<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>when the world's not on ur side &#187; kontemplasi</title>
	<atom:link href="http://azkamadihah.wordpress.com/category/kontemplasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://azkamadihah.wordpress.com</link>
	<description>: hasbunallahu wa ni'mal wakil</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Dec 2009 18:47:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='azkamadihah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ce0a95a6399b1fb22b9aaa77c27cd0dc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>when the world's not on ur side &#187; kontemplasi</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://azkamadihah.wordpress.com/osd.xml" title="when the world&#8217;s not on ur side" />
		<item>
		<title>bisa!</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/06/12/bisa/</link>
		<comments>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/06/12/bisa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 11:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azkaa,,</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azkamadihah.wordpress.com/?p=978</guid>
		<description><![CDATA[
Jauh, jauh sebelum saya membaca buku “The Secret” karya Rhonda Byrne dengan konsep “Law of Attraction” atau “Quantum Ikhlas” dari Erbe Sentanu, saya telah diberikan pemahaman oleh bapak saya tentang kekuatan pemikiran dan korelasinya dengan keberhasilan dalam hidup.

Bapak saya selalu menekankan, tidak boleh takut bercita-cita. Sukses membangun bisnis, menunaikan ibadah haji, mendirikan rumah sakit, sekolah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=978&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-989" title="taken from nabzieemomo.deviantart.com" src="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2009/06/nabzieemomo.jpg?w=300&#038;h=237" alt="taken from nabzieemomo.deviantart.com" width="300" height="237" /></p>
<p style="text-align:justify;">Jauh, jauh sebelum saya membaca buku “<em>The Secret</em>” karya Rhonda Byrne dengan konsep “<em>Law of Attraction</em>” atau “<em>Quantum Ikhlas</em>” dari Erbe Sentanu, saya telah diberikan pemahaman oleh bapak saya tentang kekuatan pemikiran dan korelasinya dengan keberhasilan dalam hidup.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-978"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bapak saya selalu menekankan, tidak boleh takut bercita-cita. Sukses membangun bisnis, menunaikan ibadah haji, mendirikan rumah sakit, sekolah, masjid, panti asuhan, dan lainnya, semua adalah keinginan yang harus terus dipegang erat. Untuk mencapainya, keyakinan pada diri sendiri adalah hal penting. Pemusatan pikiran dan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin akan membantu kita mewujudkan keinginan kita. Hal ini harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik mengenai harapan besar maupun kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh sederhana yang diberikan bapak saya adalah sewaktu beliau menginginkan mobil, maka beliau akan datang ke <em>showroom</em>, memegang mobil yang diidamkan, mencoba duduk di dalamnya, dan mendaraskan doa dalam hati. Allah pun kemudian mengabulkan doanya. Begitu pula dengan rumah, atau sesuatu yang beliau inginkan, beliau akan memegangnya lalu berdoa. Insya Allah, jika kita yakin bahwa kita mampu mencapai sesuatu, selanjutnya semesta akan mendukung atau Mestakung, apabila saya boleh meminjam istilah Yohanes Surya. Hanya saja, tambah bapak saya, konsep ini tidak bisa diterapkan dalam memilih calon istri, “Jangan ujug-ujug (tiba-tiba –red) megang akhwat terus didoain supaya bisa dijadiin istri.” Duh si babeh, ya iyah itu mah!</p>
