Posted by: azkaa,, | February 17, 2009

pascatiada

Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.

Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar lembut. Begitu pula dengan wajah Mbah Uti yang saya cium di ujung pelepasannya. Cantik dan damai.

Sedangkan kondisi menyedihkan terlihat pada sesosok jenazah yang mengambang di Laut Kepulauan Seribu. Saya dan kawan-kawan sewaktu itu sedang menyeberang menuju Pulau Untung Jawa. Sang pengendali mesin perahu berkata pada kami, “Jangan lihat ke arah kanan! Jangan lihat ke arah kanan!” Dapat diduga, justru sekian pasang mata mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Di sanalah, terombang-ambing di atas gedebong pisang, seorang yang menurut kabar angin adalah pelaku kejahatan dengan pengasingan sebagai hukuman.

Kontras, ya? Itulah visualisasi tersendiri yang selinap dalam benak  saya apabila terkenang perihal akhir hayat manusia. Putih dan hitam itu pula yang menghadirkan gigil saat membaca ayat-ayat akhir surat Al-Fajr, “Yaa ayyuhannafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki radhiatammardhiyyah.” -Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.- Oh, betapa inginnya terpanggil seperti dalam sabda itu.

Bicara seputar akhir hidup, saya teringat adegan mengharukan dari serial “Grey’s Anatomy” Season 4. Orang tua dari gadis muda yang otaknya tidak lagi berfungsi setelah kecelakaan pada suatu episode ditanya oleh dr. Erica Hahn (diperankan Brooke Smith) apakah mereka bersedia agar organ tubuh anaknya didonasikan. Mereka marah dan merasa anaknya pantas diberi waktu lagi untuk ‘mencoba’. Hanya, setelah menyadari kenyataan bahwa bagaimana pun, anaknya memang hanya bergantung pada alat-alat medis, mereka merelakannya. Merelakan dalam artian, kepergian anak mereka dan pendonasian organ tubuhnya. Ini mengantarkan saya pada satu sisi lain dari kematian, yakni kemungkinan untuk terus memberi ‘manfaat’ bagi orang lain setelah nafas tiada.

Perihal transplantasi organ tubuh ini menjadi semakin menarik setelah saya membaca buku “Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers” karya Mary Roach. Buku sains populer ini ditulis dengan gaya bercerita tentang pengalaman Mary Roach dalam menggali keingintahuannya terhadap kehidupan tubuh manusia pascakematian. Jurnalis cerdas ini menyajikan apa yang ia lihat, dengar, baca, dan rasa seputar kadaver dan kontribusinya dalam penyelamatan hidup manusia lain. Baik kontribusi dari sisi pendonasian organ dan jaringan tubuh maupun sumbangsih bagi penelitian ilmu pengetahuan.

Buku tersebut, anehnya, tidak menimbulkan perasaan takut atau risih. Mary Roach menempatkan penghormatan dengan sangat baik kala menuturkan subyek kadaver ini. Bahasa yang digunakan bahkan sesantai karya-karya Paulo Coelho. Namun jangan salah, begitu banyak sejarah dan pengetahuan medis bertebaran dalam setiap babnya. Seperti halnya serial “ER”, “Grey’s Anatomy”, novel “Nothing Lasts Forever” karya Sidney Sheldon, atau buku “Bila Perempuan Tidak Ada Dokter”, buku “Stiff” ini adalah salah satu cara menarik untuk ‘mengintip’ dunia medis.

Dalam bab “A Head is a Terrible Thing to Waste”, diceritakan mengenai seminar pelatihan operasi wajah di mana setiap dua peserta mengoperasi satu kepala. Ada empat puluh kepala. Sedangkan bagian lain dari tubuh yang terpisah dari kepala tersebut juga digunakan untuk percobaan di laboratorium universitas-universitas. Beberapa merupakan hasil sumbangan sang pemilik nyawa semasa ia hidup, beberapa lagi diperoleh dengan cara-cara lain. Jenis kerelaan dari donor ketika menandatangani pernyataan untuk menyumbangkan tubuhnya pascakematian pun berbeda-beda. Ada yang hanya bersedia mendonasikan organ dan jaringan tubuh, ada pula yang menyerahkan sepenuhnya keputusan ‘penggunaan’ dirinya setelah meninggal pada penanggung jawab donasi.

