
Sekarang begini saja, tak usah lagi berkalkulasi dengan rasa.
Sebab hidup tidak lain kurva nonlinear dengan variabel tak hingga.
Serangkaian iterasi eksponensial pun tiada mampu mengurai dinamika jiwa.
Karena hidup jika tidak degup tetapi pandang namun raba bukan decak melainkan hirup supaya duga sehingga langkah daripada desah maka hela adalah pejam meskipun rona bermakna damba seringkali genggam justru menggerai lalu khayal berakhir rebah mengubah tawa sebagai dusta.
Ya. Batas rasionalitas memang telah bias oleh relativitas.
Sederhana saja yang perlu kau lakukan. Pegang erat konstantamu.
: Nurani.
Tapi, ah. Segalanya kembali pada pertanyaan klasik itu;
“Pilih merasionalkan hati atau malah menuranikan logika?”
pertamax plus neh!! hehe..
biasa saya mah,, kalo postingan ka azka yg macem beginian butuh beberapa hari untuk dicerna,, jadi belom bisa ngasi komen,,
atau, entar malem makan nasi goreng dulu deh,, dimana itu tempat pernah membuat sejarah dengan memecahkan arti puisinya ka azka, heee^,^
By: ary on August 5, 2008
at 3:44 AM
tetapkan saja pilihanmu kak, meskipun saya tau memilih hal yang prinsip seperti itu sangalah sulit,
…
semoga kakak masih bisa berpegang pada nurani, seperti yang telah lama saya coba pelajari.
biarlah pagi membuang resah yang kadang berekonstruksi jadi gelisah. semua sudah di berikan jalan, jalan terus. hingga ratap tak lagi hinggap.
By: ahsani taqwiem on August 5, 2008
at 4:59 AM
Aku; lelaki lebih tertarik pada merasionalkan hati ketika kata-kata tak lagi mampu menjelaskan lagi derita realita yang begitu menggenggam logika nurani….
Hati ini mendamba rasa hingga tangis tertepis tawa dusta akan apa yang dirasa meskipun logika berkoar bahwa dirinya masih waras tapi apa yang mau di kata, aku terlanjur kehilangan visualisasi kebenaran…
….
selamat menempuh titik-titik hitam-putih kehidupan ya azk…
By: mas fei on August 5, 2008
at 5:15 AM
kurang ngerti maknanya..
hhe..
By: eckq on August 5, 2008
at 8:14 AM
@ecky :
kita senasib.. hehehe.. sama2 ga ngerti ^^
By: arazz on August 5, 2008
at 1:22 PM
Mungkin jawabannya bisa ditelusuri dari gambar keyboard yang ente post.
^logpsincos) = sin
dosa?
By: Bhro on August 5, 2008
at 4:02 PM
@azka: berat… otakku ga nyampe, hahaha…
By: ophie on August 5, 2008
at 4:39 PM
wei, nuraninya yang seperti apa? sebab hati dan otak kan variabel, tergantung yang ngisinya apa… karena hati dan otak variabel, maka logika dan nurani tidak akan bisa kontan atuh
By: Donny Reza on August 5, 2008
at 4:42 PM
eh, konstan maksudnya :p
By: Donny Reza on August 5, 2008
at 4:42 PM
*sotoy mode: on.
@semua yang mau dengerin kesotoyan saya: mari saya terjemahkan satu persatu. hha, berasa pelajaran bahasa indonesia. interpretasi puisi atau solilokui sebenernya hak pembaca. jadi kalo ga ngerti ya dinikmati aja alunan katanya. kalo bagi saya hal itu menyenangkan.
tapi saya lagi pengen ngupas ah. dengan keterbatasan yang ada, tentunya. hhe.
kalimat pertama sebenernya dimaksudkan agar kita lebih bisa menikmati hidup. perasaan-perasaan negatif yang ada dalam diri ga usah diitung, ga usah dianggep. capek.
kalimat kedua kayaknya jelas banget deh. hidup kan emang ga lurus alias nonlinear? variabel yang mempengaruhi jalan hidup kita pun macem-macem. ga bisa diitung alias tak hingga.
kalimat ketiga istilah iterasi kan mengacu pada metode penghitungan berulang pada matematika. eksponensial juga istilah matematika. jadi bagaimana pun cara kita menguraikan dinamika jiwa dengan keterbatasan kita sebagai manusia, ga akan pernah bisa.
