Telah mampukah kita mengeja, meski terbata, makna segala rasa?

Tak.

Inilah bukti. Bahwa kita terlalu berwelas pada kata-kata. Walaupun batas mereka lampaui sekehendak mana.

Sebagaimana sore ini, kata telah demikian lancang memerahkan langit!

(Kemudian berduyun-duyunlah manusia berimpit di ruas jalanan ibu kota. Berpeluh. Teringat sejak dahulu ayah bunda mereka berpesan, “Beli satu buah toga. Dengan cara mana saja yang Ananda damba. Lalu segera cakar langit Jakarta!”

Dosa zaman, kukira. Sebab jika tidak, lain apa alasan orang tua kini mengemis agar anaknya terus menambahkan beberapa huruf di depan dan di belakang nama pemberian mereka? Seolah arti keberadaan anak mereka, sebatas demi ijazah berpigura.)

Kata telah demikian lancang memerahkan langit. Sore ini.

Andai tidak ada kata, lantas berbahasa cukuplah dengan mengantarkan rasa, langit tidak perlu merah. Ia akan mengerti, bahwa laut pun sedang mengombak rindu.

….. Sesungguhnya, langit dan laut hanya sedang memegang dua kamus yang berbeda.

Duhai, dusta benar kalian; para pencipta definisi. Dusta benar kalian.

About these ads