Posted by: azkaa,, | October 8, 2008

penuh warna

Perhatian: postingan ini bukan dimaksudkan mengangkat perbedaan agama, melainkan hanya untuk berbagi kisah.

 

Alexandra, Polandia. Ibu satu anak. Mu’alaf. Menikah dengan orang Syria.

Tatiana, Rusia. Ikut suaminya yang bekerja di perusahaan minyak.

Diana, Armenia. Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional.

Rania, Amerika. Mahasiswi Ilmu Komputer. Berjilbab.

Azka, Negara Kesatuan Republik Depok. Begitulah.

Kelima nama yang seluruhnya berakhiran alfabet A itu adalah ‘geng gosip’ di level tiga Institut Bahasa Arab untuk Pendatang, Syria. Setiap waktu istirahat kami berkumpul dan bercengkrama, dalam bahasa Inggris tentunya. Hal ini dikarenakan kemampuan bahasa Arab kami belum memungkinkan untuk taraf menggosip. Ada banyak kawan lain di kelas saya, di antaranya berasal dari Turki, Australia, Prancis, Brazil, Malaysia, Swiss, Korea, Cina, dan Jepang.

Akan tetapi, hanya lima orang di atas itulah yang biasanya memilih berdiam di ruang kelas ketika waktu istirahat. Alasan kami sama, di luar PANAS. Nah, banyak percakapan antara kami yang karena menarik, masih saya ingat hingga kini.

Diana: “Omong-omong, apa sih arti Yaumiddin?”

Azka: “He? Maksudmu secara harfiah?”

Diana: “Yang dimaksud dalam surat Al-Fatihah. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Malikiyaumiddin. Nah itu.”

Alexandra: “Kamu seorang muslim?”

Diana: “Bukan. Hanya saja, saya memang hafal surat Al-Fatihah.”

Azka: “Apa ini ada kaitannya dengan studimu di bidang Hubungan Internasional?”

Diana: “Ah, tidak juga. Jadi, apa artinya?”

Azka: “Begini. Dalam agama Islam, ada hari yang disebut hari akhirat. Hari dimana semua manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Hari akhir ini memiliki banyak nama, Yaumiddin, Yaumul qiyamah, Yaumul hisab, dan sebagainya. Malikiyaumiddin berarti pemilik hari pembalasan, yaitu Allah.”

Diana: “Lalu apa yang dimaksud dengan Rabbil’alamin?”

Kali ini Rania yang menjelaskan.

Di kali lain;

Alexandra: “Saya sudah tidak dianggap lagi oleh keluarga saya setelah saya memeluk agama Islam.”

Tatiana: “Memangnya kamu masuk Islam karena apa?”

Alexandra: “Awalnya karena suami saya dulu bilang bahwa ia tidak akan menikahi saya jika saya tidak mau menjadi seorang muslim. Namun selanjutnya saya sadar bahwa Islam memang agama yang benar untuk dijadikan jalan hidup.” Ia kemudian memamerkan liontin kalungnya yang bertuliskan Allah.

Azka: “Jadi kamu kawin lari?”

Alexandra: “Ya. Pernikahan saya tidak diramaikan dengan perayaan. Namun tetap dihadiri saksi dan sebagainya sesuai aturan Islam.”

Azka: “Wow, keren! Bagaimana denganmu, Tatiana? Kamu juga kawin lari?”

Tatiana: “Tidak, saya menikah di gereja. Semua juga sudah direncanakan sebelumnya. Hei, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu senang sekali mendengar kata kawin lari? Haha.”

Memang, banyak topik seputar Islam yang menjadi bahan diskusi geng gosip ini. Mulai dari kesan keliru bahwa Islam merendahkan perempuan, masalah poligami, perpecahan sesama umat Islam, pernikahan beda agama, dan sebagainya. Saya dan Rania pun mencoba menjelaskan semampu kami dalam hal ini. Alexandra adalah mu’alaf, jadi ia malah lebih sering bertanya.

Selain dengan geng gosip, percakapan serupa pernah saya alami dengan seseorang dari entah negara apa karena saya hanya bertemu dengannya kali itu saat menunggu sesuatu, sebut saja Miss X;

Miss X: “Saya tidak suka melihat wanita-wanita yang berjilbab tapi pakaiannya ketat. Jika ingin memakai jilbab, pakai dengan benar! Jika belum siap memakai sesuai syariat, lebih baik tidak usah pakai jilbab!”

