak terbeli. Utang-utangku terlunasi. Bapak ada panggilan gali sumur dan pulang dengan selamat. Pun semoga … si Ujang bisa sekolah lagi.

Bismillahirrahmanirrahim…

“JAMUUU! Neng geulis, jamu Kunyit Asam, Neng? Biar makin geulis… Cantik luar dalam…”

“JAMUUU! Bu Nisa, lagi jemur dedek ya? Mau jamu Uyup-Uyup, Bu? Supaya kalau nyusuin si dedek, ASI-nya deras…”

“JAMUUU! Pak, jamu, Pak? Ada Kudu Laos, Pak… Bagus untuk nurunin tekanan darah…”

level

Saat menonton ulang film Koran by Heart, baru sadar ada ulama Mesir yang mengatakan, “Level kita di syurga kelak salah satunya ditentukan dari jumlah hapalan Quran kita.” Sesak napas dengernya. Jangankan ngomongin syurganya mau di tingkat ke berapa, yang jamin kelak masuk syurga pun nggak ada. Kok masih tenang-tenang aja tahu hapalan kita masih dikit dan banyak lupanya? :(

21 Januari 2013: (Masih) Al-Hadid: 14

jiwa-jiwa yang tenang

Silau, silau!

Ada cahaya-cahaya naik ke langit.

Diiringi gema suara-suara; Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Senyum-senyum mengembang. Air mata haru menggenang.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Di tangan mereka ada kerikil yang belum sempat terlontar.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Para ibu yang tersungkur dalam sujud syukur, selepas terkabar keempat putranya syahid. Para ayah yang mencium bayinya berlama-lama, sebelum berpamit siap tak kembali. Juga anak-anak! Anak-anak tak berdosa, yang hak hidupnya terenggut paksa.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Mata-mata terpejam.

Bisikan-bisikan syahdu terdengar, jiwa-jiwa mereka bicara!

“Panggil kami, Tuhan. Kami siap…”

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah! Wahai jiwa-jiwa yang tenang…

Irji’i… Kembalilah…

Irji’i ilaa rabbiki raadhiatam mardhiyyah… Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya…

                                     …

Kumatikan televisi. Kumatikan telepon genggamku.

“Deg! Deg! Deg!”; suara jiwaku.

Suara jiwa yang gelisah.

cinta tanpa syarat

Aku bertanya-tanya siapa yang memiiki cinta tanpa syarat?
Bertahun-tahun berlalu…
Kini aku tau kalau yang memiliki cinta tanpa syarat…
Yaitu… ibu…
Cintamu ibu tidak menuntut syarat apa-apa…
Bahkan, cintamu, ibu, menerabas batas logika
Melampaui kesanggupan panca indera
Melangit hingga ke surga…

Ditulis oleh adik saya, Kaiysa, yang terinspirasi dari judul buku proyek hari ibu kami “Cinta Tanpa Syarat”. Untuk ukuran karya anak umur 8 tahun, saya rasa ini bagus sekali… Lanjutkan berkarya, ya!

meramu langkah

17 Januari 2013: Al-Hadid ayat 13.

Metode menghapal Quran setiap orang berbeda-beda. Ada yang hapal cukup dengan mendengar berkali-kali. Bukankah banyak hafidz cilik yang hapal Quran karena sering mendengar ayat-ayat suci–bahkan sejak dalam kandungan?

Ada yang harus menuliskan khat ayat ke buku. Ada yang perlu menggunakan metode Cantol, metode Qauny, dan pengembangan cara menghapal Quran lainnya. Setiap orang berbeda.

Karena itu, selamilah seni menghapal Quran ini. Ramu sendiri metode seperti apa yang paling efektif, langkah-langkah yang paling menyenangkan. Karena sungguh, Allah telah mudahkan Quran untuk dihapal. Maka jika masih terasa sulit, bertanya-tanyalah, adakah yang tak Allah ridhai dalam diri ini?

Allahummarhamni bil Quran… Sayangilah hamba-Mu dengan Quran, ya Allah. Hamba-Mu yang terpayah-payah mendekap ayat demi ayat, yang tak mungkin mampu, jika tak Kau izinkan.

cahaya

16 Januari 2013: Al-Hadid ayat 11 dan 12.

Ah, betapa dahulu terasa begitu mudah menghapal satu halaman Quran dalam sehari. Kini satu-dua ayat pun alhamdulillah. Mungkin belum terbiasa lagi karena terjeda sekian tahun dari terakhir menghapal Quran secara serius dan tertarget. Mungkin juga karena hati, jiwa, pikiran yang gelap. Membuat ayat-ayat cahaya enggan menetap.

