
Dalam salah satu mailing list yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi mengenai pengemis di negeri ini. Ada pun mereka yang terlibat diskusi umumnya tidak setuju akan keberadaan pengemis. Mengutip perkataan wartawan yang satu ini, pengemis adalah salah satu kesalahan jika dilihat dari segi tatanan masyarakat. Saya setuju, bahwa pengemis memang sedapat mungkin ditiadakan. Karena perbandingan jumlah pengemis kemungkinan besar merepresentasikan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu wilayah. Sehingga persoalan pengemis merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua untuk segera diselesaikan.
Pengemis, berbeda dengan pengamen, adalah orang-orang yang ‘memanfaatkan’ keterbatasan mereka sebagai cara untuk meminta belas kasihan orang lain. Sepanjang pengamatan saya yang sering menggunakan jasa angkutan umum termasuk kereta rel listrik (KRL), para pengemis di Jabodetabek terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu:
- Para lanjut usia yang telah berada di luar masa produktif atau pun ibu-ibu dengan bayi di gendongan dan anak kecil yang juga ikut bersama mereka. Biasanya mereka duduk di pinggir stasiun dekat loket pembayaran tiket, di pinggir gang, di sebelah pintu masuk tempat umum, di jembatan penyebrangan, dan sebagainya.
- Para penyandang cacat. Dalam hal ini berarti orang-orang yang buta, anggota tubuh seperti kaki tidak lengkap atau tidak berfungsi sempurna, atau pun penderita luka parah.
- Anak-anak kecil berpenampilan kumuh.
- Pembersih lantai KRL yang hampir setiap menit berhenti menyapu untuk meminta ‘upah’ dari penumpang atas jasanya tersebut.
- Para peminta yang mengatasnamakan suatu yayasan. Beberapa di antara mereka menggunakan pengeras suara seadanya untuk mengumumkan asal yayasan mereka dan menggunakan kotak sumbangan. Sedangkan yang jauh lebih banyak adalah mereka yang membagikan amplop bertuliskan nama yayasan di atas pangkuan para penumpang yang sedang duduk, lalu kembali berkeliling untuk mengambilnya.
- Para pengemis yang berpura-pura cacat. Terus terang saya belum pernah menyaksikan sendiri pengemis semacam ini. Namun dari beberapa cerita yang saya ketahui, orang-orang yang berpura-pura cacat saat mengemis memang ada.
Sedangkan mengenai pendapatan per hari mereka, wartawan yang saya sebutkan di awal juga sempat berkalkulasi. Menurutnya, pendapatan mereka terutama di bulan Ramadhan di mana semangat berinfak umat muslim sedang tinggi ditengarai melebihi penghasilan para buruh atau pekerja kasar. Kenyataan ini pula yang kemungkinan mengakibatkan jumlah pengemis semakin bertambah, dengan pertimbangan mengemis merupakan cara paling cepat memperoleh uang dibandingkan berjualan atau bekerja keras lainnya. Ini pun merupakan hal yang salah, mentalitas demikian ini harus dihapuskan. Karena sejatinya manusia telah diberkahi Sang Pencipta dengan kemampuan berkarya. Adalah sesuatu yang dzalim jika daya ini ditimpangi kesalahan cara berpikir yang mengarah pada kesimpulan “mengemis adalah cara yang paling mudah”.
Namun yang kemudian menjadi keprihatinan saya adalah ketika ada salah seorang senior lain mengeluarkan satu pernyataan dalam diskusi via mailing list tersebut yang kurang lebih berisi; “Rasanya ingin gue tendangin para pengemis itu supaya kapok dan besok-besoknya tidak mengemis kembali.” Pernyataan ini bahkan diamini oleh kawan senior tersebut. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin menyampaikan betapa saya sangat menyayangkan mengapa pikiran seperti itu dapat hadir dalam benak mereka.
Kembali saya tegaskan, saya setuju bahwa pengemis adalah bagian yang seharusnya tidak ada dalam suatu masyarakat. Saya pun menganggap mentalitas pengemis adalah sesuatu yang wajib dihapuskan. Masalahnya, apa dengan demikian kita boleh sedemikian merendahkan para pengemis? Saya takut bahwa ada begitu banyak orang yang berpikiran sama dengan senior saya yang mengatakan sampai ingin menendang para pengemis karena ketidaksukaan mereka terhadap keberadaan pengemis. Jika sampai demikian, bukan hanya pengemis yang salah. Namun ada yang salah juga dengan hati kita.
