“Ayo kita nonton film ini, yang 3 dimensi… Slurp… Hehehe…”

Saking lamanya nggak nulis, tadi hampir lupa password blog, hehe. Seperti biasa, tolong maklumi saja dulu kicau tanpa makna ini. Lagipula, sejak dulu saya memang menulis untuk saya, bukan? =)
…
Perasaan malu nan tidak jua menyurut – ah, sepele padahal. Surat dokter. Ujian susulan. Sekeranjang baju kotor. Dua kipas angin yang menyala 24 jam. SMS pesanan nasi goreng siap-antar-sampai-ke-kamar. Tumpukan DVD bajakan, koran, dan majalah. Dompet dan tas kosmetik yang hilang – sepertinya, memang keabadian hanya sudi bicara soal keberadaan(-Nya), selebihnya tak. Iritasi di wajah. Es Nutrijell. Water heater yang rusak. Payung yang tertinggal di kost teman. Bando telinga jerapah. Password WLAN yang salah. Dehidrasi. Antrian tugas. Bapak dan ibu yang akan berangkat haji. Kampanye Capresma – semangaWD. Cinta. Sedekah. Ketidakyakinan. My Sister’s Keeper; saya nangis hampir sepanjang film, hoho. Dia. Lantai. Percakapan di kost Arina di Bandung; berdasarkan tes, otak kanan saya lebih dominan sedangkan bagi Arina, otak kirinya yang lebih dominan (di sini terletak satu ironi ~ saya menghapal angka dan logika, Arina menyelami dunia seni). Nina in Japan – Youtube. Perasaan dicintai. AC portabel. Dompet – jam tangan – cookies (?). Online shopping. Rutinitas yang hilang selama ujian: Gramedia – Celebrity Fitness – Nescafe (ha, aneh memang). Ucapan maaf. Avanza merah. Rasa nyaman bersamanya, juga karenanya. Bisnis. Pembayaran tersendat. Blow the Blooming Snow. Tulisan ’shut down’ yang jarang sekali dipilih – ’sleep’ saja, atau bahkan langsung tutup (haha, parah). Ketidaktahuan yang asing – tentang siapa yang tertidur lebih awal. Taksi. Penolakan sapa (baik di- maupun me-). Kartu telepon. Kecenderungan seseorang untuk merasa ‘lebih’ dibanding yang sebenarnya karena lingkungan yang sedikit ‘pasokan’, sehingga mau tidak mau ‘permintaan’ terhadap dirinya menjadi sangat tinggi. Ibadah yang tidak sempurna. Utang pulsa Rp 29.000,- ke T, L, B. Utang Rp 3.000,- ke tukang ojek. Piutang kembalian Rp 34.000,- di warung. Kebahagiaan yang meluap-luap. Idealisme. Mimpi. Adik asuh. Rahasia – karena itulah ia bernama, karena tidak perlu siapa pun tahu tentangnya. Foto dan video. Perempuan (saya, kamu, kita) yang terlalu berharga untuk didapatkan dengan mudah, siapa pun yang akan menikahinya nanti harus berjuang terlebih dahulu untuknya dan penuh syukur saat mendapatkannya. Kepalsuan. Kamera digital – baterai yang lupa diisi ulang. Pengakuan: saya tidak peduli dengan kasus-kasus itu, maafkan saya (biarlah mereka [para reptil dan artis berdempul itu] saling dusta, tetapi sekali lagi maaf, saya tidak ingin terseret prasangka). Tidur siang. Malam terang. Masa lalu. Masa depan. Saat ini. Analogi “Pause – [Buffering] – Play” dalam hidup.