Bait-bait cahaya hanya akan hadir dalam hati yang bercahaya pula. Karenanya, setelah meneguhkan tekad untuk menghapal bait-bait cahaya tersebut, saya merasa perlu mengevaluasi dahulu hidup saya. Hal-hal apa saja yang berpotensi menyia-nyiakan waktu dan mengeruhkan jiwa. Tidak mudah memang. Rasanya bagai mengurai benang kusut, tak tahu harus memulai dari mana.

Saya memulainya dengan deactivate akun Twitter. Karena mencermati lini masa sepertinya cukup menyita waktu luang—yang semakin langka sejak hadirnya Aisha Raudha Mardhia, anak saya. Amat mudah mengaktifkannya kembali kelak, jika saya telah lebih mampu mengelola waktu. Kini izinkan saya menyapu dan mengepel lantai hati saya yang penuh debu, agar siap menyambut datangnya ayat-ayat cahaya.

Semoga Allah perkenankan.

6236

Angka Tau dan Pi. Deret Fibonacci. Perbandingan sistole/diastole. Kelajuan cahaya. Chi kuadrat. Aktiva-pasiva.

Angka. Nilai. Rumus. Hitung-menghitung yang pernah demikian memikatku, bertekuk lutut di hadapan empat digit sederhana: 6236.

Angka yang menyimpan rahasia alam semesta. Petunjuk hidup bahagia dunia akhirat.

Angka sederhana, yang sedang tertatih kurengkuh satu per satu. Ayat per ayat.

15 Januari 2013: 1142 dari 6236.

Masih panjang. Mari terus berjuang.

buku kumpulan puisi

sudi maafkanlah anakmu ini

jika mencukupkan setahun sekali

untuk tersentak mengingatmu

malu-malu menelpon atau mengirim pesan singkat

“selamat hari ibu, kucinta padamu”

(Puisi Hari Ibu, Dumilah Ayuningtyas)

Paragraf di atas, terasa benar menyergap hati. Itulah yang kami lakukan, persis. Setiap dua puluh dua Desember.

Kami yang malu-malu, menyiapkan hadiah seadanya, sekadar sekali lagi mengingatkanmu … betapa kami mencintaimu. Betapa besar arti hadir, peluk, dan doamu untuk kami. Kami yang malu-malu mengucap kata cinta itu kepadamu.

merasa telah memadai karena membelikan karangan bunga

berganti-ganti, bahan batik, cincin, atau apa saja bingkisan untukmu

(Puisi Hari Ibu, Dumilah Ayuningtyas)

Buku ini adalah bingkisan yang mungkin tak memadai. Takkan ada yang memadai untuk membalas cintamu. Takkan cukup, takkan sanggup.

Tetapi sudilah menerimanya. Ini tulus dari hati kami, anak-anakmu. Anak-anak yang dulu pernah bergelung di rahimmu. Anak-anak yang pernah kau relakan nyawamu teregang.

Anak-anak yang mengasihimu, mendoakanmu, dan mendamba syurga di telapakmu.

“Selamat Hari Ibu, kami cinta padamu.”

Ya, Bu. Kami cinta padamu. Anak-anakmu: Azka Madihah, Arina Qonita, Muhammad Farhan Izzuddin, Muhammad Alhiqni Bissholihin, Nisrina Kaiysa Fathina. Suamimu, bapak kami: Beni Imanullah. Menantumu: Ahmad Dawamul Muthi. Cucumu: Aisha Raudha Mardhia.

Kami cinta padamu. Lagi dan lagi. Tiada bertepi.

Demikian penggalan pembuka buku kumpulan puisi karya saya dan ibu, yang dibuat sebagai hadiah hari ibu 2012 (tiap tahun kami senang membuat proyek hadiah hari ibu). Sebagian besar puisi saya adalah yang pernah diterbitkan di blog. Bagi yang ingin memesan, silakan hubungi azka.madihah@gmail.com. Harga pengganti ongkos cetak Rp. 50.000 belum termasuk ongkos kirim. Tebal 130 halaman. Sistemnya adalah dicetak sesuai pesanan, jadi tidak ada stok yang siap. Membutuhkan waktu kira-kira 1-2 minggu. Terima kasih.

Image

alasan

Bahkan manusia itu mampu melihat diri sendiri, meskipun dia masih mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al-Qiyamah:14-15)

Terpukul-pukul nuraniku, bashirah-ku, mendapati jawab seorang anak buta yang tak ingin lagi melihat. “Agar nanti, ketika aku berdiri di hadapan-Nya, gemetar ketakutan, (kebutaanku) dapat menjadi alasan yang meringankan hukumanku kelak. Agar Allah bermurah hati dalam memberi perhitungannya, kala aku ditanya, ‘Bagaimana adanya kau perlakukan Alquran?’”

Terperas air mataku. Isak mengisak. Kuterawang hidupku.

Aku… tak punya alasan apa-apa.