kalimat keempat ini murni lingua poetica. kebebasan penulis. saya cuma menjabarkan kata kerja yang biasa dilakukan anggota tubuh “degup, langkah, hela, pejam, dsb” dan dikaitkan oleh kata-kata penghubung secara acak. maksudnya apa? ini menjelaskan bahwa ‘constraint’ dan jalan cerita dalam hidup tuh rumit.
kalimat kelima menjawab siapa pun yang bertanya “kok kayaknya kalimat keempat ga logis sih?” ya. rasionalitas emang bias kalo kita paham bahwa segala sesuatu itu relatif. contohnya abnormalitas, itu relatif. tergantung pada banyak hal, misalkan di satu budaya ada tindakan yang normal namun di budaya lain tidak. *ga berani ngelanjutin, takut makin sotoy*
kalimat keenam adalah jawaban bagi pertanyaan, “terus harus gimana dalam menjalani hidup yang tidak terduga ini?” sederhana saja. pegang erat konstantamu.
kalimat ketujuh memberi jawab pada yang bertanya, “apa konstantanya?” : nurani.
kalimat kedelapan dan kesembilan semua udah ngerti lah ya. ini pertanyaan dari tahun jebot yang sebenernya retoris. setidaknya menurut saya.
*sotoy mode: off.
@ary: pertamax plusnya mau berapa liter? traktir saya dulu lha, dijamin langsung ngerti. hha. ga denk.
@ahsani taqwiem: amiin. makasi wym. tapi alhamdulillah saat ini saya sedang sangat baik. lagi kumat aja kesotoyan berbahasanya. hhe.
@mas fei: haduh ga pantes lah saya interpretasi puisi padahal ada mas fei dan awym di sini. hho. eniwei, trims ya. well, udah saya duga lelaki akan memilih merasionalkan hati. =)
@eckq: setelah baca penjelasan di atas? *wink* lagian q, ntar kalo dapet metode kuantitatif bakalan eneg sama yang namanya iterasi. di programming juga ada sih istilah itu.
@arazz: kok ga ada peningkatan raz? kirain lo udah makin paham bahasa gw. hhu. =P
@bhro: GJ. *tongue out
@ophie: udah dipindahin neh komen nyasarmu. tumben phie ga nyampe?
@donny reza: menurut saya, nurani tau mana yang bener mana yang salah. dia anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk nunjukin manusia ke jalan yang bener. *merujuk postingan ‘predestination’ bahwa inilah alasan manusia ga bisa lagi ngeles belom dapet hidayah dsb. jadi (lagi-lagi) menurut saya, nurani itu konstanta kebenaran. suatu nilai tetap. tapi ini alesan asyiknya blogging, bisa banyak diskusi. makasi ya, mungkin saya yang salah, tapi kalo pendapat saya gitu. peace ah. hhe. ^^
By: azkaa,, on August 5, 2008
at 5:12 PM
hahaha..
susah.. otak gw susah mudengnya klo udah masalah bahasa sastra.. apalagi skrg gw jg lg banyak pikiran.. jdnya bahasa lw makin ketinggian buat gw.. jujur.. tanpa maksud menyakiti hati lw,, bagi gw, setingkat ama bahasa alien T_T
tp dikit2 gw pelajari kok.. tunggu aja bentar lg gw kuasai..hohoho
nah, kn enak klo lw intepretasiin.. gw jd ngerti ^^
By: arazz on August 5, 2008
at 11:35 PM
huehuehue….dasarrrrr deh si ka azka… paling demen bikin orang mikir dahsyatt baca postingannya… yowisss,,,,kalo aq milih merasionalkan hati aja ka…gimana???
oiya,,,gudlak yoo yg mo jln2 ke lombok,,, jgn lupaaa,,pesenan aq,, clorot,,he5
By: dey on August 6, 2008
at 2:16 AM
bagaimanapun segala hal di dunia ini pasti bisa dilogika, pertanyaannya adalah apakah ilmu kita sudah mampu melogika itu semua..
dalil naqli tidak akan pernah bertentangan dengan dalil aqli
but overall..tulisan kamu berat banget azk =p
By: fazlur on August 6, 2008
at 3:56 AM
berat Mbak… untung bukanya dah habis ada pembahasannya… langsung buka pembahasannya aja..
By: nurussadad on August 7, 2008
at 12:02 PM
Rangkaian kata yang penuh retorika…
alah!
Kok jadi mbulet gini…
Salam kenal, untuk mas/mbak Azka…
By: l5155st™ on August 7, 2008
at 1:31 PM
Baiklah, kita diskusi …
Pasti tahu kan makna dari kata “Ilah”? Nah, nurani (hati) dan logika seseorang dikendalikan oleh sesuatu yang menjadi Ilah-nya. Sebab, pada dasarnya, sesuatu yang mengendalikan manusia, maka sesuatu itu sudah menjadi Ilah. Maka, “benar” dan “salah” juga tergantung dari apa yang di-Ilah-kannya itu.