Pertama, menurut saya para pengemis menjadikan cara hidup mereka saat ini sebagai pilihan terakhir. Jika mereka disuruh memilih antara mengemis dan bekerja normal yang penghasilannya mencukupi kebutuhan mereka, mungkin mereka akan memilih yang kedua. Lalu, kita mesti ingat bahwa yang membedakan manusia di hadapan Allah adalah ketakwaan masing-masing. Jadi tidak pernah ada suatu pembenaran akan pemikiran yang menganggap diri kita lebih baik dari para pengemis. Tidak juga ada pembenaran yang mengizinkan kita merendahkan para pengemis.
Kedua, memberdayakan pengemis menjadi manusia-manusia produktif bukan semata tugas pemerintah. Kita juga memiliki keharusan untuk berusaha melakukan sesuatu dalam hal ini. Apabila belum mampu melakukannya, maka lakukan apa yang bisa kita lakukan. Tidak ada yang salah dengan memberi sebagian rezeki kita, niatkan untuk beramal. Hapuskan pemikiran bahwa ‘jangan-jangan pengemis ini hanya berpura-pura’ dan sebagainya. Jika Anda berada di daerah yang pemerintahnya melarang untuk memberi uang pada pengemis, tentunya Anda dapat bersedekah dengan cara lain. Jadi, jika kita belum mampu memberdayakan pengemis atau memang memilih bersedekah dengan cara lain, maka doakan mereka. Doakan agar mereka dimudahkan rezekinya dengan jalan yang lebih baik, pun agar Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan penuh manfaat sehingga rakyatnya tidak perlu mengemis.
Akhir kata, ini semua hanya opini pribadi dari saya yang juga penuh keterbatasan. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan ini. Saya menantikan pendapat Anda semua. Terima kasih.
Wallahua’lam bisshowab.

“jika mereka disuruh memilih antara mengemis dan bekerja normal yang penghasilannya mencukupi kebutuhan mereka, tentu mereka akan memilih yang kedua”
nah, di situ masalahnya ka..
bbrapa program pmerintah mmberikan segala kemudahan untuk dapetin income yg cukup sandang pangan papan, tapi mreka bs dpt lbih dr itu kalau mengemis, so, ngapain cape2 jaitin baju orang padahal dgn santai2 di pinggir jalan aja bs dapet lbih byk.. gw menyebutnya “mental pengemis”. Ini yg bahaya, sayangnya ini yg byk kejadian, pengemis dijadikan profesi..
gw gak setuju kalo azka bilang:
“tidak ada yang salah dengan memberi sebagian rezeki kita, niatkan untuk beramal”
justru di situ kesalahannya, semakin byk yg ngasih, semakin byk juga pengemis yg punya “mental pengemis”. kalo kasian sm mereka ya gak usah ngasi duit. Ttg beramal, msh byk cara. Kyk yg azka lakukan di kampus dgn anak2 penjual donat itu..
ya, tp itu omongan wartawan kacangan, gak usah didenger lahh.. hehee..
By: sagoeleuser5 on October 19, 2008
at 2:04 AM
Saya rasa penggunaan kata “tentu” itu terlalu subjektif. Karena banyak pengemis sudah menjadikan mengemis sebuah profesi. Sehingga, apabila mereka di suruh memilih, bukan tidak mungkin mereka lebih suka meminta-minta daripada pindah profesi.
Saya rasa kita tidak perlu merasa bersalah kalau tidak memberi kepada mereka, selama kita tetap beramal melalui badan2 amal resmi atau melalui masjid.
By: adit on October 19, 2008
at 2:46 AM
postingan yang bagus.
saya hanya mampu berdo’a
semoga saudara-saudara kita di beri hidayah olehNya, serta pekerjaan yang layak.
“meminta-minta” bukanlah akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah, serta beliau tidak melarang kita untuk memberi sedekah kepada sesama, sesuai kemampuan kita.
