taken from vanishing_s.deviantart.com

Dalam ilmu fisika, waktu dan ruang menempati posisi fundamental. Mereka berdiri sendiri, tidak ada besaran lain yang ikut menentukan keduanya. Hal ini berbeda dengan energi, gaya, dan kecepatan yang besarannya justru turut ditentukan oleh waktu dan ruang.

Basis ilmiah (biasanya) membuat saya merasa lebih yakin terhadap suatu pernyataan. Dengan demikian, sejalanlah jika fakta fisika di atas lantas menambah kepercayaan saya bahwa ayat-ayat Allah memanglah niscaya; “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3) Jelas sudah betapa esensialnya waktu sampai Allah pun bersumpah mengatasnamakannya.

Ilustrasi sederhana tentang waktu yang terbayang oleh saya terkait dengan kajian manajemen. Kalkulasi pengoptimalan suatu produksi dapat ditinjau dari output yang diharapkan atau input yang telah ditetapkan. Ketika bicara mengenai waktu, maka keduanya harus kita pertimbangkan. Asumsinya, output adalah kualitas diri dan input adalah waktu. Dengan sumber daya waktu konstan 24 jam, bagaimana cara menghasilkan diri yang semumpuni mungkin di mata Illahi?

Sejauh yang mampu saya simpulkan, kata kuncinya terletak pada aspek manfaat. Konsep waktu dalam Islam tidak semudah yang dikatakan Bertrand Russel, seorang filsuf Inggris, “The time you enjoy wasting is not wasted time.” Alquran dan hadits mengajarkan bahwa nilai waktu berkorelasi langsung dengan manfaat yang tercipta di antaranya, seperti yang termaktub dalam surat Al-‘Ashr dan hadits ‘lima perkara sebelum lima perkara’. Optimalisasi masa ini dapat kita laksanakan dengan menganut paham manajemen waktu dan fastabiqul khairaat (berlomba-lomba dalam kebaikan).

Banyak teknik dan teori seputar manajemen waktu. Salah satunya dilempar oleh Stephen R. Covey bahwa yang terpenting dalam mengatur waktu adalah berbuat efektif dan proaktif dalam merencanakan, memprioritaskan, dan mengorganisir agar tujuan kita tercapai. Dari apa yang telah saya pelajari, inti manajemen waktu terletak pada prioritas. Beberapa konsep prioritas dijelaskan dalam “The Pickle Jar Theory”, “ABC Analysis”, “Pareto Analysis” atau “80-20-Rule”, “The Eisenhower Method”, dan “POSEC Method”.

“The Pickle Jar Theory” meski tidak ilmiah tapi mampu memberi gambaran bahwa dalam mengisi ‘toples’, urutannya adalah dengan ‘batu yang besar’, ‘kerikil’, ‘pasir’, barulah ‘air’. “ABC Analysis” –metode ini yang kemarin keluar dalam soal UAS Manajemen Produksi Operasi, hehe- adalah teknik pembagian hal-hal yang perlu dilakukan berdasarkan kriteria A (penting-mendesak), B (penting-tidak mendesak), dan C (tidak penting-tidak mendesak). “Pareto Analysis” adalah ide bahwa 80% tugas dapat diselesaikan dalam 20% waktu yang tersedia sedangkan 20% tugas membutuhkan 80% waktu. “The Eisenhower Method” membagi kegiatan dalam kuadran penting/tidak penting dan mendesak/tidak mendesak. “POSEC Method” adalah singkatan dari Prioritize by Organizing, Streamlining, Economizing, and Contributing.

Sementara itu, perihal berlomba-lomba dalam kebaikan, saya menyukai kalimat-kalimat yang digunakan Salim A. Fillah dalam buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim”; “Di sudut-sudut ego yang tajam, manusia merasakan keasyikan dalam tantangan dan persaingan. Dan hidup ini memang kompetisi. Ia berjalan dalam batas antara kehidupan dan kematian. Di antara dua titik itu, berlaku sebuah fungsi waktu, untuk menguji optimalisasi potensi, siapa di antara kita yang terbaik dalam karya.”