<p style="text-align:justify;">Sewaktu mendiskusikan buku dan film “<em>The Secret</em>” dengan Arina, adik saya, kami sepakat bahwa ‘rahasia’ yang dimaksud di sana sama sekali bukan rahasia. “Isinya muter-muter di tempat. Kita paham konsep ini sejak lama, Allah mengikuti prasangka hamba-Nya. <em>Law of Attraction</em> malah jadi terdengar tidak relevan dengan mengandaikan <em>universe</em> sebagai jin lampu Aladin yang akan mengabulkan setiap keinginan kita,” demikian kira-kira perkataan adik saya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Quantum Ikhlas</em>” lebih mencerahkan dibanding “<em>The Secret</em>” karena ia menekankan kekuatan ikhlas pada Sang Maha Kuasa. Berlandaskan teori fisika kuantum, buku “<em>Quantum Ikhlas</em>” menjelaskan bagaimana gelombang Alfa yang mencerminkan koherensi antara otak kiri dan kanan akan memungkinkan perwujudan keinginan kita. Dalam buku tersebut juga disisipkan CD <em>Alphamatic Brainwave</em> yang tidak pernah saya dengarkan karena menurut teman saya lebih baik jangan didengarkan. Hehe, <em>wallahu’alam</em> sih ada apa dengan CD tersebut. =P</p>
<p style="text-align:justify;">Di sinilah letak keluarbiasaan Islam, sebelum semua teori tersebut didengung-dengungkan, bukankah sejak dahulu kita telah mendengar hadist qudsi yang intinya memberi tahu kita bahwa Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya? Jadi, melalui cara apa pun, baik itu menerapkan konsep <em>Law of Attraction</em>, <em>Quantum Ikhlas</em>, atau Mestakung, pada akhirnya kita harus tetap menanamkan bahwa semua itu kita lakukan karena kepercayaan kita akan kemahakuasaan Allah dengan “Kun Fayakun”-Nya. Bukan semata-mata karena gelombang perasaan kita memengaruhi dunia ini. Karena maaf, menurut saya ide itu terlalu dangkal.</p>
<p style="text-align:justify;">Kaiysa, adik saya yang berumur lima tahun, beberapa hari yang lalu berbisik di telinga saya, “Kak, kita nggak bisa denger Allah. Tapi Allah bisa denger kita, kan?” Wah, oke banget ucapannya. Inget-inget tuh. Kan sesuai <span style="text-decoration:line-through;">kampanye Jusuf Kalla</span> perkataan Ali bin Abi Thalib, dengarkanlah kebenaran, meskipun dari seorang anak. =)</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, apabila ada di antara teman-teman yang memiliki target IP 4,8 dari skala 0-4 tapi ternyata nilai UTS tidak cukup memuaskan dan belum mulai belajar meski UAS sudah di depan mata (curhat!), jangan takut. Yakinlah bahwa kalian BISA mendapat nilai SUPER BAGUS di delapan mata kuliah semester ini. Karena Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya. Toh semua adalah sangat mudah bagi-Nya. Amat mudah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>: Rabbi yassir wa laa tuassir….</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azkamadihah.wordpress.com/978/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azkamadihah.wordpress.com/978/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azkamadihah.wordpress.com/978/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azkamadihah.wordpress.com/978/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azkamadihah.wordpress.com/978/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azkamadihah.wordpress.com/978/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azkamadihah.wordpress.com/978/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azkamadihah.wordpress.com/978/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azkamadihah.wordpress.com/978/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azkamadihah.wordpress.com/978/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=978&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/06/12/bisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/409913f10f5c1b61ccb00858b7ddb5fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azkaa,,</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2009/06/nabzieemomo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">taken from nabzieemomo.deviantart.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pascatiada</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/02/17/pascatiada/</link>
		<comments>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/02/17/pascatiada/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 23:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azkaa,,</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azkamadihah.wordpress.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.
Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=843&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Tersebutlah dua beda keadaan manusia yang telah dipanggil Allah nan pernah saya saksikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keadaan pertama terwujud sangat tenang. Teduh. Indah. Hal ini saya dapatkan pada wajah kakek yang kepergiannya bahkan tidak saya sadari. Saya kira, kakek hanya tertidur. Hanya setelah nenek dan beberapa anak serta menantunya mengisaklah, saya mengetahui bahwa malaikat telah menjemputnya dengan lembut. Benar-benar lembut. Begitu pula dengan wajah Mbah Uti yang saya cium di ujung pelepasannya. Cantik dan damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan kondisi menyedihkan terlihat pada sesosok jenazah yang mengambang di Laut Kepulauan Seribu. Saya dan kawan-kawan sewaktu itu sedang menyeberang menuju Pulau Untung Jawa. Sang pengendali mesin perahu berkata pada kami, &#8220;Jangan lihat ke arah kanan! Jangan lihat ke arah kanan!&#8221; Dapat diduga, justru sekian pasang mata mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Di sanalah, terombang-ambing di atas gedebong pisang, seorang yang menurut kabar angin adalah pelaku kejahatan dengan pengasingan sebagai hukuman.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-843"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kontras, ya? Itulah visualisasi tersendiri yang selinap dalam benak  saya apabila terkenang perihal akhir hayat manusia. Putih dan hitam itu pula yang menghadirkan gigil saat membaca ayat-ayat akhir surat Al-Fajr, &#8220;Yaa ayyuhannafsul muthmainnah. Irji&#8217;ii ilaa rabbiki radhiatammardhiyyah.&#8221; -Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.- Oh, betapa inginnya terpanggil seperti dalam sabda itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bicara seputar akhir hidup, saya teringat adegan mengharukan dari serial <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Grey%27s_Anatomy" target="_blank">&#8220;Grey&#8217;s Anatomy&#8221;</a></em> <em>Season 4</em>. Orang tua dari gadis muda yang otaknya tidak lagi berfungsi setelah kecelakaan pada suatu episode ditanya oleh dr. Erica Hahn (diperankan Brooke Smith) apakah mereka bersedia agar organ tubuh anaknya didonasikan. Mereka marah dan merasa anaknya pantas diberi waktu lagi untuk &#8216;mencoba&#8217;. Hanya, setelah menyadari kenyataan bahwa bagaimana pun, anaknya memang hanya bergantung pada alat-alat medis, mereka merelakannya. Merelakan dalam artian, kepergian anak mereka dan pendonasian organ tubuhnya. Ini mengantarkan saya pada satu sisi lain dari kematian, yakni kemungkinan untuk terus memberi &#8216;manfaat&#8217; bagi orang lain setelah nafas tiada.</p>
<p style="text-align:justify;">Perihal transplantasi organ tubuh ini menjadi semakin menarik setelah saya membaca buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stiff:_The_Curious_Lives_of_Human_Cadavers" target="_blank"><em>&#8220;Stiff: The Curious Lives of Human Cadavers&#8221;</em></a> karya Mary Roach. Buku sains populer ini ditulis dengan gaya bercerita tentang pengalaman Mary Roach dalam menggali keingintahuannya terhadap kehidupan tubuh manusia pascakematian. Jurnalis cerdas ini menyajikan apa yang ia lihat, dengar, baca, dan rasa seputar kadaver dan kontribusinya dalam penyelamatan hidup manusia lain. Baik kontribusi dari sisi pendonasian organ dan jaringan tubuh maupun sumbangsih bagi penelitian ilmu pengetahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku tersebut, anehnya, tidak menimbulkan perasaan takut atau risih. Mary Roach menempatkan penghormatan dengan sangat baik kala menuturkan subyek kadaver ini. Bahasa yang digunakan bahkan sesantai karya-karya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Paulo_Coelho" target="_blank">Paulo Coelho</a>. Namun jangan salah, begitu banyak sejarah dan pengetahuan medis bertebaran dalam setiap babnya. Seperti halnya serial <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/ER_(TV_series)" target="_blank">&#8220;ER&#8221;</a></em>, <em>&#8220;Grey&#8217;s Anatomy&#8221;</em>, novel <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nothing_Lasts_Forever_(1994_novel)" target="_blank">&#8220;Nothing Lasts Forever&#8221;</a></em> karya Sidney Sheldon, atau buku <a href="http://bukuinsistpress.blogspot.com/2008/01/bila-perempuan-tidak-ada-dokter.html" target="_blank">&#8220;Bila Perempuan Tidak Ada Dokter&#8221;</a>, buku <em>&#8220;Stiff&#8221;</em> ini adalah salah satu cara menarik untuk &#8216;mengintip&#8217; dunia medis.