By: mahabbahtedja on October 19, 2008
at 2:50 AM
akan lebih baik kalau semua itu terorganisasi…
kebaikan akan kalah dengan kejahatan yang terorganisasi…
dalam hal ini amal (“sumbangan”) akan lebih baik klo dikumpulin jadi satu sehingga lebih mudah diberdayakan… Sehingga pengemis yang tidak punya mental pengemis bisa mendapat modal untuk usaha…
tapi dimana ngumpulinnya ya…?
By: nurussadad on October 19, 2008
at 4:10 AM
saya setuju sekali kalo pemerintah setiap tahunnya mewajibkan pajak kepada masarakatnya untuk membantu para pengemis…
agar pengemis di negara kita ini tidak ada lagi…
By: yudhi14 on October 19, 2008
at 6:21 AM
Yep.. setuju! Kalo mampu, kasi mereka pekerjaan. Ketika dekat dengan mereka, ajari dan tanamkan mental wirausaha untuk melawan mental ngemis.
Bila dirasa mereka memiliki bekal yang cukup seperti modal dan mental untuk berwirausaha, nantinya kan mereka punya kesempatan untuk merintis usaha. Walopun usaha kecil-kecil yaaa mudah-mudahan aja mereka bisa mandiri.
Saya rasa, sebaiknya kita tetap berpikir positif ketika melihat pengemis. Bukankah berpikir positif itu akan membuat semuanya jadi lebih baik???
By: GiE on October 19, 2008
at 7:32 AM
Di tempatku, Banjarmasin, pernah ada suatu survey mengenai penghasilan pengemis di jalan2 utama kota Banjarmasin. Satu orang pengemis profesional bisa mendapatkan uang mencapai 200.000 sehari. ketika ditanya memilih mana antara mengemis dan bekerja (dia masih dalam usia produktif), dia memilih mengemis.
By: Ophie on October 19, 2008
at 11:30 AM
Aku nanya satu hal…
Kamu pernah ngobrol sama pengemis tentang banyak hal ato cuman ngamatin doang? Face to face, hati ke hati? Pernah nyoba nempatin dirimu dalam posisi pengemis?
By: Bhro on October 19, 2008
at 1:33 PM
Jadi inget kisah backpackingnya si Agustinus di salah satu negara di Asia Tengah. Meskipun kondisi ekonomi di negara itu jauh lebih melarat dibandingkan Indonesia tapi ga nampak satupun pengemis di sana. Menarik utk diteliti tapi jauh…
Kalau pengemis disiksa itu spt di Jepang. Anak muda Jepang bahkan membakar hidup2 pengemis dg alasan menjadi sampah masyarakat, kira2 spt itu. Sadis…!
Kita juga harus ngaca, apakah kita tmasuk pengemis? Para pejabat aja banyak yg bermental pengemis. Ampuun… Bukannya mereka2 ini telah diatur dalam UUD untuk dipelihara, entah dipelihara keberadaannya or dipelihara hidup mereka?
By: Mang Kumlod on October 19, 2008
at 3:28 PM
yakin klo itu memang pilihan terakhir mereka?
bisa dpt kesimpulan itu dari mana?
gw setuju ma pendapat sagoeleuser5 ttg mental pengemis..
mungkin karena mentalitas seperti ini yg membatasi pola pikir mereka.. sehingga mereka malas bekerja, bersusah payah..
ttg beramal.. klo gw pribadi, liat dari segi fisiknya, lihat keadaan dulu.. sehat ato enggak.. klo emang cacat dan itu yg membatasi dia untuk bekerja, that’s no problem with me.. dengan senang hati bkl bersedekah..
tp udah beda, klo pengemis itu sehat dan sempurna tubuhnya.. biasanya ga mo ngasih..
mungkin beberapa org yg punya alasan yg sama, cuma ga mo ngedidik mental tempe..
klo ngasih sama aja ngedukung apa yg mereka lakuin.. dan gw ga mau itu..
By: arazz on October 19, 2008
at 5:08 PM
terus ttg yg orang2 yg ngidem nendang pengemis..
gw ga setuju banget sama yg itu..
apa hak mereka buat ngelakuin itu???
ga ada, hewan pun ga berhak dilakukan seperti itu hanya karena kita ga suka.. apalagi manusia,
gw setuju sama lw ka..
belum tentu mereka lebih baik drpd pengemis itu sndri.. buat apa Allah ngasih kita akal pikiran, klo cuma bisa pake emosi..
