Siapa bilang mengadaptasi buku menjadi sebuah film adalah pekerjaan mudah?

Tidak ada. Karena buku adalah sarana bagi siapa pun untuk mengembangkan imajinasi saat menerjemah setiap kata yang dikandung. Sedangkan imajinasi yang berkelana di setiap ruang pikir pembaca ialah sesuatu yang berada di luar daya duga. Interpretasi yang berbeda tentu menghadirkan ekspektasi yang berlainan pula. Apalagi jika karya tulis yang hendak dijelmakan menjadi tayangan audio visual adalah buku best-seller. Tuntutan berbagai pihak yang menuntut kesempurnaan film adalah tekanan tersendiri untuk para sineas yang terlibat.

Itulah mengapa saat akan menyaksikan pemutaran film Laskar Pelangi, saya berusaha menepikan terlebih dahulu bayangan yang telah terlanjur terpatri mengenai kisah anak-anak Belitong pengejar mimpi itu. Lalu bersama lebih dari seratus penonton di studio, saya hanyut dalam alur cerita yang mengalir mudah dicerna.

Jika kemudian saya membandingkan dengan bukunya, justru saya harus memberi aplaus pada Riri Riza dan kawan-kawan. Bagaimana tidak, jika ada yang telah membaca novel Laskar Pelangi tentu mengetahui bahwa Andrea Hirata menuliskan parade nostalgianya dalam bentuk deskripsi pada hampir separuh permulaan cerita. Satu per satu, Andrea dengan sangat rinci merunut gambaran kondisi sekolahnya, Pak Harfan, Bu Muslimah, pulau Belitong secara umum yang juga mencakup Unit Pertambangan Timah dan segala paradoks di dalamnya, lalu tentang Laskar Pelangi itu sendiri. Dua kawannya yang paling istimewa, Mahar dan Lintang bahkan mendapatkan masing-masing satu bab penuturan.

Andrea Hirata juga memilih sudut pandang orang pertama dalam teknik penulisan (kecuali pada bab terakhir, dimana salah satu kawannya, Syahdan secara tiba-tiba dipakai sebagai tokoh ‘aku’), sehingga pasti akan sukar dalam mengejawantahkan opini pribadinya ke dalam film layar lebar. Mozaik-mozaik kenangan yang ada dalam buku pun dirangkai dalam suatu kesatuan yang sebenarnya berdiri sendiri-sendiri. Bahkan dalam beberapa bagian kisah, Andrea menawarkan alur mundur yang lantas kembali melompat ke masa kini. Hal ini bukan merupakan masalah dalam penulisan novel, namun berbeda halnya dengan film. Orang-orang ‘dipaksa’ duduk manis selama dua jam di depan layar tentu tidak untuk menyaksikan potongan-potongan terpisah. Tidak peduli betapa menariknya setiap potongan itu. Karena itulah film Laskar Pelangi memang harus mendapatkan beberapa penyesuaian.

Penyesuaian pertama adalah pembentukan plot baru sebagai garis besar cerita. Dalam film, kesepuluh anak yakni Ikal, Lintang, Mahar, Samson, A Kiong, Trapani, Syahdan, Sahara, Harun, dan Kucai adalah angkatan terakhir di sekolah Muhammadiyah. Sehingga pada penceritaan karnaval seni 17 Agustus, saya tidak dapat menampik sedikit rasa kecewa karena penampilan mereka tidak semarak tarian suku Masai seperti dalam buku. Bayangkan, saya masih dapat mengingat gempitanya sekolah Muhammadiyah saat Andrea mengutip perkataan Mahar, “Lima puluh penari! Tiga puluh penabuh tabla!” Imbas dari membuat perubahan bahwa mereka menjadi angkatan terakhir sekolah, maka di film yang ada hanya beberapa anak berhias dedaun yang melakonkan koreografi sederhana.

Berbagai penyederhanaan pun terdapat dalam fragmen-fragmen lain. Terutama saat adegan cerdas cermat yang dahulu saat membacanya membuat saya mabuk kepayang dalam kekaguman terhadap Lintang. Dalam bab “Detik-Detik Kebenaran” versi buku, Ikal dan kawan sekelasnya memang diceritakan sedang mengenyam pendidikan menengah pertama. Namun demi penyederhanaan tersebut, dalam film mereka diceritakan masih berada di sekolah dasar. Dengan demikian, memudarlah harapan saya untuk menyaksikan argumentasi Lintang tentang cincin Newton yang membuktikan kesalahan teori warna René Descartes, Aristoteles, dan Robert Hooke di depan majelis cerdas cermat itu. Sejak semula Lintang memang merupakan tokoh favorit saya. Kecerdasannya yang membuat ia mafhum akan filosofi diferensial, integral, operasi pohon Pascal, Dalil Geometri Euclidian, Teorema Morley, mengurai solusi linier dengan metode Gauss-Jordan atau Crammer, dan sebagainya semasa SMP adalah daya tarik tidak tertepis bagi siapa pun. Karena bagi saya pribadi, beberapa di antara pengetahuan itu bahkan baru saya dapatkan saat menduduki bangku kuliah. Namun kepandaian multidimensional yang Lintang miliki sebagai daya tarik itu pula yang akhirnya memurukkan hampir setiap orang pada palung kekecewaan saat ia harus berhenti sekolah tersebab alasan klasik: biaya.

Di luar ketidaksesuaian akan ekspektasi saya yang mungkin subyektif tersebut, film ini patut dinominasikan sebagai pemenang penghargaan industri film, khususnya dari segi sinematografi. Apalagi dengan latar alam Belitong yang sempat membuat saya terkesiap dan mencatat dalam hati, “Saya harus ke Belitong suatu hari nanti!” Pesona Pangkalan Punai dengan batu-batu raksasanya yang menghiasi pinggir pantai sebagai batas Laut Cina Selatan adalah lukisan lanskap indah tidak terperi. Pun tarikan-tarikan emosi dalam deretan klimaks film, yang meski menurut saya serba tanggung sehingga kurang mampu menguras air mata, tetap pantas diapresiasi. Terutama pemeran tokoh kepala Sekolah, Pak Harfan (Ikranagara) dan Bu Muslimah (Cut Mini). Cut Mini berhasil menghidupkan lakon Bu Muslimah sebagai wanita tegar berdikari yang mengabdikan diri pada kecintaan akan dunia pendidikan. Ada pun tokoh rekaan yaitu Pak Zulkarnain yang diperankan aktor senior Slamet Rahardjo tidak mengubah esensi cerita sama sekali.

Sejumlah adegan yang sengaja didramatisir juga memadu penonton dalam tawa berjama’ah. Terutama ketika Ikal mendapati dirinya sedang jatuh cinta pada A Ling, anak pemilik sebuah toko kelontong. Ruang bioskop juga diramaikan dengan tepuk tangan sewaktu tim SD Muhammadiyah memenangkan perlombaan cerdas cermat. Jika saya diizinkan merangkum film Laskar Pelangi ini dalam satu kata, maka kata tersebut adalah ‘menghibur’. Suatu hembusan angin segar di antara riuh film Indonesia yang semakin jenuh dan monoton.

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Raih bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia
Selamanya

(Nidji – Laskar Pelangi)