1.

Seusai terkisah seorang anak yang dipintakan ayahandanya memakukan tiap alpa diri di pagar kayu, lantas melepaskannya setiap perbuatan baik dilakukan, kupatut hati berluka-luka.

“Benar, Ayahanda, akan selalu ada bekas pada lelubang paku terpancang. Tetapi, tidakkah kau sudi ajarkan aku cara mendempul kayu? Lalu, ini lembar-lembar ribu tabunganku. Kiranya cukup, aku izin membeli dempul dan cat kayu ke toko bangunan di depan gang rumah kita. Pelajaranmu jangan kau henti sampai di sini, Ayah. Yakinkan aku bahwa pengampunan Tuhan menyamudra luasnya, dan upaya menutup salah laku kata dengan bertatih dalam kebaikan adalah sebuah perkenan.”

: Coretan singkat bertinta biru pada kertas bekas itu, yang kutuliskan di sela gigilku (dan –mu) berlaku pula padaku.

“Karena bila tidak, hancur benar hatiku, Ayah. Hancur benar –mengetahui telah kucipta lubang tak tertambal berjua apa, berjarak tak terengkuh.”

2.

Bila mulai kuisakkan segala, tidak lebih karena maluku, Tuhanku. Betapa tidak. Betapa tidak.

Khianatku adalah dedaun gugur yang tiap dini hari Kau tepikan, diam-diam.

Tetapi, kubanggakan taman itu bagai lupa, pada mereka yang singgah. Bagai lupa, akan ada hari, tiada yang ranggas luput digelar kembali.

: Hari Engkau berhenti menyapu dedaun dosaku dalam sunyi

3.

Sebagaimana liukan tajam dan decitan ban pada kecepatan tinggi itu hanya berbekas dua gegaris hitam di jalan tol; tanpa nama tanpa tanggal, hanya seperti itulah kisah kita bagi mereka kelak.

Sementara, kau merupa font Georgia yang selalu kupilih sebelum mengetikkan apa pun ruapan hatiku. Pula kau menjelma tab-tab peramban dunia maya, berderet tiada habisnya, di malam-malam sulit tidurku.

Maka biarlah mereka mengenang dua garis hitam meliuk di kilometer sekian itu, membicarakan mendesahkannya sekadar berapa menit.

Sementara, purnama pucat menyaksikan gelak kita berkilo-kilometer, sampaikan syukur pada Sang Penaut Jemari.

: Sajak Kilometer Nol

4.

Serupa penari yang hentakkan kibas liuk tubuhnya sepenuh jiwa, sedalam itu aku berusaha menelusup dalam tiap kata-kataku. Kutuliskan mereka penuh permisi. Hati-hati.

Mengalun. Mengayun.

Tetapi terkadang, kubiarkan mereka menggelegar sekehendaknya. Tanpa koreografi. Membentak. Merangsek denyut dengan ketiba-tibaan.

“Diam! Diam kalian semua! Ini memang anekdot sok suci, lalu apa? Mau apa? Kalau kutipan-kutipan ucapmu telah tertulis di jurnal-jurnal ilmiah tentang hakikat kehidupan, perempuan yang tersisikan, lelaki berguling cangkul, sepeda berkeranjang penuh bunga, nama-nama di sudut buku tulis, tulang balut kulit berjalan bernama anak-anak di pelosok bumi, barulah kau titahi aku lagi. Bila belum, maka tinggalkan aku sendiri.”

Lalu tersisalah aku dalam engah. Sesak terkapar. Menyadari, bentakanku pada jamur di sudut langit-langit kamar barusan, adalah hal tersedih yang pernah kualami.

Ritual sunyi –dan mungkin kopi, hanya mampu dipahami para seniman. Begitu mereka bilang.

“Seniman itu, mampu ndak hanya ngomong cinta. Soalnya kalau tentang cinta, semua orang mendadak seniman,” Jamur di sudut langit-langit kamarku masih saja bicara.

Ingin aku menyalak lagi pada jamur-jamur hitam itu. Namun guna tiada terasa. Jadi sudahlah, aku mengangkat bahu.

Botol-botol air mineral kosong di meja riasku saling senggol, berdecak, “Aduh kasihan, kasihan.

5.

“Sudah lama gitarmu tidak mendentingkan kicau burung, terbit mentari, dan rona semu di pipi kekasihmu,” kusapa ia tanpa basa-basi. Hanya sekalimat itu saja, terkirim bersama nasi yang kusiapkan untuknya.

“Petikan gitar juga mengenal diksi, sepertinya. Telah lewat masa baginya untuk analogi-asosiasikan segala dengan bulan bintang matahari. Kini, ia belajar bahwa ketulusan dapat terhidangkan melalui tahu, tempe, sayur asem, dan sambal di meja makan. Atau tawa di pagi hari, sebelum keduanya menggosok gigi,” balasnya lantas.