By: arazz on October 19, 2008
at 5:16 PM
Untuk situasi sekarang, perlu dibuktikan juga dengan statistik perihal pernyataan bahwa menjadi pengemis adalah jalan terakhir. Sebab, adalah sebuah fakta juga seorang pengemis memiliki HP, punya penghasilan sampai 200 ribu per hari. Lebih miris lagi, HP nya lebih bagus daripada yang ngasih
)
Saya juga tidak punya data yang akurat, tapi pernah mendengar laporan bahwa ‘mereka’ memang memilih mengemis daripada menjadi pekerja atau berwirausaha. Kerjanya nggak susah, penghasilan lumayan. Hanya saya juga tidak berani melakukan generalisir, sebab faktanya memang yang miskin dan jadi pengemis itu memang banyak. Cuma jadi membingungkan atau jadi membuat kita curiga.
Memang sih, ada benarnya juga, semua tergantung niat kita juga. Bahkan ada juga tuntunan dari Rasulullah kalau ada yang datang ke rumah dan meminta-minta, kita juga harus ngasih.
Cuma saya teringat sebuah pepatah, kalau ingin melihat gambaran penduduk suatu kota, lihatlah pada malam hari. Yang asli pengemis, pasti tidak punya rumah. Seperti juga ‘Umar r.a melakukan sidak malam hari. Barangkali bisa kita jadikan contoh juga
By: Donny Reza on October 19, 2008
at 6:06 PM
Teknik Mengemis 101 :
1. Ambil kertas beberapa lembar, lalu bakar sampai menjadi abu hitam (abu kok hitam? Apalah istilahnya),
2. Gosokan abu hitam tadi ke seluruh kaki anda. Tidak perlu merata, yang penting kaki anda terlihat seperti habis terbakar,
3. Setelah kaki anda menghitam, selanjutnya cari lem kertas lalu baluri seluruh permukaan kaki anda dengan lem tersebut agar menimbulkan efek kulit mengelupas,
4. Selanjutnya ikat daerah pergelangan kaki anda dengan perban atau kain kasa, jangan lupa berikan obat merah biar semakin cihui.
5. Agar tambah natural, berjalanlah dengan mode pincang: on
6. Khusus buat kaum pengemis wanita, anda bisa menyewa bayi sebagai “hiasan” tambahan. Tanyakan ke koordinator setempat.
7. Setelah mengemis, jangan lupa untuk menyetorkan 70% dari pendapatan anda ke koordinator lokal agar mereka mau membantu (baca: menebus) anda saat terjadi inspeksi oleh aparat.
Tips di atas bukan karangan gw seperti tips-tips gw yang lain.. he3. Informasi itu gw dapat dari salah satu siaran investigasi di sebuah stasiun tv swasta.
Kalau udah kayak gitu.. kok rasanya susah ya untuk menghilangkan pikiran jelek “pengemis banyak yang bohong” dari isi kepala ini?
Ah.. apa sebaiknya gw gak pernah tau aja kalau banyak pengemis yang berbohong? Dengan begitu mungkin gw bisa lebih mudah dan ikhlas memberi..
By: uleefeb89 on October 19, 2008
at 7:03 PM
Sory, comment di atas (dari uleefeb89) sebenernya dari gw, lupa ngeganti isi form, he3..
By: wildan on October 19, 2008
at 7:04 PM
terkadang mengemis itu masalah mental kak, banyak pengemis yang ternyata hidupnya mapan namun terbuai dengan kemudahan mengumpulkan recehan maka ia tetap menjadi pengemis…
tetap berdoa buat mereka…
jabat erat!
By: ahsani taqwiem on October 20, 2008
at 6:49 AM
Memang terkadang fenomena yang tedapat di masyarakat yang heterogen seperti di Indonesia ini sangat sulit seperti misalnya pengemis.
Di satu sisi kita memberikan mereka kan semakin memberikan asupan cerita ke pengemis lain sehingga memperbanyak pengemis di Indonesia. Yang lebih menyakitkan adalah pengemis bukan sebuah tuntutan tetapi pekerjaan.
Bayangkan saja ada beberapa pengemis yang saya jumpai di daerah tidak jauh dari rumah, mengemis untuk mencukupi kehidupan dan menabung untuk kehidupan di kampungnya alhasil orang ini mempunyai kelayakan hidup di jakarta dan menceritakan ke masyarakat sekitar.