Azka: “Maaf sebelumnya, apakah kamu seorang muslim?”

Miss X: “Ya! Saya mengaku saya belum siap memakai jilbab, jadi lebih baik saya tidak memakai daripada malah menjelekkan citra orang berjilbab.”

Azka: “Nah, kalau begitu kamu pasti paham bahwa apa yang diterapkan sehari-hari oleh para pemeluk Islam adalah tanggung jawab masing-masing terhadap Allah. Agama Islamnya sendiri tetap sempurna. Jadi perilaku segelintir orang tidak boleh digeneralisasi.”

Percakapan masih berlangsung panjang. Saya dengan kapasitas pengetahuan Islam terbatas agak kaget juga ternyata banyak orang-orang di luar yang dengan semangat membicarakan Islam.

Satu hal lagi yang menarik mengenai percakapan seputar Islam saya alami dua hari sebelum kepulangan saya ke Indonesia. Salah satu kawan sekelas yang juga cukup akrab dengan saya adalah Misun. Ia berasal dari Korea. Telah semenjak dua minggu sebelumnya, Misun terus mengajak saya pergi berdua. Namun permintaannya baru dapat saya penuhi dua hari sebelum pulang, itu pun karena terus ditelepon.

Kami bertemu di depan Fakultas Kedokteran Universitas Damaskus di daerah Mazzeh. Setelah itu Misun mengajak makan di restoran Italia yang mewah. Misun tidak dapat mengobrol dalam bahasa Inggris, sedangkan saya tidak bisa bahasa Korea, sehingga percakapan kami terjadi dalam bahasa Arab. Di tengah perbincangan, Misun tiba-tiba bercerita tentang keluarganya;

Misun: “Pernah suatu kali, ibu saya sakit keras. Saya dan saudara-saudara selalu mendoakannya. Saya bahkan pergi ke gereja dan membayar sekian dolar demi kesembuhan ibu saya. Saya terus meyakinkan ibu saya bahwa agama yang selama ini dianutnya tidaklah benar, Yesuslah kebenaran itu. Ia harus percaya pada Yesus jika hendak mendapat kesehatannya kembali.”

Azka: “Memang ibumu beragama apa?”

Misun: “Ia beragama Budha. Nah, (dipersingkat) akhirnya ibu saya percaya pada Yesus dan berangsur-angsur sembuh.”

Azka: “Oh. Tapi saya senang mendengar ibumu sudah sehat.”

Misun: “Ya. Kamu tahu peristiwa ketika Yesus disalib?”

Azka: “Tentu. Tapi versi agama kami berbeda dengan versi agamamu.”

Misun: “Nah, itu adalah peristiwa dimana Yesus mengorbankan dirinya demi menebus dosa-dosa umat manusia. Sehingga kita berutang jasa (kurang lebih Misun berkata demikian, persisnya saya lupa) pada Yesus. (Bla bla bla hingga mencapai bab Trinitas).”

Azka: “Maaf, katamu tadi Yesus adalah Tuhan. Tapi ia punya Bapa yang disebut Tuhan juga? Lalu mengapa tiga bisa disebut satu tapi tetap tiga? Err, saya tidak mampu mencernanya.”

Misun: “Memang ada hal-hal yang harus dipahami dengan hati. Pahamilah hal ini, ini semua sangat penting. Saya memberitahumu karena saya suka padamu dan saya mau kita bertemu lagi di Surga nanti bersama Yesus. Kamu akan berkata padaku, ‘Misun, terima kasih dahulu kau memperkenalkanku pada Yesus.’ Pikirkanlah tentang hal ini, ya?”

Azka: “Sama sepertimu, saya pun punya keyakinan kuat mengenai agama saya. Tapi apa yang kamu sampaikan telah menambah pengetahuan saya,” sambil tersenyum.