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bab <a href="http://www.maryroach.net/stiffExcerpts.html" target="_blank"><em>&#8220;A Head is a Terrible Thing to Waste&#8221;,</em></a> diceritakan mengenai seminar pelatihan operasi wajah di mana setiap dua peserta mengoperasi satu kepala. Ada empat puluh kepala. Sedangkan bagian lain dari tubuh yang terpisah dari kepala tersebut juga digunakan untuk percobaan di laboratorium universitas-universitas. Beberapa merupakan hasil sumbangan sang pemilik nyawa semasa ia hidup, beberapa lagi diperoleh dengan cara-cara lain. Jenis kerelaan dari donor ketika menandatangani pernyataan untuk menyumbangkan tubuhnya pascakematian pun berbeda-beda. Ada yang hanya bersedia mendonasikan organ dan jaringan tubuh, ada pula yang menyerahkan sepenuhnya keputusan &#8216;penggunaan&#8217; dirinya setelah meninggal pada penanggung jawab donasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mary Roach sendiri sempat <a href="http://dir.salon.com/story/health/col/roac/1999/09/24/brain_bank/" target="_blank">berkeinginan</a> untuk menjadi donor bagi <a href="http://www.brainbank.mclean.org/" target="_blank">Bank Otak Harvard</a>. Namun alih-alih sesuai bayangannya bahwa akan ada otak-otak utuh yang mengambang dalam toples -imajinasi ini mengingatkan saya pada adegan di Departemen Misteri Kementerian Sihir dalam buku <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Harry_Potter_and_the_Order_of_the_Phoenix" target="_blank"><em>&#8220;Harry Potter and the Order of the Phoenix&#8221;</em></a>-, ia justru menyaksikan bahwa otak-otak tersebut dibelah dua. Sebelah bagian otak dipotong-potong lalu dibekukan, dan yang satunya lagi disimpan dalam formaldehid di dalam wadah makanan. Ia pun membatalkan niat ini dan berakhir pada pernyataan bahwa ia bersedia mendonasikan tubuhnya bagi penelitian mahasiswa kedokteran setelah meninggal nanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Islam, mewasiatkan organ tubuh setelah meninggal dunia pun diperbolehkan dan dianggap sebagai kedermawanan penuh manfaat. Hal ini disampaikan Dr. Yusuf Qardhawi dalam <a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Cangkok2.html" target="_blank">&#8220;Fatwa-Fatwa Kontemporer&#8221;</a> terbitan Gema Insani Press. Donasi organ semasa hidup pun diperbolehkan selama tidak membahayakan sang donor. Ustadz Aam Amiruddin, M.Si pun menegaskan bahwa donasi organ yang mencelakakan <a href="http://www.percikaniman.org/tanya_jawab_aam.php?cID=217" target="_blank">hukumnya adalah haram</a>. Berarti, tindakan Tim Thomas (diperankan Will Smith) untuk bunuh diri saat hendak mendonasikan jantung dan matanya dalam film <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Seven_Pounds" target="_blank"><em>&#8220;Seven Pounds&#8221;</em></a> tidak dapat dibenarkan. <a href="http://iklan-iklan.com/iklan/donor-organ-ginjal.html" target="_blank">Penjualan organ tubuh</a> juga miskonsepsi dari hakikat donasi organ, tindakan ini tentu dilarang pula dalam Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Pun segala pemikiran mengenai do&#8217;a untuk akhir hidup yang baik, memberi manfaat bagi orang lain bahkan setelah jiwa terjemput, kontribusinya bagi hidup orang lain maupun perkembangan ilmu pengetahuan membentuk pusaran konsiderasi dengan poros &#8216;lampu hijau&#8217; dari segi agama, saya mulai berpikir; &#8220;Apakah saya sebaiknya mulai membicarakan kemungkinan donasi organ tubuh saya nanti dengan orang tua?&#8221;  Hehehe. Mungkin ini dapat menjadi salah satu jejak kebaikan yang bisa ditinggal oleh &#8216;tubuh&#8217; kita selain  amal dan ilmu lainnya. Elok nian membayangkan jika kita mampu mengisi hidup dengan baik, berakhir baik, memberi kebaikan pascaakhir, dan berakhir di peristirahatan abadi yang terbaik. ^^</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, informasi mengenai prosedur donasi organ di Indonesia belumlah memuaskan. <a href="http://islamabangan.wordpress.com/2009/02/08/kampanye-donor-organ/" target="_blank">Nomor kontak</a> yang disediakan hanyalah nomor Tata Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Coba bandingkan dengan situs dari <a href="http://www.optn.org/" target="_blank"><em>The Organ Procurement and Transplantation Network </em>(OPTN)</a> yang sungguh informatif dan interaktif ini. Ketidakjelasan sistem terkait donasi organ di Indonesia ini yang pada akhirnya membuat saya ragu. Jangan-jangan, meski kemudian terdapat donor yang ikhlas menandatangani pernyataan bersedia mendonasikan organ, sistem pelayanan kesehatan di Indonesia yang justru belum siap.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&gt;&gt; Selamat hari Rabu, Ki Sanak. Apakah sampean juga pernah mempertimbangkan untuk menjadi donor organ tubuh pascatiada nanti?</em> *<a href="http://ndorokakung.com/" target="_blank">Ndoro Kakung</a> banget, hehehe.*</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azkamadihah.