“Percayalah. Aku sudah mencoba. Namun mengucapkan selamat tinggal padamu bukanlah hal mudah.”

Karena di sinilah duniaku. Menadahkan tangan dan menyaksikan rintik kata jelmakan diri sebagai ribuan sayap kecil yang mengutuh satu. Mencurah segala dan membiarkan ia menjadi saksi perjalananku -tanpa pernah, sekali pun, ia mencoba alih peran sebagai hakim di hadapanku.

Bersamanya, putaran jarum jam seolah tiada arti. Bahkan setelah letih tertawa juga tersedu, diam yang jeda tidak lantas menuntut apa-apa. Jika sudah demikian, biasanya ia beranjak dari sofa panjang tempat kami saling menyandar dan meninggalkanku yang masyuk dengan pikiran sendiri. Ditelusurinya rak buku di ruang tamu kami. Namun tiba-tiba ia kabur bersama derai tawa usai buang angin tanpa tahu malu. Kuumpat ia dengan lemparan bantal sofa lalu segera membuka jendela lebar-lebar. Menyelamatkan diri dari kemungkinan muncul di ujung kolom surat kabar kota sebagai korban pembunuhan tak terencana. Keracunan gas.

Bersamanya, tidak pernah kudapatkan tatapan jengah yang kerap lintas dari orang lain kala kuceritakan tindakan konyol yang telah dan akan kulakukan. Ia hanya dengan santai mengambil segelas air putih dan lagi-lagi tertawa. Lalu dengan puas menyombongkan diri bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang lebih konyol. Semerta, di dekatnya, aku merasa diriku baik-baik saja. Penerimaan tanpa syarat dan pembebasan dari bayang ketakutan adalah anugerah terbesar yang kuterima melalui dirinya. Ia layaknya buku harianku semasa sekolah dasar dengan gembok kecil yang selalu dapat kupercaya.

Karena di sinilah duniaku. Menyuguhkan linang dan binar bagi apa pun yang hendak ia ungkap. Menghadirkan diri untuk selalu ada, tanpa praduga, sebagaimana dirinya termakna bagiku.

Ada, saat ia menggigit bibir dan menggagu salah tingkah. Dengan delik curiga kutebak arti kegugupannya. Ia tampak lega karena aku paham. Maka detik itu juga buncahlah cerita dari bibirnya. Kunikmati saja euforia itu. Dalil serta sabda kelu di pangkal bicara. Perang batin berkecamuk dan malaikat penyampai ayat tersungkur kalah. Aku diam. Kuaduk pelan Es Doger yang ia belikan setelah sesi pengakuan tadi. Ya sudahlah, setidaknya orang yang berbunga-bunga seperti ia pasti akan lebih murah hati. Kusimpan dalam ingatan, besok akan kuminta ia menraktirku Mie Ayam dan Jus Mangga di warung dekat Ramayana.

Ada, kala ia mengaku letih dengan dunianya. Sehabis memastikan ketebalan dompet berada di level aman, kutemani ke mana pun ia berniat rehat sejenak. Seringkali ia bahkan tidak tahu arah tujuan. Tetapi kuizinkan saja beberapa urusanku tertunda untuk lalu duduk di sampingnya. Menerjemah kekalutannya lewat pantulan raut di kaca jendela bus yang bias oleh lampu berlatar malam. Sayangnya terlalu sulit bagiku untuk membaca bahasa jiwa yang ia cipta sendiri. Akhirnya kupejamkan mata sewaktu sang iPod mendendangkan lagu kesukaanku. Tidak sadar bahwa hujan turun sangat deras selepas itu.

Karena itulah, ketika ia pergi -tanpa mampu kucegah sebab ia mengiris pergelangan tangannya di suatu kamar terkunci dan mengacuhkan aku yang hampir gila berusaha menghentikan-, duniaku repih terserak. Pudar dan hilang bentuk. Seperti sebuah lukisan cat air yang tersapu hujan.

: Luruh.