Posted by: azkaa,, | February 14, 2008

19.

taken from burntlimbs.deviantart.com

..

Allah, semasa pun usah kau lerai aku dari peluk-Mu.

eratkanlah, eratkanlah.

karena tak pernah mampu kutempa usia tanpa-Mu.

sempurnakanlah peran dan kewajibanku sebagai wanita, anak, sahabat, kerabat, pembelajar, pencinta, pemudi bangsa, penghuni bumi, dan hamba.

jadikanlah semua itu hanya untuk mengharap ridha-Mu.

19 hanya angka. tidak lebih.

yang kudamba adalah keabadian di sisi-Mu.

barakallah juga untuk mybluvedtwinbro-araz (150289), sepupu perempuan saya-khonsa (150292), mr. batman wanna be (040288), myluvlylilsista-kaiysa (190204), myluvlymom (200265), abangbayu (240288), 2ndlilsista-arina (260291). semoga selalu diberi yang terbaik oleh Allah, dan kita semua dipertemukan di Jannah-Nya kelak.

Posted by: azkaa,, | February 6, 2008

monolog

taken from donia.deviantart.com

Sisakan seruang tanya pada jiwa, telah mampukah ia berhenti berdusta pada dirinya sendiri? Karena kejujuran nurani bukanlah sebatas hitam atau putih. Bukan pula semata ya atau tidak.

Read More…

Posted by: azkaa,, | February 5, 2008

bali through the lens

Alhamdulillah, akhirnya pulang juga! Capek, tapi puas. Berbeda dengan trip saya ke Bali sebelum-sebelumnya, kali ini kami menginap di daerah Pantai Sanur. Biasanya di daerah Pantai Kuta. Saya sudah senang aja karena ada kesempatan mengambil foto matahari terbit di Pantai Sanur. Wong tinggal salto tiga kali kok dari hotel. Tapi, apa daya. Setiap habis shalat Subuh, AC kamar, tempat tidur empuk dan selimut hangat selalu saja menggoda saya untuk kembali merajut mimpi. Hoho. Malam terakhir saya di Bali, saya bertekad untuk tidak tidur. Berhasil! Sampai sebelum Subuh, saya masih asyik nonton HBO. Eh, malah hujan deras. Ya nasib, ya nasib. Saya gagal dapet foto sunrise, saudara-saudara! *Nangis bombay*

Seperti biasa, saya melakukan kesalahan bodoh. Baterai kamera DSLR Canon EOS D400 saya ketinggalan di Bogor. Sadarnya pas udah nyampe Bali. Akhirnya saya merayu bapak saya untuk membelikan baterai lagi. Oh jelas, sebelumnya saya diomelin dulu. Tapi ya sudahlah, yang penting saya bisa hadir kembali di dunia blogosphere Indonesia. Kali ini, laporan perjalanan saya akan dirangkum dalam foto-foto. Makanya judul postingan ini Bali Through the Lens. Sebagai informasi, saya ini fotografer amatir. Jadi, silakan memberi saran atau kritik terhadap foto-foto saya berikut.

Read More…

Posted by: azkaa,, | January 5, 2008

when i’m gone

taken from vampire-zombie.deviantart.com
-
-
well, lights will guide me home.
Posted by: azkaa,, | September 21, 2007

mendadak dangdut

dan setepat dugaku malam ini kau akan sudi kembali sepasti bayangku ironi meneguh teorimu bahwa bertolak belakang bukan bermakna magnet berkutub sama melainkan kau dan aku seharap itu aku ingin endap prasangka kau jadikan tiada hingga kau mampu menerjemah tanpa ekspektasi tanpa prejudis dan mungkin saja akan kau temukan aku dalam ringkuk lain aku yang berdiri di sana di dunia kita biasa berada berbagi tafsir sintaksis dunia yang hempas rasa hingga tenggelam tak terselamatkan

karenamu.

tidak. aku tidak sedang merayu.

dan tidak akan pernah.

sebab sebait saja,

dalam puisiku, adakah aku pernah?

sedang sebait saja,

dalam puisimu, pernahkah aku ada?