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azkamadihah.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azkamadihah.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azkamadihah.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azkamadihah.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azkamadihah.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azkamadihah.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azkamadihah.wordpress.com/843/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azkamadihah.wordpress.com/843/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azkamadihah.wordpress.com/843/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=843&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azkamadihah.wordpress.com/2009/02/17/pascatiada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/409913f10f5c1b61ccb00858b7ddb5fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azkaa,,</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>batas</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/09/10/batas/</link>
		<comments>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/09/10/batas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 09:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azkaa,,</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azkamadihah.wordpress.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[
Ayu Utami mengeluarkan novel baru berjudul Bilangan Fu. Novel setebal 536 halaman ini mengangkat wacana spiritual dan dunia mistik. Namun bukan kegamangan akan hakikat monoteisme yang diramu kental Ayu dalam novel ini yang ingin saya bahas. Bukan pula mengenai Bilangan Fu itu sendiri. Melainkan mengenai seksualitas yang disisipkan oleh sang penulis hampir dalam setiap bab.

Tidaklah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=351&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-352" title="taken from smor.deviantart.com" src="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/09/border.jpg?w=300&#038;h=226" alt="" width="300" height="226" /></p>
<p style="text-align:justify;">Ayu Utami mengeluarkan novel baru berjudul Bilangan Fu. Novel setebal 536 halaman ini mengangkat wacana spiritual dan dunia mistik. Namun bukan kegamangan akan hakikat monoteisme yang diramu kental Ayu dalam novel ini yang ingin saya bahas. Bukan pula mengenai Bilangan Fu itu sendiri. Melainkan mengenai seksualitas yang disisipkan oleh sang penulis hampir dalam setiap bab.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-351"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tidaklah merupakan hal yang baru bahwa Ayu Utami mengangkat seksualitas dalam karyanya. Dua novel pertamanya, Saman dan Larung, juga disesapi hal serupa. Saya membaca karya Ayu Utami setelah ia mendapatkan Prince Claus Award 2000 karena dianggap memperluas batas cakrawala sastra Indonesia. Namun yang hadir dalam benak saya justru satu tanya, batas apakah yang dianggap didobrak Ayu Utami dalam novel Saman tersebut? Bahwa aktivitas seksual (di luar konteks keilmuan) bukan lagi suatu hal yang tabu untuk dibicarakan di Indonesia?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini aneh. Memang, setiap orang berhak menulis apa pun. Akan tetapi, sebagaimana yang pernah diingatkan seseorang pada saya, kita bertanggung jawab atas tulisan kita. Ayu Utami, menurut saya justru membiaskan batas moral dengan mengesankan bahwa hubungan seksual di luar ikatan pernikahan adalah hal yang wajar. Dalam novel ‘Bilangan Fu&#8217; misalnya, dikisahkan sepasang mahasiswa yang kerap melakukan hubungan seksual tanpa rasa bersalah. Sedangkan dalam dua novel sebelumnya, kental dengan cerita tentang perselingkuhan. Saya paham, penyangkalan yang mungkin hadir adalah bahwa penulis hanya mengangkat realitas. Setidaknya inilah yang dikatakan sastrawati lainnya, Djenar Maesa Ayu yang dikenal antara lain melalui &#8216;Nayla&#8217; dan &#8216;Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Realitas tidak selalu dapat dijadikan alibi. Bukankah dengan banyaknya penceritaan hubungan seks di luar nikah dengan memasukkan unsur tersebut dalam sastra, film, dan sebagainya justru membuat seolah-olah hal tersebut adalah wajar? Semerta kemudian, jangan-jangan kewajaran malah berbuntut permakluman? Na&#8217;udzubillahi min dzalik.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain sastra, dalam dunia film pun terdapat tendensi serupa. Adegan ciuman mulai marak hadir dalam film-film Indonesia. Contohnya pada film Ada Apa dengan Cinta, Gie, Buruan Cium Gue, Bukan Bintang Biasa, dan sebagainya. Saya menonton film-film tersebut saat ditayangkan di televisi, dan menyayangkan betapa murahannya dua judul yang saya sebut terakhir. Hanya sampai di situkah kreativitas sineas Indonesia? Saya tidak menafikkan beberapa film seperti Gie, Naga Bonar jadi Dua, dan beberapa film lain yang memang bermutu. Namun bagaimana dengan Quickie Ekspress yang menceritakan tentang dunia gigolo, Kawin Kontrak, dan film sejenis yang jelas hanya mengedepankan unsur bisnis?</p>
