Posted by: azkaa,, | October 23, 2008

maaf mas, asap rokoknya.

Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang merokok di dekat Anda?

Beberapa orang memilih menyingkir jika hal itu memungkinkan. Sebagian lain berdiam diri, memasang tampang terganggu, dan menggerutu dalam hati. Ada pula orang yang lantas terbatuk-batuk menyindir sang perokok. Atau mungkin, jika sesama perokok, hanya akan diam tidak peduli.

Tetapi tidak demikian dengan saya. Jika ada seseorang yang merokok di tempat umum dan asap rokoknya mengenai saya atau tercium baunya, saya akan langsung berkata, “Maaf Mas, asap rokoknya”.

Sederhana. Saya tidak perlu berbicara lebih banyak lagi, biasanya sang perokok mengerti. Mereka selanjutnya mematikan rokoknya atau menjauh dari saya. Tentu saja, saya tidak lupa mengucapkan terima kasih setelahnya.

Kemarin, dalam sehari saya bahkan mengutarakan kalimat itu sebanyak tiga kali. Pertama saat saya naik kereta ekonomi menuju Bogor. Kali kedua saat ada seseorang yang merokok di angkutan umum yang sedang menanti penumpangnya hingga kursi terisi penuh (baca: ngetem). Terakhir adalah saat saya menunggu kedatangan kereta ekonomi AC menuju Depok di Stasiun Bogor pada malam hari.

Sebenarnya, kecuali dalam bus atau mobil angkutan umum lainnya, saya bisa saja pergi menjauh dari sang perokok agar saya tidak turut menghirup racun dalam asap rokok. Tetapi saya tidak mau melakukannya. Saya memiliki hak bernapas dengan bebas di mana pun. Lalu ketika ada seseorang yang mengambil hak saya sekaligus menyebarkan racun lewat udara ke sekitarnya, saya harus memperjuangkan hak saya. Itulah mengapa saya selalu menegur orang yang merokok di tempat umum dan beresiko menjadikan saya perokok pasif.

Sebenarnya pemerintah DKI Jakarta telah mengeluarkan peraturan daerah nomor 2 tahun 2005 yang melarang merokok di tempat umum. Sanksi yang akan dikenakan bagi pelanggar pun cukup berat, yaitu hukuman penjara selama enam bulan atau denda uang sebesar lima puluh juta rupiah. Akan tetapi realisasinya belum memuaskan berbagai pihak. Masih dapat dengan mudah ditemui orang-orang yang merokok di tempat-tempat umum. Padahal jika peraturan daerah tersebut diterapkan dengan serius, tentu akan menertibkan para perokok dan dendanya bahkan bisa menambah pendapatan daerah.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, juga berencana mengeluarkan surat edaran mengenai larangan merokok di tempat umum. Saya berharap kebijakan ini akan segera disahkan mengingat selama ini rasanya belum ada perlindungan serius untuk masayarakat dari bahaya asap rokok. Padahal hasil poling mengenai opini masyarakat Indonesia terhadap Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dimuat di Kompas, 7 Juli 2008 menyatakan 68 persen masyarakat Indonesia percaya bahwa menghirup asap rokok orang lain dapat mengancam kesehatan orang yang tidak merokok. Mayoritas penduduk juga mendukung larangan merokok di ruang publik lainnya, seperti di restoran (81 persen), dan tempat publik seperti lokasi perbelanjaan, terminal bus, dan stasiun kereta api (75 persen). Bahkan, 99 persen masyarakat Indonesia mendukung larangan merokok di rumah sakit dan klinik serta di perkantoran dan ruang kerja tertutup. Sebanyak 96 persen juga mendukung larangan penjualan rokok pada anak di bawah usia 18 tahun.

Namun sebelum sekian larangan tentang merokok di tempat umum dapat diterapkan dengan efektif, ada baiknya kita menyuarakan sendiri aspirasi kita jika ada orang yang merokok di tempat umum. Katakan saja, “Maaf Mas, asap rokoknya”. Mereka akan paham. Toh para perokok itu juga banyak yang merupakan orang pintar. Mereka adalah orang-orang yang pernah belajar biologi atau pun mengetahui dari berbagai media perihal bahaya rokok bagi perokok aktif maupun pasif. Sebagian besar dari mereka juga mampu membaca peringatan di setiap bungkus rokok tentang kemungkinan kanker, gangguan kehamilan dan janin, impotensi, serta berbagai akibat merokok lainnya. Sehingga satu kalimat; “Maaf Mas/Pak/Mbak/Bu/Dik, asap rokoknya,” cukup untuk membuat mereka mengerti.

