Perempuan itu berusaha menjaga kembali keran hatinya. Agar degup dan detaknya tidak lagi teralirkan kepada seseorang yang tidak berhak mereguknya. Ditutupnya erat-erat. Hanya diusahakan olehnya untuk terus memperbaiki diri. Membeningkan sumber airnya. Menjernihkan.

Hingga suatu saat, tanpa ia sadari, telah tercipta sebuah telaga mini di bawah dunianya. Menggenang. Ternyata sekuat apa pun ia mencoba menutupnya, ada tetes-tetes air yang masih menyelinap. Perlahan, satu demi satu. Hampir tanpa suara.

Perempuan itu telah jatuh cinta. Diam-diam. Merindu, dalam redam.

Satu hal yang kusadari, bahwa mencinta adalah kesanggupan, lebih tepatnya kesediaan untuk menikmati waktu berlama-lama dengan yang dicintainya. Bagi sang pencinta, relativitas waktu berlaku. Ketika bersama kekasihnya, aliran waktu berkhianat, dua jam serasa dua menit. Namun sehari tak jumpa, bagaikan satu dasawarsa.

Lalu dari sanalah aku keheranan, bahkan hingga tak kuasa menahan air mata. Jika memang demikian, bila benar adanya anggapanku tersebut, mengapa dua puluh menit lima kali sehari menjadi demikian lama bagi para hamba yang mengaku mencinta Tuhannya? Lihat saja di masjid, mushola, di tengah gesa kehidupan manusia, betapa terburunya! Betapa diburunya mereka oleh kehidupan ini!

Empat rakaat menjadi sedemikian singkat, selain karena hanya hapal beberapa surat pendek, ada materi ujian yang belum dihapalnya untuk dua jam ke depan. Jangankan untuk menambahnya kembali dengan dua takbir lagi, untuk empat sujud lagi, dzikir pun tak sempat! Diselipkannya sepatah istighfar dan doa bagi ujian yang sesaat lagi akan ia hadapi. Itu saja. Lantas disampirkan begitu saja mukena bertepian jamur hitam di lemari penuh debu. Tak ada waktu untuk melipatnya. Apalagi membantu mencucinya.

Tidak hanya ujian. Rapat dengan klien. Presentasi di hadapan direktur. Jaga toko. Belum makan siang. Bayar tagihan televisi kabel. Begitu banyak alasan. Begitu banyak desakan.

“Kau tempatkan Tuhanmu, di sisa-sisa harimu. Gesa. Buru.

Di sudut ruanganmu. Kusam. Debu.

Tetapi kau memaksa-Nya, untuk menempatkanmu di sisi-Nya. Persis di sebelah. Dekat sekali, dekat. Bersama Rasul-Nya. Berharap Mereka sudi bersuka ria bersamamu, dalam keabadian.”

Perempuan itu mengamati, dalam deretan lelaki yang bersujud, ada seseorang yang berlama-lama di atas sajadahnya. Menikmati setiap dzikirnya. Menghayati setiap doa yang terpanjat. Menggeser sedikit posisinya lantas berdiri menunaikan ba’diyah. Tidak henti di situ, lelaki itu mengeluarkan mushaf kecil dari tasnya, dibacanya ayat demi ayat. Hingga membayang bening di ujung mata lelaki itu.

Perempuan itu menemukan definisi keromantisan dalam diri lelaki itu, yang dengan khusyuk bermesraan dengan Kekasihnya. Memahami bahwa shalat bukanlah sekadar kewajiban. Dzikir bukan sebatas guliran tasbih. Pun sunnahnya. Pun alunan ayat sucinya.

Di saat itulah, tanpa disadari perempuan tersebut, ada tetesan yang mulai mengalir dari keran hatinya. Satu. Satu. Satu.

Lelaki itu tidak tahu ada seseorang yang mengamatinya. Memperhatikan gerak dan geriknya. Lelaki itu juga tidak tahu, bahwa perempuan yang dipinangnya sebulan lalu, kini telah menetapkan sebuah jawaban.

Semesta bertakbir.

Memuja. Memuji.

Dua hati telah saling mencinta.

Karena-Nya. Untuk-Nya.