
Siapa bilang mengadaptasi buku menjadi sebuah film adalah pekerjaan mudah?
Tidak ada. Karena buku adalah sarana bagi siapa pun untuk mengembangkan imajinasi saat menerjemah setiap kata yang dikandung. Sedangkan imajinasi yang berkelana di setiap ruang pikir pembaca ialah sesuatu yang berada di luar daya duga. Interpretasi yang berbeda tentu menghadirkan ekspektasi yang berlainan pula. Apalagi jika karya tulis yang hendak dijelmakan menjadi tayangan audio visual adalah buku best-seller. Tuntutan berbagai pihak yang menuntut kesempurnaan film adalah tekanan tersendiri untuk para sineas yang terlibat.
Itulah mengapa saat akan menyaksikan pemutaran film Laskar Pelangi, saya berusaha menepikan terlebih dahulu bayangan yang telah terlanjur terpatri mengenai kisah anak-anak Belitong pengejar mimpi itu. Lalu bersama lebih dari seratus penonton di studio, saya hanyut dalam alur cerita yang mengalir mudah dicerna.