Saya menikmati pembicaraan tersebut. Apalagi seluruh makanan dan minuman di restoran itu juga dia yang membayar, hehe. Jadi ketika selanjutnya ia mengeluarkan sebuah injil berbahasa Arab dan dua keping CD tentang kisah hidup Yesus, saya pun berterima kasih dan berkata bahwa ini akan saya simpan sebagai kenang-kenangan. Lalu kami pun berpelukan dan berpisah pulang. Saya masih mengikuti langkahnya sebelum kemudian ia menghilang menuruni tangga terowongan penyebrangan. Matahari bersinar terik seperti biasa. Saya menghentikan angkutan jurusan Dawar Syimali, menuju asrama.

Ya. Hidup di tengah perbedaan itu menyenangkan. Setuju? ;-)


Responses

  1. Hmmm…. jadi pengen ke Turki. Loh, ga nyambung…
    Salut sama si Misun, betapa militannya dia…

  2. ALLAH akbar … setiap kali melihat perbedaan, saya merasa kayanya ALLAH :)

  3. wah, seru juga yah klo udah diskusi ttg agama..
    sejak kuliah udah jarang nih, diskusi2 lg..
    jd pengen..

    hmm..misun niat banget yah..

  4. Hmmm….jadi pengen keluar negeri

  5. perbedaan itu indah lho…..

  6. kak,,kakkk,,namaku juga belakangnya A tapi kok ga ada disana ya? :P

  7. klo ada yang sanggup menanggung biaya hidup saya selama diluar, jiwa raga ini saya seraahkan, *merasa aneh sendiri*
    eh bukan ding, artinya saya ikut saja dibawa kemana saja, mau turki, mesir, dll
    hehehe. OOT

  8. @mang kumlod: cewek turki cantik-cantik lho. cowoknya ganteng-ganteng. (lebih ga nyambung ya? hhe)
    iya, misun militan banget. tapi kami banyak ngobrol hal lain juga kalo hari-hari biasa. =)

    @rindu: iya mbak, subhanallah. ^^

    @arazz: iya, malu juga lho, orang di luar banyak yang semangat ngomongin Islam demi nambah terus pengetahuannya. masak kita nggak? hhu.

    @ophie: liburan semester depan? =P

    @myryani: iya dunk. kebayangkan betapa membosankannya dunia kalo semua adalah sama.. =)

    @aisha: aachan level 6 kali? tingkatan tertinggi.. ya ndak ketemu, hhe..

    @ahsani taqwiem: saya juga punya mimpi keliling dunia wym, insyaAllah bisa.. kita tinggal minta sama Sang Maha Kaya, Maha Pengabul Doa, Maha Berkehendak.. amiin..

  9. Dalam diskusi-diskusi di beberapa forum, masalah ‘terbesar’ dari saudara2 yang kristiani adalah sulitnya mereka menjelaskan/meyakinkan saudara2 yang muslim perihal ketuhanan Yesus atau Trinitas. Dan memang tidak pernah memuaskan karena terasa tidak logis bagi muslim.

    Umat Islam sejak kecil ditanamkan bahwa Allah itu ‘Almighty’, Maha Kuasa, serba Maha… sementara, kalau melihat kehidupan Yesus, anti-tesis Tuhan itu ada pada Yesus semua. Allah tidak mengantuk, Yesus tidur … Allah tidak lapar, Yesus makan … Allah Kekal, Yesus (pernah) Mati. Selain itu, bagi umat Islam, penjelmaan menjadi manusia adalah bentuk sebuah ‘penghinaan’ diri terhadap ’sosok’ Tuhan itu sendiri, karena ya itu, anti tesisnya tadi. *haks, ngelantur nih kayaknya*

  10. setuju banget mbak..perbedaan itu emang indah….

  11. iya.. emang cukup memalukan..
    tapi, belum dapet kesempatan eui ^^

  12. yaaa… yaaa… yaa….
    lagi2 cerita azka bagus bgt, membuka cakrawala…
    thx ka

  13. Setuju deh, daripada ditimpukin. Hehe…

    Wah, sepertinya saya jadi lebih tahu siapa azkaa lewat tulisan ini.

    Lain kali bawa oleh2 klo jalan2 ya. hehe..

  14. assalaamu’alaykum
    mba, ini dalam rangka apa siy ke Syria?
    hikhik, telat tau ni…
    btw subhanallaah, seru sekali siy pengalamannya… >_<

  15. Mantab ceritanya.

    Pas ane masi 1st or 2nd year ane pernah beberapa kali juga didatengi dikamar buat ngajak pergi ke acara2 rohani agama laen, beberapa kali diajak debat juga dll. Hahaha, sayang dulu masi kolot, jadinya tiap ada yang ngajak kek gitu ane pisuhi sambil mencak2….

