“Jangan. Jangan sekarang. Tunggu sebentar.”
Tetapi langit semakin gelap.
“Sedikit lagi saja. Sampai ada yang menjawab panggilanku.”
Gerimis.
“Kumohon. Jangan sekarang. Tunggu. Sebentar. Tunggu.”
Menderas.
“Sejak pagi aku berjalan. Berteriak. Sejak pagi. Sejak kemarin.”
Tetapi langit semakin gelap.
…
“Apa yang harus kukatakan pada istri dan anakku nanti?”
Air hujan mulai menggenang.
“Untuk terus bersabar?”
Di lelubang aspal.
…
“Bahwa Gusti Allah ora sare?”
Di pepatah hati.
…
Enam buah sapu lidi itu ia masukkan ke dalam sebuah plastik hitam.
Lalu dipeluknya erat-erat.
…

Huhuhuhu…sedih…..T_T
By: Ophie on October 22, 2009
at 2:52 AM
ka,,menyentuh bangeeeeet……. oiyyya,,,,aku KANGEN ka azka,,,hehehehehhe (annnneh,,,orang ga pernah ketemu ko kangen)
By: dea-dey on October 22, 2009
at 3:48 AM
err…tukang jualan sapu lidi, az?
By: deezeeka on October 24, 2009
at 8:32 PM
Kok aku sedih ya bacanya?
By: Aisha on October 25, 2009
at 3:19 AM
@all: inspirasinya emang sedih kok, ngeliat bapak-bapak yang jual sapu lidi keliling gitu.. miris.. eh iya, makasih ya udah baca dan komen.. =)
@dey: merindukanmu juga.. *peluk-peluk*
By: azkaa,, on November 11, 2009
at 8:45 PM