Posted by: azkaa,, | October 19, 2009

tetapi hujan tak mendengar

“Jangan. Jangan sekarang. Tunggu sebentar.”

Tetapi langit semakin gelap.

“Sedikit lagi saja. Sampai ada yang menjawab panggilanku.”

Gerimis.

“Kumohon. Jangan sekarang. Tunggu. Sebentar. Tunggu.”

Menderas.

“Sejak pagi aku berjalan. Berteriak. Sejak pagi. Sejak kemarin.”

Tetapi langit semakin gelap.


“Apa yang harus kukatakan pada istri dan anakku nanti?”

Air hujan mulai menggenang.

“Untuk terus bersabar?”

Di lelubang aspal.


“Bahwa Gusti Allah ora sare?”

Di pepatah hati.


Enam buah sapu lidi itu ia masukkan ke dalam sebuah plastik hitam.

Lalu dipeluknya erat-erat.


Responses

  1. Huhuhuhu…sedih…..T_T

  2. ka,,menyentuh bangeeeeet……. oiyyya,,,,aku KANGEN ka azka,,,hehehehehhe (annnneh,,,orang ga pernah ketemu ko kangen)

  3. err…tukang jualan sapu lidi, az?

  4. Kok aku sedih ya bacanya?

  5. @all: inspirasinya emang sedih kok, ngeliat bapak-bapak yang jual sapu lidi keliling gitu.. miris.. eh iya, makasih ya udah baca dan komen.. =)

    @dey: merindukanmu juga.. *peluk-peluk*


Leave a response

Your response:

Categories