
Sekarang begini saja, tak usah lagi berkalkulasi dengan rasa.
Sebab hidup tidak lain kurva nonlinear dengan variabel tak hingga.
Serangkaian iterasi eksponensial pun tiada mampu mengurai dinamika jiwa.
Karena hidup jika tidak degup tetapi pandang namun raba bukan decak melainkan hirup supaya duga sehingga langkah daripada desah maka hela adalah pejam meskipun rona bermakna damba seringkali genggam justru menggerai lalu khayal berakhir rebah mengubah tawa sebagai dusta.
Ya. Batas rasionalitas memang telah bias oleh relativitas.
Sederhana saja yang perlu kau lakukan. Pegang erat konstantamu.
: Nurani.
Tapi, ah. Segalanya kembali pada pertanyaan klasik itu;
“Pilih merasionalkan hati atau malah menuranikan logika?”