Jelas sekali dialog dalam novel favoritku itu membayang. Novel pemberiannya. Terkenang-kenang dalam derak putaran kipas angin di atas kasurku. Kubangan rindu sudah mulai meluap rupanya.

Dua puluh tiga tahun lalu, kutitipkan salam untuk gadis manis keponakan tetanggaku. Waktu demikian gesit mengantarkan peristiwa. Sekarang, ialah ibu dari tiga anakku.

“Kembalilah menuliskan puisi cinta. Aku rindu,” mukena putih penutup dasternya disibak, agar tak halangi ia menyeduhkan segelas teh hangat. Teh terenak di dunia. Manisnya pas. Hangatnya pas.

“Jarak ini terlalu jauh,” lanjutnya lagi, sambil cemberut. Ah, masih tetap cantik. Semakin menggemaskan, malah.

“Kau mau ikut bersamaku?” tanyaku dengan nada menghibur.

“Anak-anak diajak?”

“Kali ini, kau dulu saja. Kau butuh berjalan-jalan, sudah dua bulan kau di tempat tidur. Udara luar baik untuk kesehatanmu. Lagipula anak-anak sedang mengejar mimpi di kota-kota pilihan mereka. Biarkanlah.”

“Bagaimana kalau nanti mereka tiba-tiba pulang?”

“Taruh kunci di bawah pot merah, seperti biasa. Sisipkan beberapa ratus ribu di laci, andai ada butuh.”

“Baik, Mas. Aku ganti baju dulu, ya. Kita mau pergi jam berapa?”

“Satu jam lagi, Sayang. Siap-siap, ya.”

Bros kembang jingga disematkan. Parfum wangi vanilla disemprotkan. Bedak dibubuhkan. Istriku cantik sekali hari ini.

Dua minggu lagi aku wisuda. Setelah sekian waktu tertunda akibat hobi naik gunung dan aksi demonstrasiku. Aku harus pulang, mengabarkan ini pada ibuku. Sumringah betul senyumku, adik kelasku tadi berkata.

Kupacu motorku kencang. Nanti aku akan mampir dulu di perempatan, beli Soto Betawi kesukaan ibu. Bahagia. Bahagia.

Lima menit kuketuk pintu. Masih tidak ada jawaban. Kucari kunci di bawah pot merah, ada. Mungkin ibu sedang mengaji di rumah tetangga.

Kusetel televisi. Ah, masih bersemut. Besok akan kubenarkan antenanya, ini pesan ibu berbulan lalu.

Malam menjemput. Ibu belum juga pulang. Kuhubungi ponsel ibu. Tidak aktif.

Kanan dan kiri. Depan dan belakang. Semua tetangga kutanyai, ke mana ibu. Nihil, tidak satu pun tahu.

Panas sekali malam itu. Tetapi seluruh tubuhku gemetar. Kukirim pesan kepada kedua adikku, “Pulang. Pesan tiket sekarang juga, ibu nggak tahu ada di mana.”

“Bapak, maafkan aku, Pak. Pesan terakhirmu, empat belas tahun lalu adalah menjaga ibu. Tapi aku ini bodoh, nggak becus, durhaka. Kok bisa-bisanya aku sampai nggak tahu ibu di mana. Pak, bantu aku, cari ibu. Ibu di mana? Ya Allah. Ya Allah.”

“Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah,” seterusnya hanya itu saja yang dapat kurapal berkali-kali, dalam perjalananku ke kantor polisi. Melaporkan ibuku yang tak terjejak, tak terkabar.

Ketika polisi menanyakan gambaran ibuku, kukeluarkan foto tua ibu dan almarhum bapak yang menguning di dompetku.

Dua minggu lagi aku wisuda, Bu. Akhirnya ibu akan berhenti bertanya kapan. Akhirnya aku bisa menjawab. Dua minggu lagi, Bu.

Kuhembuskan asap rokokku dalam bundaran-bundaran putih. Pacarku protes, lagi. Ia bilang kamar kostnya jadi bau rokok. Omelannya berlanjut, “Udah deh ngerokoknya, gue mau tidur. Lo juga tidur, gih. Besok jadi kan, nganter gue nyari kerja?”

Ujung rokok kutekankan kuat-kuat ke kaleng bekas yang berfungsi sebagai asbak. Sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Selepas membacanya, panas sisa rokok seolah membakar dadaku.

Setelah sepuluh menit terbimbang dalam hidupku, pesan itu kubalas, “Sorry, Bang. Gue besok ada ujian praktikum. Kalo ada kabar lagi tentang ibu, kasih tahu gue ya. Thanks.”

Kumatikan lampu.

Dalam gelap, aku membayangkan wajah ibu dan mulai berdu’a. Aku tidak tahu, apakah du’a seorang anak yang durhaka tanpa sepengetahuan ibunya tetap diterima Tuhan.

Aku tidak berani mencari tahu.