Tetapi,
di sisi lain kita harus memberikan tanpa melihat orang nya tetapi manfaat yang kita berikan kepada orang itu,
karena hadits rosul :
“sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat”
bukankah kita lebih baik memberikan dengan tangan kanan tangan kiri tak mengetauhi?
Good.
By: Pandu Mas Saputra on October 20, 2008
at 10:06 AM
aku udah ngisi polling… hahaha…
By: fliesfreely on October 20, 2008
at 11:52 AM
Udah vote semuanya euy!
Lha, komen2 diatas kok blom dibalesin yaa…
Ayoo idupin diskusinya, azk!
Tema ‘kemiskinan’ lagi anget2nya nih dicuap2in..
By: GiE on October 20, 2008
at 12:19 PM
[...] artikel dari Azka, Pengemis vs Persepsi, saya jadi tertarik untuk ikut menulis tentang para pengemis. Tidak jauh berbeda dengan Jakarta, [...]
By: Industri Belas Kasihan | Aditya Fajar on October 20, 2008
at 5:01 PM
Susah kalau sudah berhadapan dengan pengemis. Walaupun diberi dana untuk membuka usaha kecil-kecilan pun, uangnya pasti akan habis di dia akan mengemis lagi.
Pintu rizki pengemis kan sudah ditutup, dia tidak akan mendapatkan rizki kecuali dari mengemis tadi.
By: Edi Psw on October 23, 2008
at 2:22 AM
Maksud saya, indikator seseorang memang layak untuk diberikan sedekah salah satunya adalah tempat tinggal. Pengemis gadungan, biasanya tidak akan tidur di emperan toko atau di bawah jembatan ketika malam hari. Jadi, kadang saya berfikir, kalau memang mau ngasih ke ‘orang miskin’, mending lakukan saja malam hari … saat di mana segala sesuatunya kelihatan ‘aslinya’. Pengemis gadungan sih biasanya punya ‘jam kerja’
)
By: Donny Reza on October 23, 2008
at 12:55 PM
Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya
Terima kasih sebelumnya, de azka sudah mengingat kan saya tentang persoalan ummat yang satu ini. Ini adalah tugas kita bersama yang akan ditanggung gugat oleh Allah…
Mengenai persoalan amal & sedekah, ya kita niatkan ikhlaskan saja dalam hati. Terus soal bentuk amalnya, bagi yang masih ragu untuk memberikan uang, lebih baik dalam bentuk lainnya seperti makanan, pakaian, dll ataupun disalurkan ke pengurus masjid dan badan amal zakat.
Lantas, jika kita melihat realitanya sekarang, memang kita perlu data yang akurat tentang apa sich indakator seorang yang disebut fakir dan miskin itu, sehingga jika ditemukan ada yang berpura-pura dapat ditindaklanjuti sebagai kasih pidana…
Mulailah dari diri dan keluarga kita sendiri untuk menyisihkan 2,5% dari penghasilan kita untuk membantu mereka. Harapannya jika itu kita lakukan dan diikuti oleh umat, insya allah mereka akan terbantu.
Maaf sebelumnya, jika saya belum mampu memberikan solusi yang substansial tentang masalah ini, karena saya rasa persoalan ini perlu diselesaikan dengan kesungguhan, tekad yang tulus dan kesiapan perangkat penunjang yang baik.
Salam.
By: razalife on October 23, 2008
at 2:53 PM
Wah, postingan serius.
Sebenarnya ini adalah masalah yang sangat susah untuk di-clearkan, mengingat di Amerika yang negara maju seperti itu juga ada pengemis.
Mungkin pelajaran yang berharga bagi kita yang beragama Islam dalam hal ini adalah melakukan gerakan sadar Zakat, infaq dan Sodaqoh.
Karena di sebagian harta kita ada bagian untuk mereka yang tidak punya…
Andai semua orang yang beragama Islam di Indonesia mau ber-ZIS, InsyaAllah akan tuntas masalah seperti ini.
Tidak hanya dalam bentuk uang, tapi juga pekerjaan bagi mereka yang pengangguran.
