Selama ini, menjadi beda seolah sama dengan mendosa. Lalu terbentuklah suatu industri besar-besaran yang menjual aneka produk bertujuan satu: agar semua orang menjadi sama. “Tinggi, putih, langsing! Sekolah bergengsi! Karir tinggi! Mobil mewah! Liburan ke luar negeri!” Kejar! Kejar!

Lalu mereka yang berdiri tegak, di antara hingar bingar itu, menyuarakan, “Berhenti! Berhenti! Ini sudah melewati batasan! Siapa bilang semua harus sama? Lihatlah, jauh ke dalam. Jauh ke dalam. Jauh. Jauh. Jauh,” hanya akan menjadi satu lagi orang yang sirik. Tanda tak mampu, katanya.

Pertanyaannya, berdosa pulakah bila mereka yang mencoba menginsyafkan manusia-manusia dengan otak tercuci itu akhirnya menyerah? Letih, barangkali. Tawa cekikik terdengar sayup-sayup, kerajaan industri dengan visi menyamaratakan manusia merasa di atas angin. Taring menancap semakin dalam. Sayap mengepak semakin tinggi. Cekikik, berubah menjadi bahak. Hak hak hak; terbahak.

“Aku tinggi, putih, langsing! Sekolahku bergengsi! Karirku tinggi! Mobilku mewah! Aku sering berlibur ke luar negeri!” Aku sama dengan kalian! Aku korban! Aku korban!

Uangku habis untuk belanja kosmetika. Aku mencontek saat ujian. Karirku tinggi karena direktur perusahaan adalah pamanku. Mobilku mewah dengan cicilan kartu kredit yang mencekik. Peduli dengan pajak, persetan dengan zakat, selama aku bisa mengambil banyak foto-foto aku bergaya dengan Everest, Gobi, Pisa, Istana Buckingham, Air Terjun Niagara, Piramida Mesir, Ka’bah, atau minimal Menara Kembar Petronas dan Merlion sebagai latar belakang.

Tetapi agar aku terdengar rendah hati, nanti akan kutulis sebuah artikel yang menjelaskan bahwa inner beauty adalah yang terpenting. Akan kukirim ke majalah yang isinya tips merias wajah dan membentuk tubuh. Lengkap dengan foto terbaikku. Ah, orang-orang akan membatin bahwa aku cantik luar dalam. Luar biasa, bukan?

Anak-anak kecil dengan dandanan menor, menyanyikan lagu patah hati. Ibu-ibu merengek manja, “Tambah lagi sejutaaa,” setelah tirai satu dan dua ia tolak. Hashtag jerawat mengawali hari remaja putri. Remaja putra lupa jalan menuju masjid, karena nanti tidak akan terdengar keren di Foursquare bila tertulis sedang check-in ke masjid untuk shalat Subuh dan setor hafalan Alquran. Mahasiswa tidak lagi membaca buku teks. Terlalu tebal, kata mereka. Kemampuan membaca telah tereduksi menjadi sebatas 420 karakter. Bahkan 140 karakter. Sementara bapak-bapak sibuk, mencari calon istri idaman. Calon istri kedua idaman. “Rasul saja poligami,” demikian bapak-bapak itu berkata. Duh, sejak kapan hanya sedangkal itu?

Gadis-gadis usia dua puluh bertekad dalam hati, “Aku akan seperti Anna Althafunnisa, yang menetapkan syarat bahwa selama aku mampu melakukan kewajiban sebagai istri, aku tidak mau dimadu.” Film “Ketika Cinta Bertasbih” cukup menjadi dalil mereka. Tidak berusaha membaca lebih dan menggali lebih. Duh.

Bahkan aku belum bicara tentang polisi berkantung ganda, jaksa main belakang, anak-anak yang gantung diri, bayi yang dibuang, bom hijau, air yang melimpah hendak bersabda, hingga kakek yang tewas karena menerobos api untuk menyelamatkan surat pensiunnya. Bahkan aku belum bicara tentang ini. Juga itu. Lalu ini. Serta itu.