
Sisakan seruang tanya pada jiwa, telah mampukah ia berhenti berdusta pada dirinya sendiri? Karena kejujuran nurani bukanlah sebatas hitam atau putih. Bukan pula semata ya atau tidak.
Jujur pada diri sendiri adalah mengakui ketika perasaan takut melanda. Bukan malah berlari karena tidak ingin merasakan getirnya rasa takut tersebut. Dosa itu posesif. Sedangkan usaha lari dari kenyataan serupa candu. Berlari dari kenyataan bukanlah gerak maju, melainkan diam. Sejauh apa pun, secepat apa pun.
Jujur pada diri sendiri bermakna mengakui kesalahan, bukan hanya mengutarakan pembenaran-pembenaran demi ketenangan hati. Kesalahan adalah mozaik terbesar pembelajaran, jadi usahlah salahkan selain diri. Karena bersembunyi dan berlindung dalam pembenaran pribadi pun terbaca sebagai dusta.
Jujur pada diri sendiri berarti meyakini suara hati. Mendengarkan bisikan sayup penunjuk arah langkah yang kadang di luar batas logika. Nan jika suatu saat nurani seakan bungkam, jangan langsung memakamkannya. Karena ia belum mati. Ia hanya meminta rehat dari riuh. Mengajak sejenak berbaring di rerumputan basah, bercengkrama kembali dengan bintang-bintang, hingga akhirnya hembus angin hadir membawa jawaban; pergilah. Pergilah ke mana hatimu membawamu.
Jujur pada diri sendiri ialah melihat dengan jelas apa yang disebut realitas. Pun melihatnya tidaklah dengan menengadah, menunduk, bahkan memalingkan muka. Tapi melihat adalah memandang jauh apa yang ada di dalam. Menggali makna, menghirup intisari. Karena pengetahuan dan realitas adalah dua dimensi relativitas.
Jujur pada diri sendiri yaitu menerima keberadaan cinta dalam hati. Bukan berusaha menepiskannya karena keengganan, ketakutan akan penolakan, atau ketidaksepadanan. Sebab mampu mencintai sepenuh hati pun adalah anugerah. Bukan pula mengumbar duka merasa diri tidak dicintai. Karena setiap belaian udara, air, tanah, hingga sinar rembulan, semuanya adalah pancaran cinta bagi setiap pengembara kehidupan.
Namun sejujurnya, jujur pada diri sendiri tidak lain merupakan proses kontinu memberanikan diri bertutur jujur pada nurani. Memang, terkadang justru kejujuranlah yang menoreh tinta hitam terbanyak dalam catatan ketiadaan. Ia terbias dengan luka. Padahal air mata kebenaran adalah oase hati terindah yang pernah ada.
…
“Ya. Ini untukmu, manusia angin. Kepada siapa semua mampu menyerahkan gundah, untuk kemudian memintamu menerbangkannya jauh. Karena tidak semua mengerti indahnya rasa sakit itu.”
…
Something takes apart of me. Something lost and never seen. Everytime I start to believe, something’s raped and taken from me. Life’s always gotta be messin with me. Sometimes I cannot take this place. Sometimes it’s my life I can’t taste. Sometimes I cannot feel my face. Something takes a part of me. Feeling like a freak on a leash. (Freak on A Leash – KORN Ft. Amy Lee)