Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang belum kauketahui wajahnya, bahkan belum kaukenal namanya? Itulah cinta sang ibu kepada anaknya. Sembilan bulan, benih cinta yang tertanam dalam rahim merekah amat indah.

Tidak ada ibu yang dihadirkan janin dalam diri sebagai wujud doa-doanya, yang tidak merasakan hal ini. Mutlak. Pasti. Cinta akan hadir mengaliri setiap nadi sang ibu. Cinta itu menguat dan mengakar. Meski tubuh ibu bertambah lemah dan lemah, wahnan ‘ala wahnin.

Lantas apa kiranya yang ada dalam hati Yokhebed, Ibu Musa, ketika terilhamkan untuk melarungkan sang anak ke Sungai Nil, yang ujungnya tak tampak oleh mata? Seberapa pedih upayanya mengikhlas anak yang dicintainya lebih dari diri? Bimbang macam apa yang menggelayutinya karena bila tidak meletak Musa di sungai, tentara Fir’aun siap membunuh anaknya tanpa kecuali?

Saat itulah iman bicara. Ibu Musa percaya di atas segala, Allah sebaik-baik penjaga. Maka Musa, memulai pengembaraannya, segera setelah lahirnya. Terombang-ambing mengarus bersama Nil.

Allah sebaik-baik penjaga. Sungguh, Allah sebaik-baik penjaga. Terbayang, betapa haru, betapa biru. Ketika takdir Allah tersulam demikian indahnya.

Sang anak, Musa, diantarkan Allah kepada Asiyah. Istri Fir’aun, satu dari empat perempuan pemuka yang terjamin syurga. Satu-satunya yang dipenuhi pintanya oleh Fir’aun, untuk membiarkan Musa tetap hidup. Sementara seluruh bayi lelaki di penjuru negeri dihabisi tanpa belas kasih.

Allah sebaik-baik penjaga. Sungguh, Allah sebaik-baik penjaga. Terbayang, betapa haru, betapa biru. Ketika takdir Allah tersulam demikian indahnya.

Asiyah mencari ibu susu untuk Musa. Tertolak seluruh perempuan yang datang mencoba. Hanya satu, Yokhebed, yang air susunya diminum dengan gembira oleh Musa.

Pecahlah syukur dalam dada Yokhebed. Cinta yang dikandungnya sembilan bulan, kini kembali dalam dekapannya. Meski tidak sehari dua puluh empat jam dapat bersama. Ini cukup, lebih dari cukup bagi Yokhebed. Apa lagi yang sanggup diminta oleh seorang ibu sepertinya? Selain mencurah segala cinta yang ada kepada Musa, buah hatinya, penyejuk matanya?