masih jadi satu tanya
pernahkah ragu melindap rasuk hatiMu, Kasih?
atas setia sumpahku: tiada lain satu kecuali diriMu
sedang meski surat cintaMu tak jua bosan kurengkuh
mengusangkan helainya dengan sedu
dan tak kutemui melainkan kebenaran
satu tanya itu masih sergap menyelinap:
adakah sungguhnya Kau tak pernah percaya,
akan syahadatku?
pun jika benar adanya,
katakanlah
dengan apalagi harus kusemai rasa?
-sedang ilalang kering di sepanjang pandangku,
hanya menjelma namaMu-
atau cukuplah kau jawab:
ketika jumpa di Mahsyar nanti
akankah Kau teduhkan aku, Kasih?
sebab jika tidak,
aku tak perlu aku.