Mary Roach sendiri sempat berkeinginan untuk menjadi donor bagi Bank Otak Harvard. Namun alih-alih sesuai bayangannya bahwa akan ada otak-otak utuh yang mengambang dalam toples -imajinasi ini mengingatkan saya pada adegan di Departemen Misteri Kementerian Sihir dalam buku “Harry Potter and the Order of the Phoenix”-, ia justru menyaksikan bahwa otak-otak tersebut dibelah dua. Sebelah bagian otak dipotong-potong lalu dibekukan, dan yang satunya lagi disimpan dalam formaldehid di dalam wadah makanan. Ia pun membatalkan niat ini dan berakhir pada pernyataan bahwa ia bersedia mendonasikan tubuhnya bagi penelitian mahasiswa kedokteran setelah meninggal nanti.

Dalam Islam, mewasiatkan organ tubuh setelah meninggal dunia pun diperbolehkan dan dianggap sebagai kedermawanan penuh manfaat. Hal ini disampaikan Dr. Yusuf Qardhawi dalam “Fatwa-Fatwa Kontemporer” terbitan Gema Insani Press. Donasi organ semasa hidup pun diperbolehkan selama tidak membahayakan sang donor. Ustadz Aam Amiruddin, M.Si pun menegaskan bahwa donasi organ yang mencelakakan hukumnya adalah haram. Berarti, tindakan Tim Thomas (diperankan Will Smith) untuk bunuh diri saat hendak mendonasikan jantung dan matanya dalam film “Seven Pounds” tidak dapat dibenarkan. Penjualan organ tubuh juga miskonsepsi dari hakikat donasi organ, tindakan ini tentu dilarang pula dalam Islam.

Pun segala pemikiran mengenai do’a untuk akhir hidup yang baik, memberi manfaat bagi orang lain bahkan setelah jiwa terjemput, kontribusinya bagi hidup orang lain maupun perkembangan ilmu pengetahuan membentuk pusaran konsiderasi dengan poros ‘lampu hijau’ dari segi agama, saya mulai berpikir; “Apakah saya sebaiknya mulai membicarakan kemungkinan donasi organ tubuh saya nanti dengan orang tua?”  Hehehe. Mungkin ini dapat menjadi salah satu jejak kebaikan yang bisa ditinggal oleh ‘tubuh’ kita selain  amal dan ilmu lainnya. Elok nian membayangkan jika kita mampu mengisi hidup dengan baik, berakhir baik, memberi kebaikan pascaakhir, dan berakhir di peristirahatan abadi yang terbaik. ^^

Sayangnya, informasi mengenai prosedur donasi organ di Indonesia belumlah memuaskan. Nomor kontak yang disediakan hanyalah nomor Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Coba bandingkan dengan situs dari The Organ Procurement and Transplantation Network (OPTN) yang sungguh informatif dan interaktif ini. Ketidakjelasan sistem terkait donasi organ di Indonesia ini yang pada akhirnya membuat saya ragu. Jangan-jangan, meski kemudian terdapat donor yang ikhlas menandatangani pernyataan bersedia mendonasikan organ, sistem pelayanan kesehatan di Indonesia yang justru belum siap.

>> Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah sampean juga pernah mempertimbangkan untuk menjadi donor organ tubuh pascatiada nanti? *Ndoro Kakung banget, hehehe.*


Responses

  1. wah, akhirnya mulai aktif lagi..
    kirain udah pensiun,
    hehehe

    panjang amat ya ceritanya.. males bacanya
    komennya nanti deh..
    :)

  2. klo misalnya mata saya yang didonorin, malah bikin membahayakan ga ya ?? soalnya kan mata saya minus… :(

  3. kamana wae, neng?

    soal kebaikan pascatiada ya? nggak mesti donor sih, makanya ada konsep amal jariyah dalam islam juga, bisa banyak pilihan. Wakaf misalnya, trus nulis buku yang emang bermanfaat, dll.

    Belok sedikit, ya? Coba lihat sosok M. Natsir. Natsir tercatat merintis beberapa lembaga pendidikan dan dakwah, hasilnya juga luar biasa … bisa bertahan sampai sekarang dan membentuk kader-kader yang bagus juga. Ini juga contoh sebuah bentuk ‘kebaikan pascatiada’ yang real dan lebih banyak manfaatnya :-)

  4. aslmkum..numpang bc blog y zka..

    dahsyat nian tulisannya..inspiratif,berani,dan apa adanya.
    btw tentang ‘kampanye’ donor organ..nampaknya ide bagus untuk ditularkan ke orang2..jd makna meninggal dengan husnul khatimah bisa ‘dibumikan’ dan nyata adanya..minimal ada amal kebaikan yg terus mengalir k qt kan manusia yg baik itu manusia yg paling banyak manfaatnya..wallahu’alam

  5. @arazz: yeph, terserah ajah.. ^^

    @niez-nya adit: wah, ndak tau niez.. saya sih lagi kepikiran aja tiba-tiba, jadi nulis deh.. hehe..

    @donny reza: hihi, iya.. kelupaan ditulis poin itu.. bahwa ini merupakan salah satu contoh aja.. makasii, udah ditambahin.. lagipula awalnya cuma mau nulis resensi lho, tentang buku stiff itu.. hehe, malah jadi banyak kepikiran hal-hal lain..

    @imam ks: nuhun, mam.. kumaha damang? sebenernya emang ini lagi fokus ngomongin kondisi ‘tubuh’ pascatiada aja.. bermacam-macam ternyata.. bermacam pula yang bisa direnungkan tentangnya.. =)

  6. Numpang mampir mbak. Mau lihat pingback ke artikel saya. Terima kasih. Nanti kalau ada artikel sejenis, saya akan pingback balasan.
    Apa ada relasi mbak yang berminat membuat blog donor organ? Apa freezer, transporter dan storage-nya sudah ada di RS terdekat? Kalau sudah ada, saya bisa bantu pembuatan aplikasinya.

    Selamat berkarya.

    Salam.

  7. Welcome back
    Huff belum update2 blog ni hahahaha

    Btw Paragliding itu apaan?? Buset dah mahal banget
    250rb

  8. Donor organ ya?? jadi inget baru kemaren nonton film Sepuluh yang ga’ jauh2 dari ngomongin donor organ walopun itu contoh di film itu ngawur.

    Tapi betul kata Mas Donny klo diterawang judulnya terlalu luas nih Kaa.
    **Protes..
    Hehehe…

  9. @lambang: hehe, belom punya relasi demikian mas.. sejujurnya masih iseng doank nulis ini.. terima kasih mas.. salam..

    @ophie: terbang paralayang.. mahal lah, kan terbangnya tandem sama instruktur.. pengen.. huhu..

    @berli: eee, iya juga ya.. hihi.. jadi apa ya judul yang bagus? pe-er buat berli yah.. =P
    film sepuluh yang tentang anak jalanan itu ya? bagus ga? *rada skeptis sama film indonesia*

  10. dunia kedokteran itu menarik yah?
    saya juga sedang demen nonton serial Dr. house.

    tapi sya belum kepikiran nih wat mendonorkan salah satu anggota tubuh saya. mungkin karna kurangnya pengetahuan saya tentang donor mendonor organ tubuh ini. :)

  11. wah.. ga ta juga deh,
    mau ngedonor apa enggak.. liat sikon aja

    tapi klo donor otak buat studi, mungkin enggak..
    pas ngeliat otak albert einstein dalem toples aja udah agak2 kesel..
    males bgt organ gw diobok2..

