Lelaki tua tak bernama itu menatap batu nisannya sendiri
Lirih, “Aku memahatnya, dengan tanganku
dengan peluhku
Nanti, kau hanya usah tulis tanggalku tiada.”
Lirih, “Aku memahatnya, dengan tanganku
dengan peluhku
Nanti, kau hanya usah tulis tanggalku tiada.”
Merepih hati terisak terserak,
aku teredam diam
“Sore ini, aku mulai menggali liangku
Hingga nanti
kau usah baringkanku saja.”
Lelaki tua tak bernama itu berkata
sambil melipat rapi kafan putih
lalu meletakkannya di atas dipan bambu
Sesak,
tak kuasa kutahan bening mengalir
dari sudut mataku
Kugenggam perlahan keriput tangannya
Menjawab pintanya
lagi-lagi dalam diam
Kala malam purnama
Lelaki tua itu masih tak bernama
Pun dalam senyum terukir
Samar ia berbisik,
“Hadapkan aku ke kiblat.”
