Taman seharum kesturi.

Daun rambat memalu,

memayungi jiwa-jiwa yang sejenak berteduh

di bawah tanah bermeter saja.

 

Selepas duka,

kutapak selepas pandang.

 

Menelusuri. Satu. Satu.

 

Ternyata, dalam sebongkah batu atau sepapas kayu itu, tak banyak yang tertulis.

Hanya nama.

Lalu dua tanggal-bulan-tahun.

 

Kugurat dalam hati; bila memang demikian,

maka lebih baik kutulis nisanku sejak kini.

Agar tidak lagi batas bongkah batu atau papas kayu.

Tetapi jutaan kata, jutaan makna.

 

Pun.

Pahatlah nisan berlembar-lembar itu,

hanya dengan hikmah belaka.

 

Meski terkadang sulit.

Terkadang rumit.