  12. azka, azka,,,

    postinganmu emang selalu bikin orang tercenung.

  13. he? emang tercenung ada ya? tercengang, termenung, yah, seperti itulah….
    jadi punyabanyak bahan untuk gajar di kelas. hihi..

  14. Nice post,,

    Di film “sepuluh” jg ada tentang masalah donor organ ka..

    Oh ya, saya penasaran sm kejadian di laut itu, itu hukuman adat atau apa? Sampai dihukum terombang ambing di laut seperti itu?

  15. fuiiiiiiiiiih, dal lama ga kesini, hehehe
    pa kabar ka azkaa…
    mmm, mengenai tulisan di atas, koment saya adalah
    *Saiiiiia tidaaaaaaak biyyyysa berenaaaaaaaaaaaang* waaaaaaaaaaaaa

  16. semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah … aamiin.

    banyaknya buku yang disebut, mencerminkan keluasan paham sang penulis, hmm salut. :)

  17. we we we… baru sempet mampir2 lagi ini. okok, masukannya di trima. tapi gmn ya cara melakukannya itu?? hhe. maklumlah tau sendiri situ saya orang baru.

  18. Sama kayak Araz, gua juga males bacanya. Kepanjangan.
    Gua cuman mau ngcucapin: selamat datang kembali ke dunia perblogan.
    Hehehhee

  19. Azkaa..nice posting..

    (dah lama niiyh ga ke sini..)
    pakabar Kaa..?

  20. Aslm,az. No hpmu gnti y? Hub deasy dunks, 727 6 kali. Hehe.. Btw, met milad ya. 20 thn, klo kt ibu deasy sdh hrs dtikahkeun. Mhuhawhaw..

  21. @bedh: iya, tapi aku takut darah.. hhe..

    @arazz: hhi, kok gw malah ngerasa seru ya pas ngeliat tentang otak einstein itu di metro tv? *ada yang aneh dengan gw gak ya?* =P

    @deezeeka: makasi, say.. iya, ganti nomer.. nanti aku SMS insyaAllah GSM dan CDMA-ku ya.. tercenung itu ada kok, cek aja di kamus.. sama dengan termenung dan termangu..

    @eckq: makanya q, itu kabar anginnya aja.. meski emang di situ warganya ambil keputusan sendiri, kayak pas kami di sana, ada rumah ‘babi ngepet’ yang abis dibakar.. gitu dah..

    @ahsani taqwiem: hihi, aku seneng berenang.. meski tekniknya ngasal.. =P

    @firman: amiin.. =)

    @BCN: ih situ, suka situ-situ-an. situ ga tau ya saya ga suka situ-situ-an? =P

    @krismansyah: huhuhu, iya gak apa.. tengkyu.. =D

    @emma: asyik ada mbak emma, hehe.. baik mbak, alhamdulillah..

  22. pascatiada, diksi yg bagusss…
    makin terang aja ni bakat jd cerpenis handalnya…;)

  23. azka-chan..keren deh.. =))

  24. @ ka azkaa..

    wah, seru kah disana? gak ngeri diapa2in ituh ka?

  25. Azkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………
    T_T

  26. @sagoeleuser5: heheu, amiiin.. jarang beut padahal nulis cerpen.. T_T

    @asiah: yay! tengkyu.. minggu depan yuk terbang paralayangnya? atau kapan aja lo sempet deh, asal weekend..

    @ecky: banyak kejadian seru sih, ada yang kesurupan, dll.. tapi alhamdulillah semua oke-oke aja..

    @ophie: ophieeeeeeeeeeeeeeeeeeee.. T_T hahaha.. sup? kangeun!

  27. abis gw uts aj klo gitu, akhir maret.

  28. cerpennya baguuss banget…


Leave a response

Your response:

Categories