Sebagai satu contoh, Nazi. Bagi mereka, membunuh dan membantai Yahudi adalah panggilan nurani. Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina, adalah sesuai dengan nurani mereka. Lihat saja film-film Hollywood, jagoan mereka merasa paling bernurani setelah membantai ‘teroris’. Padahal, kita tahu siapa teroris yang mereka maksud.
Suku-suku kanibal di pedalaman kalimantan atau Irian, bagi kita tidak bernurani. Bagi mereka, itu sebuah kebiasaan, adat dan mereka tidak merasa ada masalah dengan nuraninya.
Barangkali yang azka maksud adalah fitrah. Persoalannya, fitrah juga bisa mati jika dijejali oleh ‘informasi’ yang salah terus menerus. Jadi, kuncinya ada pada informasi ini. Oleh sebab itu, hati dan akal sifatnya variabel. Sebab apa yang keluar dari hati dan akal (sikap, perbuatan, perkataan) berasal dari informasi yang diterima.
Hadits Rasulullah yang mengatakan “berfatwalah dengan hatimu” akan valid jika seseorang sudah menerima informasi yang benar/salah tentang sesuatu itu. Sebab informasi tersebut yang menjadi pembanding. Tanpa informasi itu, sama saja kasusnya dengan suku kanibal yang saya maksud.
By: Donny Reza on August 7, 2008
at 5:21 PM
merdeka!!!! kalo saya lebih milih menasionalisasikan bangsa aja,,,
By: yhadee on August 7, 2008
at 7:46 PM
hm…masuk FMIPA aja..lengkap…STK,MAT, Ilkom, Fisika…ada semua,…
By: weibullgamma on August 8, 2008
at 6:22 AM
baiklah. namanya juga perang di dalam diri. seperti yang dibilang tadi, banyak variabel-nya. jadi ya… gatau. ahahahhaa… puyeng, ka…
By: niez-nya adit on August 8, 2008
at 8:19 AM
azkaa,,:
Hahaha…di kepalaku sekarang cuma ada gimana caranya sukses melewati SP
yah ngerti lah dikit2, sapa dulu yang nularin aku bersastra ria, azka hehehe
By: ophie on August 9, 2008
at 9:07 AM
@Donni reza: Suku-suku kanibal di pedalaman kalimantan atau Irian, bagi kita tidak bernurani. Bagi mereka, itu sebuah kebiasaan, adat dan mereka tidak merasa ada masalah dengan nuraninya.
Maaf sebelumnya mas donni, kok nyambungnya ke sini, saya sedikit tersinggung ketika mas menyebutkan suku di pedalaman kalimantan itu kanibal, apa dasar mas menyebutkan seperti itu? apa mas pernah melihat sendiri mereka memakan manusia?
kami orang pedalaman kalimantan yang hidup selaras dengan dirimba, tak sekeji apa yang mas bayangkan…
kami hanya orang bodoh yang dikibuli orang-orang kota seperti mas *mungkin kalo mas orang kota* dan terpinggirkan di negerinya sendiri…
soal nurani atau apapun yang mas bahas di atas, sama sekali tidak bisa dinilai seperti itu, dan tidak ada korelasi dengan kebiasan, adat istiadat, jadi saya kira mas salah mengenai apa yang Saudari Azka maksud…
Maaf sebelumny Azk, blog kamu jadi seperti forum, kalo emg comment ini mau di hapus silahkan saja, trims
By: Mas Fei on August 9, 2008
at 5:26 PM
hmmm,,,,, akhirnya ketemu juga maknanya pas lagi nunggu giliran main pingpong kemaren,,
untuk statement terakhir,,
andai saya bisa memilih,, mka saya kan memilih
“merasionalkan logika dan menuranikan hati”
By: ary on August 10, 2008
at 6:38 AM
Aduh… teu ngartos ah Teteh
Kalo dah ngerti nanti aku balik lagi ke sini,, hehe
By: purmana on August 10, 2008
at 12:37 PM
@Mas Fei,
saya tidak bermaksud untuk menyebut seluruh suku pedalaman Kalimantan. Demi Allah, saya tidak bermaksud menuduh seperti itu. Tadinya, saya hanya ingin memberikan contoh bahwa di Kalimantan ada kanibalisme, tapi memang ada yang kurang pada kalimat saya. Saya memang tidak pernah melihat secara langsung praktek kanibalisme itu, tapi merujuk ke Sini, praktek tersebut memang ada, atau pernah ada. Tentu anda lebih tahu daripada saya.