Bersuaralah untuk membela hak Anda!


Responses

  1. wah.. emang sih kadang2 masih ada aja yg ngerokok dalem angkot,
    tapi gw jarang suruh berhenti..
    udah didahuluin ma orang lain.. ^^
    selain itu, klo gw sih biasanya gw liatin aja tu orangnya sambil gosok2 hidung.. langsung dimatiin deh rokoknya..
    takut kali liat muka gw klo sangar.. haha..

  2. Yang saya lakukan:
    Sindir…
    Kipas-kipas asep rokok ke arah dia lagi…
    Tutup mulut dan hidung dengan tangan secara terang-terangan…
    Kalau gak berhasil juga, suara batuknya dikerasin…
    Pasang muka sengasara…
    Kalau bawa obat langsung minum…

    Kalau belum berhasil….
    Ambil aja minyak putih dari tas…
    Lumurin deh banyak-banyak…
    Kalau dia kesel…
    Salah sendiri ngerokok…

    • wakh.. setengah mati banget tu mas… mendingan langsung aja negor… hhee

  3. Kalau lagi mood saya juga bilang, kalau engga mah dido’akan aja. Kalau lagi kesel dido’akan masuk neraka, kalau lagi baik dido’akan biar sadar.

    Meskipun udah dibilangin ada juga yg tetep ngeroko. Waktu itu di kereta ekonomi Jakarta Bogor jam pulang kantor. Udah mah penuh, ngeroko lagi… Orang gila, dido’akan masuk neraka hawiyyah yang kayak gini mah…

    #arazz
    Salam bahasa medan, sangar itu artinya ganteng…. (liat blognya herryazwan deh)…

  4. See…
    Sebetulnya wanita cukup efektif untuk mengurangi perokok di tempat umum :) ) itu sebabnya saya sih sering ‘memohon’ sama perempuan yang menemukan orang merokok di tempat umum untuk menegur. Biasanya para perokok merasa malu dan bisa menghargai permintaan perempuan.

    Kalo laki-laki yang negur?! Beuh, persoalan eksistensi diri dibawa-bawa :) ) tadinya pengen menghirup asap bebas, malah berantem jadinya. Kalau ditegur, merasa haknya terganggu, padahal yang terjadi sebaliknya :) )

    Saat ini yang buat saya cukup efektif sih dengan bahasa tubuh, meski banyaknya pada nggak peka juga :) )

  5. no smoking….didukung abis :D

    http://agustian.wordpress.com/category/no-smoking-area/

  6. @ Mang Kumlod :
    oo.. betulkah?
    wah, baru denger skrg tuh..
    tp mo artinya nyeremin ato ganteng.. semuanya betul kok..
    hehehe

    *narsis dikit :)

  7. saya pernah ngerokok… sekali…
    kelas 4 SD… rasanya ga enak… abis itu kapok… he…

  8. kalo saya biasanya bilang:

    j*nc*k, asepe rek!

    hehe.. just kidding yee..

  9. Aaaahhh… Boong kemaren di angkot kamu cuma batuk2 doang kok, jelek lagi suaranya…
    Hwahahaha….

    “Bersiap kabur ke Paris, menghindar dari tendangan Azka”

  10. @arazz: hehe, iya lah. dirimu lagi ga sangar pun nakutin anak orang kok.

    @auzi: niat banget kau, nak. hehe. lucu sekali.

    @mang kumlod: ya ampun mang, didoain yang baik-baik aja lah. ^^

    @donny reza: haha, gitu ya kalo cowok? lucu juga ternyata.

    @agustian: yaph, betul mas. =)

    @arazz: narsis di sini bayar! *kecuali sang pemilik blog

    @weibullgamma: saya pernah, sekali dan terakhir kalinya waktu kelas dua SD. sama temen-temen, nemu rokok utuh, diisep tanpa dinyalain tapi. haha.

