Cobalah. Satu kali saja dalam hidupmu. Benamkan diri dalam luasnya laut nan mengombak. Tanpa pelampung. Berenang sepuasnya, sekuatnya.

Hingga merah matamu. Telingamu bagai tuli. Keriput jemarimu. Sesak napasmu.

Sampai ambang bahaya menjelang; terlalu serak suaramu untuk kelak berteriak meminta tolong.

Itu hobiku, silam berlalu.

“Manakah lagi, Tuhan, nikmat-Mu yang kudusta?” Tanyaku. Ketika sambil mengatur engahan napasku, kurebah batas pantai. Riak halus menjemput sisi tubuhku. Membelai mesra. Syahdu.

Lengkung langit kala itu, adalah saksi. Tidak ada bedaku dengan pepasir yang mendekap mengendap. Begitu kecil, begitu kerdil. Tergeletak pasrah, tamat kalah menantang samudra.

Lalu, satu kali saja dalam hidupmu, mendakilah! Gunung tidak terpancang hanya untuk kautatapi. Gapai ia! Genggam puncaknya!

Beban berat di punggungmu berolok-olok tentang kesombonganmu selama ini. Kerongkonganmu kering, pun botol minummu tak kalah kerontang. Hujan dini hari mencekammu segigil-gigilnya, sekejam-kejamnya. Sementara belum jua ada yang berteriak, “Puncak! Kita sampai! Sampai!”

Ha, pernah kulakukan itu. Berkali-kali.

Allahu akbar!” Pekikmu. Saat puncak gunung menekuk congkakmu, membungkam bualmu, dan merobek topeng kemunafikanmu. Karena tersadarlah engkau; di antara awan yang bergumul lembut di kakimu, di bawah ribuan bintang gemerlap – kau bukanlah siapa-siapa.

Hanya sebuah titik. Di tengah hamparan padang bunga keabadian. Di tengah pulau-pulau terapung. Di bulatan bumi. Tata surya. Galaksi.

Nan apalah, bila bersandingkan Al-Buruj; gugusan bebintang?

Tahun demi tahun berbilang. Meranggas. Menggilas. Tak peduli ratap sesal para pendosa; atas waktu yang tersia, atas hitam yang tertinta.

Maka seiringnya, (mungkin) lewat sudah masaku. Untuk mengombak hingga engah. Mendaki hingga payah.

Usaikah episode-episode pendefinisianku sebagai sepasir dan setitik? Tak! Sekali-kali tak!

Ufuk, pesisir, gelombang, gemintang, ancala, kini terjelma sedemikian indahnya di dalam diriku. Di dalam rahimku.

Meluluhlantakkanku akan kesima mukjizat yang kudoa sudi meletak surga di telapakku suatu saat nanti. Melumpuhkanku dalam sujud syukur tanpa tepi.

Selamat datang, Cinta.

Untukmu, aku rela tiada. Ikhlas menggadai jiwa.

Semata asal kau camkan amat-amat; hanyalah satu yang segala.

: Tuhanmu, yang ahad, yang eka, yang esa.