Mohon maaf sebelumnya, ada kesalahan pada tulisan saya sebelumnya
Sekali lagi mohon maaf jika kalimat saya menyinggung mas fei dan yang lainnya.
Persoalan nurani dan adat atau kebiasaan, justru menjadi sangat relevan mas. Malah semakin menguatkan teori saya bahwa nurani bisa menjadi mati apabila dijejali oleh informasi yang salah terus menerus.
By: Donny Reza on August 10, 2008
at 2:04 PM
oh begitu, memang kata bisa jadi bisa dalam bisu
By: awym on August 11, 2008
at 4:09 AM
@Donny reza: Terima kasih kang donny, saya juga minta maaf!!…Tapi memang bicara masalah tersebut menimbulkan berbagai persepsi bagi orang yang tidak mengetahuinya, mengenai rujukan yang Anda sertakan, tidak serta merta dapat menjadi rujukan, karena tidak jelas sumber informasinya, seperti yang Anda bilang informasi yang salah dapat berakibat fatal, yakni matinya nurani.
Saya cuma ingin menekankan bahwa kanibal yang Anda maksud, sama sekali bukan bagian dari Adat budaya, Kebiasaan, atau pun terjejalinya otak kami dengan informasi yang salah…Akan tetapi rumor yang mengatakan orang dayak itu makan manusia adalah tidak sepenuhnya benar, kami benar membunuh manusia, saat kami membela dan melindungi hak-hak kami, dari orang yang berniat tidak baik. kami cuma tidak mengenal agama itu saja bukan berarti kami tak punya nurani.
Banyak orang yang mengaku beragama yang benar, maaf contohnya Islam, tapi apa mereka masih bisa dibilang punya nurani? mereka membunuh, korupsi, mencuri, merampok, memperkosa, dll sebagainya.
jadi berbicara nurani tidak bisa sesederhana memberikan contoh, tapi perlu dilihat secara keseluruhan bagaimana nurani itu terbangun secara benar. dan Nurani yang benar itu bersumber hanya dari Allah, bukan karena adat, kebiasaan, ataupun informasi yang disesatkan.
Kanibalisme, pembunuhan, perampokan, adalah sebuah hasil dari akumulasi persepsi, pengetahuan, sikap dan variabel x yang sangat relatif, jadi…
Masihkah saya bertanya apakah nurani saya ditentukan oleh itu semua?
salam
By: Mas Fei on August 11, 2008
at 9:03 AM
@Mas Fei
Pembantaian ribuan orang Madura di Kalimantan 2000-2001 tidak pernah terjadi tidak ya mas?
Alasannya apa coba???
“mikir”
yaitu untuk membela dan melindungi hak-hak rang-orang ***** walaupun dengan cara membunuh dan mengusir paksa ratusan ribu orang dari tempat dia bermukim, merebut dan mengklaim properti orang lain dan bahkan dengan bangganya menunjukkan hasil kepala sesembelihan korbannya.
Benar-benar orang D***k memiliki hati nurani yang agung dan bersih dari kekotoran/kebejatan orang-orang kota.
Asli orang pedalaman Kalimantan Mas Fei?
mencuri, membunuh, korupsi, memperkosa di negara terjadi diseluruh dunia Mas fei, bahkan banyak yang lebih parah dengan membungkus dengan ideologi aatu agama tertentu.
contoh: ketika pembantaian etnis Tutsi di Rwanda, etnis Hutu direstui penuh oleh Uskup Katolik lokal.
Anda sekonyong-konyong langsung menyebutkann sebuah fenomana sosial dan langsung mengaitkan dengan Islam, tanpa merujuk kepada data dan fakta yang ada, maksudnya apa?
Apakah tidak ada yang mempermasalahkan Hitler adalah penganut Katolik yang taat? pihak gereja Katolik diam seribu bahasa ketika terjadi Holocaust.
“jadi berbicara nurani tidak bisa sesederhana memberikan contoh, tapi perlu dilihat secara keseluruhan bagaimana nurani itu terbangun secara benar. dan Nurani yang benar itu bersumber hanya dari Allah, bukan karena adat, kebiasaan, ataupun informasi yang disesatkan”
Maksudnya apaan sih tulisan diatas, njelimet banget@!#!@%@#%@# naruni terbangun?????
