“Tak tak tak.”

Ini hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Duk duk duk.”

Tiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh kali pula dia membangunkanku dengan cara ini.

“Tak.”

Bukan dengan kecupan di kening. Pun segelas susu coklat hangat. Apalagi sekuntum bunga.

“Duk.”

Tetapi percayakah bila kukatakan, ini ucapan selamat pagi termanis yang pernah ada?

“Tak tak.”

Karena setelah dingin ini kusibak, lamur ini kuabaikan, dan ringkih ini kutegakkan, segera akan kujumpai dirinya berdiri di balik pagar itu. Menungguku.

“Duk duk duk duk.”

Dengan senyum yang sama. Binar mata yang sama.

“Allahu akbar, Allahu akbar.”

Maka demi semua itu, aku akan segera bangun. Menyeret sandalku untuk berwudhu dan menyusulnya ke mushola beratap rendah di seberang rumah.

“Allahu akbar, Allahu akbar.”

Mushola tua yang pekarangannya sedang ia sapu ketika arah mata kami pertama kali bertemu. Aku ingat wajahku memanas saat itu, merona begitu sebuah senyum terulas darinya.

“Asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu alla ilaha illallah.”

Meski samar saja senyum itu terlihat. Sebab tak lama, pandangnya pun menunduk lekas-lekas.

“Asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu alla ilaha illallah.”

Sejak itu, kuhabiskan waktu lebih dari setengah jam di depan cermin setiap kali hendak berangkat mengaji.

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Kisah berlanjut dalam restu. Hari pertama setelah terikat janji, dia berkata, “Aku mencintaimu karena Dia yang menitipkan cinta ini kepadaku. Maka izinkan aku menemui-Nya terlebih dahulu setiap hari, sebelum aku menemuimu.”

“Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Inilah mula dari perannya untuk selalu mengajariku, adalah Allah di atas segala.

“Hayya ‘alash sholah, hayya ‘alash sholah.”

Adzan akan segera berakhir, aku harus bergegas menyibak dingin, mengabaikan lamur, dan menegakkan ringkih ini.

“Hayya ‘alash sholah, hayya ‘alash sholah.”

Mengambil air wudhu. Mengenakan mukena. Menyeret sandal.

“Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah.”

Mendirikan shalat sunnah dua rakaat. Menjadi makmum shalat Subuh berjama’ah.

“Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah.”

Berdzikir. Berdoa. Membaca kitab suci.

“Allahu akbar, Allahu akbar.”

Lalu akan kutemui sosok yang berdiri di balik pagar itu.

“Laa ilaha illallah.”

Sosok yang selalu mengecup keningku, sebelum kemudian menggandengku pulang.

“Kukkuruyuuuk.”

Itu hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Petok, petok.”

Ketika untuk pertama kalinya, aku berdiri demikian lama di balik pagar itu. Menunggunya.

“Ciap, ciap.”

Aku berdiri demikian lama. Tersenyum, mengingat beberapa tahun yang lalu, ini berarti tamu bulanannya hadir tiba-tiba dan dia tidak berangkat ke mushola.

“Petok.”

Terlalu lama. Untuk menyadari ia memang tidak akan menghampiriku. Untuk akhirnya mengetahui, ia tidak akan lagi.

“Ciap.”

Itu hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

Kukkuruyuuuk.

Kali pertama aku tidak lagi menyeduh dua gelas susu coklat.

“Petok.”

Meletakkannya di meja beranda berpandangkan kebun mawar yang kami tanam bersama.

“Petok, petok.”

Lalu menanti dirinya menyajikan sarapan yang aromanya sudah lebih dulu menggoda.

“Ciap.”

Itu hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Ciap.”

Kali terakhirku menjadi mu’adzin mushola depan rumahku.

“Ciap.”

Karena semenjaknya, terlalu sedu aku menangis. Bahkan sebelum takbirku sempat berkumandang.