Wallahu a’lam…
By: Ghani Arasyid on October 24, 2008
at 4:35 PM
melihat contoh2 yang ka azka berikan, sepertinya lebih banyak lewat sudut pandang penumpang KRL y?
emang, di KRL kita bisa lihat banyak realitas sosial..
pemberdayaan masyarakat mungkin bisa jadi solusinya..
mengenai sedekah ke pengemis, fine2 aja menurut saya..walau yang dipermasalahkan disini kan eksekusinya, mengenai esensi dari sedekah sendiri kan gak ada masalah,
yah,baru sebatas itu yg bisa sy komentari,^^’
By: ecky on October 28, 2008
at 5:59 AM
ini ada tulisan tentang “bos” pengemis,
http://mapconsultan.wordpress.com/2008/06/13/bos-pengemis-tinggal-nikmati-hidup/
oh ya, hati2 juga, takutnya hoax
By: ecky on October 28, 2008
at 8:58 AM
mengomentari komentar pa Edi Psw:
Enggak kok pak,, ga semua pengemis seperti itu (Walaupun diberi dana untuk membuka usaha kecil-kecilan pun, uangnya pasti akan habis di dia akan mengemis lagi)
aku pernah baca buku Berhenti Sejenak karya Bayu Gawtama,,disitu beliau menceritakan tentang temannya yang cukup jarang memberi uang kepada pengemis, padahal gaji temannya Gawtama lebih besar daripada Gaw sendiri. Dan akhirnya, mengertilah Gaw alasan mengapa temannya itu jarang memberi uang receh.
Suatu hari, ketika mas Gaw dan temannya sedang bersama, mereka bertemu seorang ibu pengemis. Ketika mas Gaw hendak memberi uang receh, temannya meghalangi.
Teman mas Gaw pun bertanya kepada si pengemis:
apakah si pengemis mau uang seribu atau seratus ribu, jika si pengemis ingin uang seribu, maka ambillah. tapi jika si pengemis ingin uang seratus ribu, uang itu bukanlah sedekah, melainkan pinjaman untuk modal, agar si pengemis tidak usah mengemis.
dan ternyata ibu pengemis itu lebih memilih uang seratus ribu. Setelah berbincang-bincang sebentar, ternyata ibu itu mempunyai kemampuan untuk membuat gado2, ia juga mempunyai peralatan lengkap. Setelah “transaksi” selesai, Mas Gaw dan temannya pun ikut ibu pengemis itu untuk melihat rumahnya, sekaligus tempatnya untuk berdagang gado2, yang ternyata cukup strategis karena ramai.
Dan ibu pengemis yang telah menjadi penjual gado2 itu pun bisa mengembalikan uang pinjaman itu lebih cepat dari perjanjian, sambil berkata,”Terima kasih,Nak. Kau telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”
Temannya mas Gaw, yang bernama Pak Diding itu mengaku, tidak selalu uangnya kembali. Karena usaha yang gagal, ataupun orang yang ia pinjami tidak bertanggung jawab. Tapi itu risiko. Namun setidaknya, setelah uang seratus ribu yang dipinjam oleh ibu penjual gado2 itu telah kembali, maka uang itu bisa dipakai untuk membantu orang lain. Dan akan ada satu lagi orang yang berhenti meminta-minta…
By: aisha on November 3, 2008
at 11:53 AM
@ecky: iya cky.. banyak hal-hal unik di KRL yang sebenarnya mencerminkan beberapa sisi bangsa.. hehe, makasih ya komen dan info link-nya.. =)
@aisha: wah, subhanallah ya.. si ibu dan yang memberi mudah-mudahan selalu dirahmati Allah.. makasih banyak chan udah berbagi di sini.. ^^
By: azkaa,, on November 21, 2008
at 5:22 PM
udah ngisi polling!
trus ntar data nya mau di kasih ke sapa?!
pihak2 yang terkait kah?! atau di publikasikan ke khayalak luas,, heho,,
Ka, cara mengiklankan blog yang baik dan benar serta sesuai EYD gimana cara? heho,,
By: ephalism on December 9, 2008
at 4:15 AM
[...] artikel dari Azka, Pengemis vs Persepsi, saya jadi tertarik untuk ikut menulis tentang para pengemis. Tidak jauh berbeda dengan Jakarta, [...]
By: » Industri Belas Kasihan Aditya Fajar on December 27, 2008
at 6:43 PM