<p style="text-align:justify;">Permintaan pasar memang merupakan pertimbangan utama dunia bisnis. Sehingga terkadang, idealisme akhirnya tergadaikan. Sebagai contoh, film Ayat-Ayat Cinta yang beberapa waktu lalu sempat heboh pun tidak sepenuhnya mampu mengadaptasi napas Islam yang seharusnya hadir sepekat mungkin. Adegan Maria yang menghabiskan malam-malam membantu Fahri di sebuah ruangan, hanya berdua, adalah salah satu contoh. Belum lagi adegan berduaan di pinggir (yang ceritanya) Sungai Nil, dan lainnya yang tidak ada dalam novel Habiburrahman el-Shirazy tersebut. Mengapa hal sedemikian terjadi? Sekali lagi, pertimbangan pasar, bung!</p>
<p style="text-align:justify;">Saya memang penikmat literatur dan film. Pos pengeluaran terbesar dari total santunan dana yang diberikan orangtua saya terdapat pada buku. Bukan baju, sepatu, tas, perhiasan, apalagi <em>make-up</em>. Yang demikian seperlunya saja. Sedapat mungkin saya memperbaharui informasi literatur dalam dan luar negeri dan membacanya demi kepuasan pribadi. Sastra klasik maupun kontemporer? Saya suka. Sedangkan soal film, hampir setiap film box office yang sudah dirilis dalam bentuk DVD bajakan seharga enam ribu rupiah per kepingnya di Stasiun Bogor biasanya saya beli. Oh, kecuali film horor. Terima kasih. Biarlah film Tusuk Jelangkung menjadi film horor pertama dan terakhir yang saya tonton. Itu juga karena dipaksa teman. Hasilnya? Selama seminggu setelahnya, liat toilet duduk, liat cermin, buka lemari, selalu deg-degan. Paranoid.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali pada pembahasan unsur seks yang disisipkan dalam bacaan dan film Indonesia, kita tentu mengerti tren ini bermula dari budaya Barat yang dalam banyak sisi tidak berbudaya. Semenjak dahulu, hampir seluruh film Hollywood disisipkan adegan bermesraan yang oleh masyarakat di sana dianggap biasa. Buku-buku ‘chicklit&#8217; yang mengusung identifikasi sebagai bacaan wanita modern juga marak diterjemahkan di Indonesia. Berlatar tempat dan budaya Barat, literatur semacam ini digemari pembaca Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan masuknya buku-buku chicklit (karya Meg Cabot misalnya) ke daftar best seller. Padahal, ya, rincian adegan intim banyak dijabarkan dalam buku semacam ini. Lalu, apa dengan demikian Indonesia perlu ‘memperluas&#8217; batas cakrawala sastra dan dunia film dengan Barat sebagai kiblatnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, Kawan. Bagaimana pendapatmu?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/azkamadihah.wordpress.com/351/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/azkamadihah.wordpress.com/351/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azkamadihah.wordpress.com/351/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azkamadihah.wordpress.com/351/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azkamadihah.wordpress.com/351/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azkamadihah.wordpress.com/351/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azkamadihah.wordpress.com/351/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azkamadihah.wordpress.com/351/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azkamadihah.wordpress.com/351/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azkamadihah.wordpress.com/351/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azkamadihah.wordpress.com/351/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azkamadihah.wordpress.com/351/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=351&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/09/10/batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/409913f10f5c1b61ccb00858b7ddb5fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azkaa,,</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/09/border.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">taken from smor.deviantart.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>retorika</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/08/05/retorika/</link>
		<comments>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/08/05/retorika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 02:40:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azkaa,,</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azkamadihah.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
 
Sekarang begini saja, tak usah lagi berkalkulasi dengan rasa.