Posted by: azkaa,, | September 8, 2007

setelah akhir

tanah merah ini masih basah.
langkah-langkah, menjeda desah.

menerka tiba.
sedang jika malaikat berputih saja,
lalu hitam itu apa?

o segala abstraksi!
ayat angin yang berpuisi,

di mana tersirat hujan memakna.
juga dedaun yang dihempa.

apa kau ajar apa kalian beri tahu apa
selama aku ada?

malaikat itu hanya tanya,

man rabbuki?

apa siapa tuhanku apa siapa
aku harus jawab apa
harus jawab apa aku
jawab apa aku harus
apa jawab aku harus

malaikat itu hanya tanya,
siapa tuhanku?

ketika jawabku tiada,

tanah ini,
tidak lagi merah.

meski masih basah.

o segala definisi!
beri aku jawab, akan tanya ini.

man rabbuki?

Posted by: azkaa,, | September 3, 2007

ragu

masih jadi satu tanya

pernahkah ragu melindap rasuk hatiMu, Kasih?
atas setia sumpahku: tiada lain satu kecuali diriMu

sedang meski surat cintaMu tak jua bosan kurengkuh
mengusangkan helainya dengan sedu
dan tak kutemui melainkan kebenaran

satu tanya itu masih sergap menyelinap:
adakah sungguhnya Kau tak pernah percaya,
akan syahadatku?

pun jika benar adanya,
katakanlah
dengan apalagi harus kusemai rasa?

-sedang ilalang kering di sepanjang pandangku,
hanya menjelma namaMu-

atau cukuplah kau jawab:
ketika jumpa di Mahsyar nanti
akankah Kau teduhkan aku, Kasih?

sebab jika tidak,
aku tak perlu aku.

Posted by: azkaa,, | September 1, 2007

nisan tak bertuan

demikianlah. adalah bukan bunga,
apa tertebar di pusara.
namun serupa duka, doa.

terjemahkanlah:

nisan ini tak tertulis apaapa.
tanggaldunia tanggaltiada,
bahkan nama.

terjemahkanlah!

agar munajat ini,
mampu kualamatkan.

: masih untuk lelaki tua tak bernama

Posted by: azkaa,, | August 30, 2007

lelaki tua itu, tak bernama

Lelaki tua tak bernama itu menatap batu nisannya sendiri
Lirih, “Aku memahatnya, dengan tanganku
dengan peluhku
Nanti, kau hanya usah tulis tanggalku tiada.”

Merepih hati terisak terserak,
aku teredam diam

“Sore ini, aku mulai menggali liangku
Hingga nanti
kau usah baringkanku saja.”
Lelaki tua tak bernama itu berkata
sambil melipat rapi kafan putih
lalu meletakkannya di atas dipan bambu

Sesak,
tak kuasa kutahan bening mengalir
dari sudut mataku

Kugenggam perlahan keriput tangannya
Menjawab pintanya
lagi-lagi dalam diam

Kala malam purnama
Lelaki tua itu masih tak bernama
Pun dalam senyum terukir
Samar ia berbisik,
“Hadapkan aku ke kiblat.”

Posted by: azkaa,, | August 18, 2007

keentahan

dia memiliki dunianya sendiri, kepahitan. dalam pekik terbungkam.

“adakalanya berbahasa tak butuh kata-kata. seperti tangisan tak perlu air mata.”

dia, yang berkata malam seharusnya tidak hitam.

dia, yang menoreh sendiri lukanya.

dia, aku.

Posted by: azkaa,, | August 15, 2007

serenade doa bunda

Betapa setetes saja
Cukup bagiku, bunda
Air mata doamu
yang tersungkur setia
dalam sujud tahajudmu
Sungguh cukup
tuk melapur pedih duka
menguatkan kembali langkahku

Meski cukup setetes saja
Sajadahmu basah, Bunda

Posted by: azkaa,, | August 15, 2007

metamorfosa jiwa

Bayang senja memanjang
Seorang jalang di antara ilalang
Mencumbui kesunyian yang menghanyutkan
Terlalu letih,
tuk kembali bermain sandiwara
Topeng-topeng atas nama cinta
berlari mengejar fana
.
Purnama menyela
Wanita hina terlena
Mencium sujud, syahdu
Berbisik pada seekor kupu kelabu
“Terbanglah, sampaikan pada pencipta skenario cinta
Besok, babak baru
Aku ingin peran lain
tanpa topeng…”
Ia pun telanjang
berharap semua cacat ikut terbuang
Posted by: azkaa,, | August 15, 2007

pergi

pucat.
sengal-peluh.
berlari, ”dosa! dosa! dia terus mengejarku!”

ah.
sudah kubilang, dosa itu posesif.

« Newer Posts

Categories