Video: Blind Child Doesn’t Want to See Again

monolog rindu

Belum pernah kubaca tulisan seluka mereka yang merindu orang terkasih nan telah tiada. Mereka bukan tak ikhlas melepas, tetapi kubangan kenangan memang masih menganga. Selebar-lebarnya. Sepekat-pekatnya.

“Pak…”

Hanya itu sapaanku. Aku kehabisan kata-kata. Harusnya kuceritakan tentang adik yang kemarin menangis karena jam tangan darimu hilang, tentang toko yang kini dibuka ibu, atau tentang gadis di kampus yang memikat hatiku.

Tetapi taman bapak sore ini demikian damai. Guguran bunga Kamboja kuning mengontras hijau rumput di sekitar nisan. Semut-semut merah berbaris rapi menjalari ubin tepian peristirahatan bapak.

Aku membuka ranselku. Mengeluarkan termos berisi kopi hitam panas. Kutuangkan pula segelas untuk bapak.

Senja, kopi hitam panas, dan dirimu: definisiku tentang kesempurnaan.

Selang dua minggu, batukku tak jua sembuh. Telah kucoba obat warung dan obat dokter. Tetapi sama saja, perih terus menyergak leherku yang gatal dan berdahak.

Lalu aku teringat dirimu. Tahun-tahun terakhir sebelum kepergianmu, kamu batuk siang dan malam. Sampai-sampai aku terbiasa, tidak lagi terbangun untuk menawarimu minum atau sekadar mengelus menenangkanmu. Tahun-tahun ketika kamu tidak pernah istirahat. Berjuang habis-habisan melawan kanker payudara yang tega menggerogoti sisa tubuh keringmu.

“Nanti saja aku istirahatnya, kalau sudah mati,” begitu ujarmu selalu.

Kupandangi langit-langit kamar kita yang berjamur. Dinding yang catnya mengelupas di sana sini. Lalu kuhirup mukenamu dalam-dalam … ah, beginikah harum surga?

Malam semakin larut. Kupadamkan lampu.

Selamat istirahat, Sayangku.

korespondensi tanpa alamat

Begitu mudah air mataku menggenang kini. Mungkin karena gejolak hormon yang bersiap menyambut kelahiran cinta dalam rentang hari-hari ini. Mungkin karena dosa-dosa yang merambati sepi. Mungkin karena tulisanmu, yang kubaca penuh sendu.

Ada sebabnya aku mencintai laman-laman blog yang tidak riuh. Tidak berarus padat bagai media sosial lainnya. Karena di sana aku bersua jiwa-jiwa lain yang juga mendapati keteduhan dalam kata. Kali ini, kutemukan tulisanmu, Anak muda.

Kau tidak mengenalku. Pun aku, baru beberapa menit saja berkunjung ke halaman pikiranmu. Tetapi aku sudah jatuh hati. Izinkan aku terus menguntit isi hatimu, hingga kau berhenti menulis kelak. Meski kuharap tak pernah.

Aku tidak perlu memperkenalkan diri. Sayap-sayap kata, selalu saling menghampiri mereka yang terbang di langit yang sama. Sayap-sayap kata kita, kurasa, terbang di langit tertinggi. Langit tersunyi.

Terima kasih, Anak muda, untuk mengajariku kembali bagaimana bertutur jujur di dunia dengan pasang-pasang mata yang menyipit sinis pada tiap laku manusia lainnya.

Ah, rasanya ini tulisan terjujurku setelah sekian lama.

Setelah aku tak pernah membicarakan bahwa terkadang, begitu ingin kubersegera menutup telepon dari ibuku, khawatir ia membaca serak suaraku menahan tangis. Tangis yang bersebab aneka rupa. Rindu akan tidur memeluk kakinya. Atau semata karena hatiku tidak jauh dari miliknya, tercipta terlalu peka.

Setelah aku tak lagi menuliskan surat-surat cinta untuk yang berdegup di rahimku, yang kudoa tak melihat betapa sungguhnya aku belum pantas menjadi seorang ibu. Atau untuk ayahnya, yang setiap malam mengisikan baterai ponselku dan botol air minum lalu meletaknya di samping dipanku (ingat betul aku, ingin memiliki lelaki yang dengan segenap ikhlas kubangunkan tengah malam untuk mengambilkanku segelas air putih -dirinya tepat seperti itu), yang tangannya sering kugenggam tiap kali lampu merah menjedanya mengemudi mobil.

Anak muda, jikalah suatu saat, tanpa sengaja –sebagaimana aku menjumpamu- kau akan membaca tulisan ini. Lalu kau menuliskan balasannya. “Korespondensi Tanpa Alamat”, tirulah judulku persis. Maka aku akan tahu, sayap-sayap kata kita memang terbang di langit yang sama.

menjaga mimpi

Bila terdamba tercemburukan alunan piano nan menyesak dada, jangan lupakan penat yang diterjang sang pianis menekuri tuts hitam putih belaka –bertahun lamanya.

