#1
Jikalah di hatiku terdaftar nama-nama perempuan yang paling kusayangi, tentu engkau satu di antaranya.
Lewat sudah masa kecil penuh pertengkaran konyol itu. Kini kau menjelma sebagai sahabat nan tak tergantikan. Ke mana rahasia-rahasia ringan itu beralamat. Ke mana kisah dan kesah pun seringkali bermuara.
Tetaplah menjadi bunga matahari itu. Yang tegar menghadang segala. Tetaplah mekar. Tetaplah bersinar.
Doaku adalah nyata. Dalam genggaman tanganmu. Dalam semangatmu. Dalam kepak sayapmu.
#2
Kalaulah pula di hatiku tertuliskan lelaki-lelaki yang paling kusayangi, tiada ragu kupastikan ada namamu tertera di sana.
Sejak dulu aku percaya, kau memiliki masa depan cerah yang menanti untuk kau hampiri. Karenanya sejenak saja, sempatkan dirimu menempuh perjalanan kilas ke belakang. Tanyakan kembali ke mana arah langkahmu. Tetapkan mimpi-mimpi yang hendak kau raih. Sapalah semburat sinar yang menyelinap dari balik tirai jendela kamarmu. Kalau perlu, buka saja tirai itu lebar-lebar. Raih sebanyak mungkin gemerlap yang dapat kau serap. Kuharap kemudian, kau justru ingin keluar rumah, dan berlari mengejar cahaya itu.
Maka ketika itu, aku cukup tersenyum dan menitipkan doaku pada kerikil-kerikil sepanjang landasanmu mengangkasa.
#3
Nan apabila cekat haruku saat menuliskan ini mampu diterjemahkan, maka tiada lain ia akan berarti rasa banggaku padamu.
Kaulah pemuda itu, Insya Allah. Yang termasuk dalam sabda Rasulullah riwayat Imam Bukhari perihal tujuh golongan yang dilindungi Allah sewaktu tidak ada lagi lindungan selain dari pada-Nya. Genggamanmu kini disucikan Al-Quran dan hatimu dibanjiri kebaikan.
Aku iri padamu. Maka tidak hanya doa yang kuendapkan dalam padang pasir di sekelilingmu. Tetapi juga harapan agar kami juga terus dipautkan pada ayat-ayat suci itu. Agar kami pun mampu selalu menetapkan hati kami dalam sujud panjang di penghabisan malam.
#4
Ah, masihkah perlu memberikan pengandaian jika bercerita tentangmu? Kaulah satu dari perempuan-perempuan yang paling kucintai.
Aku menyayangi setiap jengkal senyummu. Setiap gelak tawamu. Setiap naik turun dalam lelapmu. Setiap detik waktumu.
Seringkali, kurasakan bahwa kaulah obat keletihan hati yang paling mujarab. Menempuh perjalanan pulang agar kemudian mampu memelukmu adalah kemewahan tak ternilai. Karena saat itulah, aku tidak pernah -dan tidak perlu- khawatir akan hari esok.
Tidakkah kau rasakan? Seluruh doa kami rapat di tubuhmu. Memohon agar Allah memberikan hanya yang terbaik untukmu. Menjagamu. Merahmatimu.
Cepatlah besar, mawar putihku. Kami menanti cerita-cerita gemilang dari dirimu.
…
: Didedikasikan untuk adik-adikku, para penghias hati yang selalu kelebat dalam Rabithah-ku.

Saya masuk ke mana, nih, Ka?
By: Donny Reza on May 3, 2009
at 12:48 PM
selalu azka yg membuat semangat untuk menulis ini selalu bergejolak…thx ka…=)
By: sagoeleuser5 on May 7, 2009
at 7:05 AM
mau…mauuu….mauuuuu…. “histeris”
By: ahadiati on May 12, 2009
at 6:31 AM
@donny reza: hehe, semua muslimin kan juga didoakeun.. ^^
@sagoeleuser5: wah, yang bikin semangat gw nulis sih banyak, termasuk tulisan2 lo, hehe.. jadi, sama2.. makasih juga..
@ahadiati: boleh, tante.. boleh banget.. =D
By: azkaa,, on May 13, 2009
at 1:43 AM