“Percayalah. Aku sudah mencoba. Namun mengucapkan selamat tinggal padamu bukanlah hal mudah.”
…
Karena di sinilah duniaku. Menadahkan tangan dan menyaksikan rintik kata jelmakan diri sebagai ribuan sayap kecil yang mengutuh satu. Mencurah segala dan membiarkan ia menjadi saksi perjalananku -tanpa pernah, sekali pun, ia mencoba alih peran sebagai hakim di hadapanku.
Bersamanya, putaran jarum jam seolah tiada arti. Bahkan setelah letih tertawa juga tersedu, diam yang jeda tidak lantas menuntut apa-apa. Jika sudah demikian, biasanya ia beranjak dari sofa panjang tempat kami saling menyandar dan meninggalkanku yang masyuk dengan pikiran sendiri. Ditelusurinya rak buku di ruang tamu kami. Namun tiba-tiba ia kabur bersama derai tawa usai buang angin tanpa tahu malu. Kuumpat ia dengan lemparan bantal sofa lalu segera membuka jendela lebar-lebar. Menyelamatkan diri dari kemungkinan muncul di ujung kolom surat kabar kota sebagai korban pembunuhan tak terencana. Keracunan gas.
Bersamanya, tidak pernah kudapatkan tatapan jengah yang kerap lintas dari orang lain kala kuceritakan tindakan konyol yang telah dan akan kulakukan. Ia hanya dengan santai mengambil segelas air putih dan lagi-lagi tertawa. Lalu dengan puas menyombongkan diri bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang lebih konyol. Semerta, di dekatnya, aku merasa diriku baik-baik saja. Penerimaan tanpa syarat dan pembebasan dari bayang ketakutan adalah anugerah terbesar yang kuterima melalui dirinya. Ia layaknya buku harianku semasa sekolah dasar dengan gembok kecil yang selalu dapat kupercaya.
…
Karena di sinilah duniaku. Menyuguhkan linang dan binar bagi apa pun yang hendak ia ungkap. Menghadirkan diri untuk selalu ada, tanpa praduga, sebagaimana dirinya termakna bagiku.
Ada, saat ia menggigit bibir dan menggagu salah tingkah. Dengan delik curiga kutebak arti kegugupannya. Ia tampak lega karena aku paham. Maka detik itu juga buncahlah cerita dari bibirnya. Kunikmati saja euforia itu. Dalil serta sabda kelu di pangkal bicara. Perang batin berkecamuk dan malaikat penyampai ayat tersungkur kalah. Aku diam. Kuaduk pelan Es Doger yang ia belikan setelah sesi pengakuan tadi. Ya sudahlah, setidaknya orang yang berbunga-bunga seperti ia pasti akan lebih murah hati. Kusimpan dalam ingatan, besok akan kuminta ia menraktirku Mie Ayam dan Jus Mangga di warung dekat Ramayana.
Ada, kala ia mengaku letih dengan dunianya. Sehabis memastikan ketebalan dompet berada di level aman, kutemani ke mana pun ia berniat rehat sejenak. Seringkali ia bahkan tidak tahu arah tujuan. Tetapi kuizinkan saja beberapa urusanku tertunda untuk lalu duduk di sampingnya. Menerjemah kekalutannya lewat pantulan raut di kaca jendela bus yang bias oleh lampu berlatar malam. Sayangnya terlalu sulit bagiku untuk membaca bahasa jiwa yang ia cipta sendiri. Akhirnya kupejamkan mata sewaktu sang iPod mendendangkan lagu kesukaanku. Tidak sadar bahwa hujan turun sangat deras selepas itu.
…
Karena itulah, ketika ia pergi -tanpa mampu kucegah sebab ia mengiris pergelangan tangannya di suatu kamar terkunci dan mengacuhkan aku yang hampir gila berusaha menghentikan-, duniaku repih terserak. Pudar dan hilang bentuk. Seperti sebuah lukisan cat air yang tersapu hujan.
: Luruh.

hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………
sapa yang bunuh diri???
By: fliesfreely on December 13, 2008
at 11:13 AM
bakat euy..
By: Faizal on December 13, 2008
at 12:16 PM
@ophie: baca donk kategorinya: fiksi. hehe.
@faizal: amiin. =D
By: azkaa,, on December 13, 2008
at 5:19 PM
wah keren…
By: hidayat on December 13, 2008
at 6:11 PM
again..
bikin gw linglung..
hehe =P
By: arazz on December 13, 2008
at 11:42 PM
Keren! Saya juga pengen bisa nulis fiksi, tapi ih meuni susah nya. Itu loh ngerangkai tulisan berdiksi yang membangkitkan imajinasi.