Sebab hidup tidak lain kurva nonlinear dengan variabel tak hingga.
Serangkaian iterasi eksponensial pun tiada mampu mengurai dinamika jiwa.
Karena hidup jika tidak degup tetapi pandang namun raba bukan decak melainkan hirup supaya duga sehingga langkah daripada desah maka hela adalah pejam meskipun rona bermakna damba seringkali genggam justru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=263&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-264" src="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/08/math_2_by_cadrre.jpg?w=223&#038;h=300" alt="" width="223" height="300" /></p>
<p align="center"> </p>
<p align="center">Sekarang begini saja, tak usah lagi berkalkulasi dengan rasa.</p>
<p align="center"><span id="more-263"></span></p>
<p align="center">Sebab hidup tidak lain kurva nonlinear dengan variabel tak hingga.</p>
<p align="center">Serangkaian iterasi eksponensial pun tiada mampu mengurai dinamika jiwa.</p>
<p align="center">Karena hidup jika tidak degup tetapi pandang namun raba bukan decak melainkan hirup supaya duga sehingga langkah daripada desah maka hela adalah pejam meskipun rona bermakna damba seringkali genggam justru menggerai lalu khayal berakhir rebah mengubah tawa sebagai dusta.</p>
<p align="center">Ya. Batas rasionalitas memang telah bias oleh relativitas.</p>
<p align="center">Sederhana saja yang perlu kau lakukan. Pegang erat konstantamu.</p>
<p align="center"> </p>
<p align="center">: Nurani.</p>
<p align="center"> </p>
<p> </p>
<p>Tapi, ah. Segalanya kembali pada pertanyaan klasik itu;</p>
<p>&#8220;Pilih merasionalkan hati atau malah menuranikan logika?&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/azkamadihah.wordpress.com/263/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/azkamadihah.wordpress.com/263/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azkamadihah.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azkamadihah.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azkamadihah.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azkamadihah.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azkamadihah.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azkamadihah.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azkamadihah.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azkamadihah.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azkamadihah.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azkamadihah.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=263&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/08/05/retorika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/409913f10f5c1b61ccb00858b7ddb5fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azkaa,,</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/08/math_2_by_cadrre.jpg?w=223" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>monolog</title>
		<link>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/02/06/monolog/</link>
		<comments>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/02/06/monolog/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 17:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azkaa,,</dc:creator>
				<category><![CDATA[kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azkamadihah.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Sisakan seruang tanya pada jiwa, telah mampukah ia berhenti berdusta pada dirinya sendiri? Karena kejujuran nurani bukanlah sebatas hitam atau putih. Bukan pula semata ya atau tidak.