    @fazlur: haizz, bahasa jermannya keluar. =P

    @fliesfreely: kasusnya beda. yang ngerokok kan si supir, posisi kita di belakangnya. susah mau bilang. lagian kan pas kamu ngomong, “batukmu jelek amat mad.” aku bales, “iya nih, gara-gara asap rokok.” =P

  11. Merokok, bagi kita yang berada pada jalan Ahlussunnah wal Jama’ah telah difatwakan haram…

    Jadi sebenarnya mudah saja bagi kita yang mungkin terganggu / agak terganggu karenanya, menjauhinya karena berdosa…

  12. PURA-PURA BENGEK…….

  13. @ghani arasyid: iya mas. tapi dalam konteks postingan ini, maksudnya penting juga kita mengingatkan orang lain agar tidak meroko di tempat umum. begitu. =)

    @deezeeka: err, ya bolehlah. hehe.

  14. Kalo saya mah dengan body language aja, azk.. soalnya kalo ditegur kayak ucapan diatas, meskipun dengan tekanan suara yang ramah. Tetep aja orangnya suka kesinggung, ujung2nya yaa takut kayak yang dikatakan Kang Donny, bisa berabe kalo berlarut2.

    Begitulah… Perempuan emang sepertinya lebih efektif kalo negor perokok di tempat umum, mungkin kesannya “Wee.. ni cewek perhatian banget ama gw yaaa..” secara yang negornya geulis, kitu..

    Hwahaha… :lol:

  15. @gie: body language-nya kayak apa boss? senam? hehe.. *ditimpuk
    ga ngerasa enak juga kalo cuma rokoknya yang diperhatiin lah..

  16. buat saya, body langguage termasuk yang sering saya gunakan pada temen2 saya yg perokok berat :D

    kesal juga sih klo ada orang yang ngerokok di angkot, udah sempit, bau badan+rokok, panas pula ^_^

  17. bole dicoba nih, slama ini gw diem aja klo ada yg ngrokok…trimakasi saran2nya bagus2…

  18. udah lama berenti jadi pas ada yang ngerokok… ikutan isep-isep (dikit siiii)

    terus ai dempet deh tu orang sambil membesar-besarkan lubang hidung untuk menghisap……

    tapi tau kenapa setiap ai lakuin hal itu, tu perokok langsung pergi, atau matiin rokoknya..

    (boong deng, orangnya malah nanya: “punya no hape ga?”)

  19. assalaamu’alaykum

    “Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang merokok di dekat Anda?”

    seringnya siii pura2 batuk, mbak
    hehehe

  20. @arief: hihi, kalau teman-teman saya yang kebetulan merokok biasanya paham untuk tidak merokok dekat saya. wah, iya itu bete pastinya kalo ada yang ngerokok, bau badan, dsb, dst. di angkot pula. pengalaman ya? =D

    @sagoeleuser5: oh ya? tapi gw juga berharap semoga larangan merokok di tempat umum untuk jawa barat cepat disahkan dan dilaksanakan dengan efektif. amiin.

    @shdwknght: serius, gw ngakak bacanya. yaiyalah tu orang pasti ngerasa jijay banget kalo lo dempetin sambil besar-besarin lubang idung. dasar. hehe. alhamdulillah kalo udah berhenti, yowes ga usah icip-icip lagi napah.

    @awisawisan: iya ws, biasanya itu yang paling sering orang lakukan. tapi entah ya, saya rasa asal dengan baik-baik biasanya jauh lebih efektif ngomong langsung. ^^

  21. ga bisa deket sama perokok, rokok, asap, dkk :(
    biasanya langsung batuk2 trus bilang sama orangnya, sama de ka :D

    syukurlah disini, rokok DILARANG di tempat umum (yay!) dijual terbatas dan cuman boleh dinyalain tempat2 tertentu aja. taxnya gede, rokok mahal abis, jadi jarang orang ngerokok.kecuali pekerja bangunan b*ngla atau mas-mas sok keren kalo ngerokok. haiz.

    dakara, kalo balik ke indo, keluar juanda udah pengen balik sg lagi… -.-

  22. @namaewadina: iya din. emang lebih enak jujur ke orangnya daripada misuh-misuh dalem hati. hehe. *berdoa semoga di Indonesia merokok juga dilarang di tempat umum


Leave a response

Your response:

Categories