So kapan bikin novelnya, azk?
By: GiE on December 14, 2008
at 3:45 AM
hmmm…
menunggu puisi-pusi dan tulisannya dibukukan
By: Ghani Arasyid on December 14, 2008
at 7:03 AM
Terus,,terus,,
Mie Ayam dan Jus Mangga di warung dekat Ramayananya enak ga’??
Hehehe…
Bingung mau ngomenin apa, keep posting lah pokonya…Hehe..
By: Berli on December 14, 2008
at 10:07 AM
assalaamu’alaykum
waaaah, mba azkaa
ruar biasa,,
tulisannya asiikk,,
By: awisawisan on December 15, 2008
at 3:23 AM
“Ada, kala ia mengaku letih dengan dunianya. Sehabis memastikan ketebalan dompet berada di level aman, kutemani ke mana pun ia berniat rehat sejenak. Seringkali ia bahkan tidak tahu arah tujuan. Tetapi kuizinkan saja beberapa urusanku tertunda untuk lalu duduk di sampingnya. Menerjemah kekalutannya lewat pantulan raut di kaca jendela bus yang bias oleh lampu berlatar malam. Sayangnya terlalu sulit bagiku untuk membaca bahasa jiwa yang ia cipta sendiri. Akhirnya kupejamkan mata sewaktu sang iPod mendendangkan lagu kesukaanku. Tidak sadar bahwa hujan turun sangat deras selepas itu”
kalo boleh GR tokohnya mirip aku ya….
jadi teringat banyak perjalanan tanpa tujuan jelas aku dan kamu hahaha….
bedanya cuma aku ga pernah ngiris tangan, lha wong ngeliat darah dikit aja aku langsung lemes hahhahaha…..
By: Ophie on December 16, 2008
at 2:13 PM
jadi itu siapa, az?
By: deezeeka on December 17, 2008
at 3:56 AM
Wah…
By: lovelyena on December 17, 2008
at 1:48 PM
salam kenal.. maaf terburu2… coba kunjungi blog saya yah…
By: uki21 on December 18, 2008
at 4:47 AM
duh bagus tulisannya…
By: Herray on December 18, 2008
at 5:32 AM
kayaknya bukan siapa2 Deas, cuma tokoh fiksi yang jadi representasi banyak orang.
By: Ophie on December 18, 2008
at 6:00 AM
iyah… ini mang mengadopsi buku itu.
saya tulis ini untuk sahabat saya yang sedang dapat masalah, jadi yah saya berharap dapat juga membuat orang ingat tentang hal ini.
jadi inget ma buku itu lagi kan?
By: uki21 on December 18, 2008
at 7:13 AM
Aih2 jadi inget rectoverso. So kapan kakak akan menerbitkan buku, hehe
Ak suka tuh kak yang bagian
“Dan malaikat penyampai ayat tersungkur kalah” kurang lebi aku paham, wkqkq
oot:kok kakak tau c aku make hape, hiks
By: Aisha on December 19, 2008
at 7:09 AM
pesen satu,, dibungkus aja!!!
By: yhadee on December 19, 2008
at 3:32 PM
hehe rectoverso? c’mon ka u can do much better than that
By: shdwknght on December 24, 2008
at 1:25 PM
azzka pa kabar dirimu?
kayake bakat timur tengahnya ada he he
By: gustika on December 29, 2008
at 5:40 PM
begitulah…
By: awym on January 1, 2009
at 5:43 AM
Assalamu’alaikum
Azka bagus tulisannya..
*salam kenal yahh,, ini Qorry IE IPB angkatan 43. hehe.
By: Qorry on January 1, 2009
at 6:58 AM
@all: makasii.. =)
@berli: enak donk..
@ophie: haha, tebakanmu benar.. tokoh fiksi yang sebenarnya ada pada diri beberapa orang.. meski yang bunuh diri cuma perumpamaan aja..
@shdwknght: amiin..
@gustika: he? bakat apa? ^^
@qorry: wa ‘alaika salam.. iya sama-sama qorry.. =)
By: azkaa,, on January 2, 2009
at 5:50 AM
ka azkaaaaa….k.a.n.g.e.n!!!!
^,^
tulisannya bagus!!
bikin terperangah,,,terenyuh juga,,ohohohoho’
By: dey on January 7, 2009
at 7:31 AM
tak contek boleh gak
By: atiQ on May 18, 2009
at 12:16 PM
@atiq: err, maaf, untuk apa ya? kalau bisa mohon ditulis sumbernya ya.. bukan apa-apa, cuma ini kayaknya udah jadi kesepakatan universal deh, hehe.. trims..
By: azkaa,, on May 18, 2009
at 12:50 PM