Jujur pada diri sendiri adalah mengakui ketika perasaan takut melanda. Bukan malah berlari karena tidak ingin merasakan getirnya rasa takut tersebut. Dosa itu posesif. Sedangkan usaha lari dari kenyataan serupa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=121&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><img src="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/02/mask1.jpg" alt="taken from donia.deviantart.com" /></p>
<p align="justify"><span>Sisakan seruang tanya pada jiwa, telah mampukah ia berhenti berdusta pada dirinya sendiri? Karena kejujuran nurani bukanlah sebatas hitam atau putih. Bukan pula semata ya atau tidak.</span></p>
<p align="justify"><span id="more-121"></span></p>
<p align="justify"><span>Jujur pada diri sendiri adalah mengakui ketika perasaan takut melanda. Bukan malah berlari karena tidak ingin merasakan getirnya rasa takut tersebut. Dosa itu posesif. Sedangkan usaha lari dari kenyataan serupa candu. Berlari dari kenyataan bukanlah gerak maju, melainkan diam. Sejauh apa pun, secepat apa pun.</span></p>
<p align="justify"><span>Jujur pada diri sendiri bermakna mengakui kesalahan, bukan hanya mengutarakan pembenaran-pembenaran demi ketenangan hati. Kesalahan adalah mozaik terbesar pembelajaran, jadi usahlah salahkan selain diri. Karena bersembunyi dan berlindung dalam pembenaran pribadi pun terbaca sebagai dusta. </span></p>
<p align="justify"><span>Jujur pada diri sendiri berarti meyakini suara hati. Mendengarkan bisikan sayup penunjuk arah langkah yang kadang di luar batas logika. Nan jika suatu saat nurani seakan bungkam, jangan langsung memakamkannya. Karena ia belum mati. Ia hanya meminta rehat dari riuh. Mengajak sejenak berbaring di rerumputan basah, bercengkrama kembali dengan bintang-bintang, hingga akhirnya hembus angin hadir membawa jawaban; pergilah. Pergilah ke mana hatimu membawamu.</span></p>
<p align="justify"><span>Jujur pada diri sendiri ialah melihat dengan jelas apa yang disebut realitas. Pun melihatnya tidaklah dengan menengadah, menunduk, bahkan memalingkan muka. Tapi melihat adalah memandang jauh apa yang ada di dalam. Menggali makna, menghirup intisari. Karena pengetahuan dan realitas adalah dua dimensi relativitas.</span></p>
<p align="justify"><span>Jujur pada diri sendiri yaitu menerima keberadaan cinta dalam hati. Bukan berusaha menepiskannya karena keengganan, ketakutan akan penolakan, atau ketidaksepadanan. Sebab mampu mencintai sepenuh hati pun adalah anugerah. Bukan pula mengumbar duka merasa diri tidak dicintai. Karena setiap belaian udara, air, tanah, hingga sinar rembulan, semuanya adalah pancaran cinta bagi setiap pengembara kehidupan.</span></p>
<p align="justify"><span>Namun sejujurnya, jujur pada diri sendiri tidak lain merupakan proses kontinu memberanikan diri bertutur jujur pada nurani. Memang, terkadang justru kejujuranlah yang menoreh tinta hitam terbanyak dalam catatan ketiadaan. Ia terbias dengan luka. Padahal air mata kebenaran adalah oase hati terindah yang pernah ada.</span></p>
<p align="center"><span>&#8230;</span></p>
<p align="justify"><span>&#8220;Ya. Ini untukmu, manusia angin. Kepada siapa semua mampu menyerahkan gundah, untuk kemudian memintamu menerbangkannya jauh. Karena tidak semua mengerti indahnya rasa sakit itu.&#8221;</span></p>
<p align="center"><span>&#8230;</span></p>
<p align="justify"><em><span>Something takes apart of me. Something lost and never seen. Everytime I start to believe, something&#8217;s raped and taken from me. Life&#8217;s always gotta be messin with me. Sometimes I cannot take this place. Sometimes it&#8217;s my life I can&#8217;t taste. Sometimes I cannot feel my face. Something takes a part of me. Feeling like a freak on a leash. (Freak on A Leash – KORN Ft. Amy Lee)</span></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/azkamadihah.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/azkamadihah.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/azkamadihah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/azkamadihah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/azkamadihah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/azkamadihah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/azkamadihah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/azkamadihah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/azkamadihah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/azkamadihah.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/azkamadihah.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/azkamadihah.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=azkamadihah.wordpress.com&blog=2190387&post=121&subd=azkamadihah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://azkamadihah.wordpress.com/2008/02/06/monolog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/409913f10f5c1b61ccb00858b7ddb5fe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">azkaa,,</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://azkamadihah.files.wordpress.com/2008/02/mask1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">taken from donia.deviantart.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>