    Mata-e sob*k, minta digorok ya? aku pake sarung kupluk kek gini ente ajak ke acara agama ra nggenah

    Bahkan ada yang pernah ane pisuhin janc** juga…. dan sekarang hubungan kita malah jadi awkward.

    Hahaha, tapi itu dulu…. sekarang kalo ada yang ngajak kek gitu lagi emang mending dijawab dengan sopan.

  16. @donny reza: iya, demikian. =) cuma saya cenderung ga memaksakan argumentasi kalo tentang agama. jadi dianggap ngobrol aja. banyak punya temen deket yang beragama lain juga soalnya.

    @novnov: iya, indah. asalkan dipadu dengan harmoni, hhe.

    @arazz: bukan masalah diskusinya sih raz, tapi semangatnya. dan semangat mencari tahu inilah yang mungkin harus kita tingkatkan. eia, maksud gw ngomong gini buat gw juga lagi, boss. =)

    @sagoelueuser5: makasih kak. mudah-mudahan ada manfaatnya, amiin. hhe.

    @berli: setujunya kepaksa neh? siapa azka? hha, selama ini ga jelas ya emang? insyaAllah, doakan saja saya semakin sering jalan-jalan. huhui.

    @awisawisan: wa’alaiki salam. dalam rangka jalan-jalan wis, hhe. ga denk. iya alhamdulillah, semoga akan makin banyak pengalamannya. awis juga. ^^

    @bhro: hmm, di singapura banyak yang demikian ya? di depok jarang soalnya (ya iyah! hhe). selama ini hubungan sama temen-temen agama lain juga baik-baik aja. aku gak bisa misuh-misuh soalnya. dan ga kepengen juga. *nyengir

  17. fiuh…
    alangkah berbeda ya kehidupan di sini dengan disana.
    salut deh mba ama postingan mba.
    sama sekali ngga ada nada menghujat.
    hukum asal dakwah adalah lemah lembut…
    Republik depok ya?
    saya (hampir) punya kaka di daerah mandorsanim. th daerah itu mba?

  18. kadang saya bingung sama siyapa saya bisa diskusi begituan. uhuhuuu…

  19. @bayu200687: alhamdulillah, terima kasih. =) iya donk, republik depok. hhe. daerah mandorsanim ya? depok sebelah mana? hhu, kurang tahu. ^^

    @niez-nya adit: sama adit aja niez, huhuhu. =P

  20. Saya beragama Katholik, teteapi saya kurang setuju dengan apa yang di perbuat MISUN.
    Karena Misun telah dengan halus seperti memaksakan apa yang “dipercaya´´ nya.
    Karena kepercayaan itu sifatnya pribadi..dengan semua pengalaman iman didalam kehidupan..
    Salut dari saya buat Mbak Azkaa, dan salam kenal :)
    Semoga kita dapat dengan damai hidup dalam perbedaan :)

  21. mandorsanim kayaknya antara kukusan ma ui deh.

  22. @RMY: wah, terima kasih atas komentarnya. salam kenal juga, dan ya semoga kita dapat hidup damai dalam perbedaan. ^^

    @bayu200687: ah, iya saya tau. hehe.

  23. nice story..

  24. @ecky: makasih ecky.. sibuk ya? blognya kok lama ndak diapdet.. ^^

  25. Subhanallah…
    Kisah yang indah :)

    Bisa dibukukan/dinovelkan mungkin?
    Seperti Andrea Hirata.

  26. @ghani arasyid: alhamdulillah.. nantilah dibukukannya, nunggu pengalamannya banyak dulu.. hehe..

  27. weeehhhheeee jadi addict nih ngeresponse blog ente ka

    senna, republik ganesha, tidak berjilbab

  28. @shdwknght: baguslah sen, hoho. yaiyadeh tidak berjilbab, nanti kalah cantik yang lain. et ntar dulu, masih kumisan ga lo sen? =P

  29. Bagus bagus. Trus menulisnya jangan berhenti berkarya ya ka.. Gak main arung jeram lagi?


Leave a response

Your response:

Categories