Seumpama terbius terhanyut deburan prosa seorang pujangga, tanyakanlah berapa gelas kopi yang setia menemani malam-malamnya, atau berapa sering ia tersesat dalam kata-katanya sendiri.

Semisal tangismu gugu menyimak syahdunya ayat Tuhan dari bibir penjaga firman-Nya, telusurilah kesabarannya bergumul dengan kitab yang tidak bisa dihapal oleh hati yang gelap, sementara menjaga agar hati senantiasa bercahaya bukan hal mudah.

Karenanya, apa pun mimpimu saat ini, genggamlah ia erat-erat. Ya, pasti ada jenuh letih pun patah arang. Pasti ada karang dan badai menantang laju kapalmu. Pasti ada gelap membutakan arah kemudimu.

Tetapi terjang saja semua itu! Terjang! Kejar mimpimu, tak peduli dengan mengepak, mengayuh, atau merangkak. Tak peduli bahwa demi sang mimpi, kau justru tak bisa terlalu banyak memejam mata.

Lalu biarkan Tuhan menyelimuti mimpimu, merangkul doamu.

abrahah tanpa pasukan gajah

Abrahah-Abrahah akhir zaman pun terbahak. Saling bersulang. Berdenting gelas-gelas anggur putih mereka. Bahagia, istana-istana megah yang mereka bangun berhasil merebut rindu umat. Tidak lagi ke Ka’bah. Tetapi ke pencakar langit yang di dalamnya penuh gempita dunia. Barang-barang berkilau. Menyilaukan.

“Kiblat hati manusia teralihkan!” seru Abrahah-Abrahah berdasi itu. Jumawa. Dada mereka busung, “Kita bahkan tidak perlu mengirim Mahmud dan ribuan gajah lainnya ke Mekkah!”

“Saksikan! Saksikan! Bahkan di bulan suci mereka, istana kita jauh lebih ramai dari rumah Tuhan mereka!” kata salah seorang Abrahah menutup rapat malam ini.

“Tambah lagi diskonnya! Biar mereka gelap mata!” tambah Abrahah yang lain. Sambil mengusap-usap perutnya yang gendut. Mungkin karena terlalu banyak makan babi.

ambang

Seperti Bilal bin Rabah yang bersitabah di tengah himpitan batu, pasir, dan terik matahari, “Ahad. Ahad. Ahad.” Tak ada satu kata lain yang sanggup terucap saat ia dipaksa cambuk Umayyah bin Khalaf untuk memuja memuji Latta dan Uzza. Hanya “Ahad, Ahad! Esa, Esa!” yang menggemuruhkan jiwa raga sang mu’adzin pertama, seolah siksa yang menderanya bukanlah apa-apa.

Sebagaimana ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang meletak iman di atas seluruh percaya, bahwa Allah akan menyucikannya dari fitnah zina nan keji. Ketika pencarian atas kalungnya yang hilang berujung dirinya tertinggal rombongan Rasulullah. Lalu ia terjumpa Shafwan yang hanya membantunya, tidak lebih. Maka tatkala fitnah dari Abdullah bin Ubay bin Salul merebak, ‘Aisyah menjawabnya dengan kutipan ayat, “Fashabrun jamiil, waallaahu almusta’aanu ‘alaa maa tashifuun. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan kepada Allah sajalah termohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Laksana Mush’ab bin Umair yang teguh menerjang Uhud, meski tertebas tangan kanannya. Digenggam erat dengan tangan kiri, panji pasukan Muslim yang berkibar bersama derapnya. Maka begitu tangan kirinya pun terpenggal, Mush’ab memeluk, merengkuh bendera dengan dadanya … dengan apa yang tersisa dari dirinya. Hingga tertombaklah ia, tergeletak, tanpa kain yang cukup menutup seluruh tubuhnya. Padahal dahulu ia bergelimang harta, tak kurang satu apa.

Demikianlah sebenar-benar definisi kesabaran. Tak terbatas. Tak punya ambang.

Dicontohkan sempurna oleh Bilal, ‘Aisyah, dan Mush’ab. Kesabaran menuju ridha Allah yang hanya akan berujung satu: syurga.

Sepatut itulah kesabaran Bilal, seorang budak yang bunyi terompahnya telah menggema hingga syurga, meski kakinya masih menjejak dunia. Selayak ‘Aisyah yang kesuciannya difirmankan langsung dari langit, dari Tuhan yang mengetahui segala. Serupa Mush’ab, yang mendapat kesaksian Rasulullah tentang syahidnya, tentang janji syurga atas dirinya.

Sementara kita masih sibuk menghitung, menimbang-nimbang, merumuskan definisi kesabaran dari kamus yang kita cipta sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 327 other followers