Sebagai kilas contoh mengenai persaingan amal, izinkan saya bercerita tentang suatu wejangan selepas shalat dari seorang Annisa (sebutan untuk ustadzah) di Asrama Putri Universitas Abu Nuur, Damaskus, Syria. Beliau bertutur, “Kita seharusnya malu pada Fulanah, teman kita yang sekarang sedang pulang ke Jepang. Ia adalah mu’allaf. Namun lihatlah, semangat ibadahnya terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan kita. Selalu mendapat peringkat atas di universitas dan hafalan alqurannya melesat tajam.

Anak-anakku, ingatlah kisah ‘Umar yang merasa rendah karena ia ‘terlambat’ masuk Islam dibandingkan Abu Bakar sehingga ‘Umar selalu ingin mengungguli Abu Bakar dalam beramal. Tetapi Abu Bakar mampu memenangkan kompetisi tersebut. Andaikata Fulanah adalah ‘Umar, kita harus menjadi Abu Bakar. Jangan berjalan terlalu santai dan merasa aman hanya karena kita melewati garis start lebih awal dibandingkan Fulanah.”

Sekitar tiga puluh penghuni asrama putri yang mendengarnya pun kasak-kusuk dan nyengir. Kata-kata Annisa sungguh tepat menghujam jantung, seperti judul lagu Tompi. DALEM!

Saya pun teringat hikmah lain yang saya dapat di Damaskus seputar nilai waktu, optimalisasi, dan kompetisi berjudul “fastabiqul khairaat”. Di tanah Syam tersebut, jamak nian bagi muslimin walmuslimat untuk menenteng tasbih ke mana pun mereka pergi. Misalnya saat memasuki angkutan umum, setelah mengucap ‘Assalamu’alaikum’ pada para penumpang lain (kecuali perempuan demi menjaga suara), mereka duduk dan tidak lama kemudian bulir-bulir tasbih akan memutari jari mereka. Banyak pula di antara mereka yang lantas membuka alquran dan membacanya lirih. Subhanallah.

Bukan hal yang mustahil fenomena tersebut hadir di Indonesia. Yuk, kita mulai dengan diri kita masing-masing. Kita bisa mulai mengucapkan salam kapan pun memungkinkan. Lalu isilah telepon genggam kita dengan murattal dan alquran digital (kalau saya memakai software dari ASGATech); atau bawalah mushaf kecil. Setiap kali luang, siramilah kalbu kita dengan surat cinta dari Allah tersebut. Mudah-mudahan, dengan membiasakan kebaikan kecil –yang insya Allah bernilai besar di mata Allah- seperti ini akan mengimbas pada tumbuhnya kebaikan besar yang lain.

Demikian kiranya tulisan pengingat bagi saya pribadi yang masih sering lupa akan hakikat waktu ini. Saya sadar bahwa pembahasan tentang waktu yang saya kemukakan belumlah komprehensif. Karena sebenarnya ini hanya satu dari sekian artikel renungan yang saya jadikan alat evaluasi diri. Namun genre tulisan yang sekarang rasanya cocok juga untuk disajikan di teras gubuk saya, sehingga tidak harus ditepikan dalam gua jiwa, hehe. Apabila ada yang tidak berkenan, mohon dimaafkan, ya. Masukan dan tambahan apa pun akan sangat berarti bagi saya. =)

“Ya Allah, tuntunlah kami agar selalu bisa menambah pundi manfaat dalam setiap putaran waktu yang Engkau amanahkan. Berilah kami kemampuan memperoleh kebaikan dalam keadaan bersandar maupun berlari. Sampaikan kami ke akhir masa dengan sebaik-baik amal dan ilmu. Hanya Engkaulah penguasa keberadaan dan kemuliaan waktu.”

Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan, telah jelang di hadapan. Mari kita sambut dengan hati yang lebih suci, tekad yang lebih kuat, dan rindu yang lebih dalam. Semoga kita siap berlomba menuju ridha-Nya dan berhasil memanfaatkan setiap detik yang detak sepanjangnya. Mohon maaf lahir dan batin, ya. ^^