Berbicara mengenai definisi nurani jelas tidak relevan dengan darah yang sudah ditumpahkan.
Everyboy entitled to have their own opinion but not everybody entitled to their own fact.
Salam
By: Ahmad on August 11, 2008
at 10:49 AM
Walah, jadi panjang begini… My Fault. Maaf, ya Azka. Tadinya mau menjawab lagi, tapi nanti malah semakin panjang dan bikin yang punya blog nggak nyaman… kecuali diijinkan sama yang punya blog.
@mas fei dan ahmad, salam dari saya…
By: Donny Reza on August 11, 2008
at 3:03 PM
@arazz: alien? hha. u’re exaggerating, bro. *grin* tapi emang sih, lucu juga kalo lo tiba-tiba bikin puisi. WAW!! pasti tentang minyak deh. =P
@dey: terserah dey, menurutku itu retoris, hhe. lombok ya? sampe aku sms kamu emang rencananya gitu. tapi banyak yang meragukan keamanannya gitu kalo cuma dua cewek ke jogja bali lombok. akhirnya ubah rencana jadi cirebon jogja kayaknya.
nunggu punya satpam dulu aja deh, hhe.@fazlur: saya ndak menafikkan bahwa segala sesuatu bisa dilogika zlur. saya bilang, batas rasionalitas bias (bukan hilang) dengan adanya relativitas. kayak misalnya dulu waktu belajar teori relativitas waktu yang soalnya “ada dua anak kembar, yang satu pergi dengan pesawat berkecepatan melebihi kecepatan suara dll yang pertanyaan akhirnya berapa beda umur keduanya” itu lho. kan kayaknya aneh, padahal terbukti dengan teori einstein tersebut. siph pak? hho.
@nurussadad: haiyah. gapapalah setidaknya aziz masih mau baca. =P
@I5i55st: huwaaa. saya dipanggil mas. T_T hhe. panggil azka aja. mas/mbak itu rahasia. becanda denk.
@donny reza: mungkin ada perbedaan dalam cara pandang kita, tapi makasih banyak udah mau diskusi. saya sangat menghargainya. hhe.
@yhadee: yah si akang. oke, MERDEKA! =D
@weibullgamma: huhuhu. dulu sempet pengen masuk fisika, tapi ga jadi deh. kasian otak saya. hha.
@nieznyaadit: itu dia niez.. AKHIRNYA! nongol jugak dirimu..
@ophie: iya, kamu yang ngobrak ngabrik binder isi curhatanku ya tau rasa kalo ketularan..
@mas fei: gapapa banget kok, selama ga ada kata-kata kasar saya asyik-asyik aja blog saya jadi forum. hhe.
@ary: kapan-kapan lawan pingpong sama saya mau ndak? hhe.
@purmana: ndak apa pur. saya yang justru sering jiper baca blogmu yang bermutu ituh. hhe.
@awym: begitulah wym. saya pun sekarang sadar akan hal itu. meski bisa kata bisa ruap dalam dua: bisu maupun riuh. bukankah begitu?
@ahmad: maaf mas, tapi saya pikir hal ini tidak perlu dilanjutkan ya pembahasannya? ini berawal dari karya saya yang tentunya mengandung banyak kelemahan sehingga banyak interpretasi yang berbeda. salam. ^^
@donny reza: =)
By: azkaa,, on August 11, 2008
at 3:06 PM
ya elah,, ga bakal ampe sgitunya kali..
hahaha…
lw belom pernah liat puisi bikinan gw yah??
hhahaha.. pasti lw bakal terkagum2 deh.. hahaha
oia,, masalah di lombok.. ternyata disana emang berbahayaa… di pelabuhannya banyak preman..
itu kata temen2 gw yg ksana..
temen gw juga ada yg ngajakin k jogja..
but.. pekerjaan numpuk disini..so tak bisa ikutan.. T_T
By: arazz on August 11, 2008
at 3:38 PM
hehehe betul masih perlu mencerna lebih dalam untuk pemilihan diksinya. tapi kurang lebih ngerti deh. hehehe… saya pilih nurani untuk kemudian logika. emang agak lemah dalam berpikir saya sepertinya
By: japspress on August 13, 2008
at 1:04 AM
hmm™
saya kok ndak paham kenapa bisa terjadi ribut-ribut di atas
apa ada rebutan laptop gratis yak?
my mind is so simple…
By: ghaniarasyid™ on August 13, 2008
at 3:31 AM
azka…
gue gak ngerti maksudnya apa??!!
hohoho…
By: SAWLS on August 15, 2008
at 9:33 AM