“Faktanya, kau tidak pernah mencegahku pergi. Sebagaimana kau tidak pernah mencoba menunjukkan arah pulang untukku.”

Di tengah gesa, kusempatkan menulis surat ini untukmu. Mencoba menyibak tirai beku yang dulu kucipta agar aku tak perlu menjelaskan apa-apa. Lagipula aku tahu kau membenci alasan. Kau hanya peduli akibat. Karena bagimu, sebab adalah sesuatu yang masih mungkin ditawar. Sedangkan akibat tiada bisa diganggu gugat.

Kepergianku, dengan cara ini, tidak bermakna sedalam itu bagimu. Duniamu tidak runtuh. Aku mengamatimu terus berjalan. Berdiri semakin tegak. Juga semakin, berpendar? Ha! Syukurlah. Aku turut berbahagia untukmu. Dengan demikian satu-satunya yang perlu kukasihani hanya diriku.

Sejujurnya, aku tidak pernah pergi. Tadi aku sekadar mengutip diksimu. Yang sungguhnya terjadi ialah, aku terlalu jauh berjalan. Hingga tiba-tiba tersadar dalam huyung bahwa aku lupa jalan ke rumah.

Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang. Tidak, aku tidak lupa tawa pongah kita yang menyabda pulang hanyalah metafora. Rumah adalah di mana hati kita berada. Ternyata, seiring kembara hati, konsep itu tidak lagi mudah dimengerti.

Nanti kan tiba saatnya, kakimu lelah mengayuh. Tangan letih mendayung. Ketika itu, yang kau inginkan hanyalah memejamkan mata. Melupakan semua. Merasa yakin bahwa di pagi hari, akan ada hidangan hangat di meja makan dan sapaan “Jangan berangkat sebelum sarapan.”

Sayang, hari makin malam dan belum mampu kutemukan jalan menuju rumah. Tersesat.

: Padahal itulah pertama kalinya aku merasa ingin pulang.