“Mari, biar kurangkul engkau, Kasihku. Kuselimuti. Kupeluk erat,” perempuan berhati sutra itu merengkuh lelaki rembulan yang pulang dengan tersaruk-terbata. Belum pernah dilihat sebelumnya, kalut memucatkan wajah sang suami nan mulia. Tetapi ditahannya seluruh tanya. Dibiarkan gigil kekasihnya mereda dalam lekap lembutnya.

Zamiluni! Zamiluni! Selimuti aku! Selimuti aku!” Biarlah kalimat pinta ini menggema, bertalu-talu meninta sejarah cinta mereka. Biarlah seluruh perempuan seluruh sisa waktu dan ruang dicemburukan kisah paling romantis ini.

Dathiruni! Dathiruni! Peluk aku! Peluk aku!” Lepas dari bekapan Jibril yang mengengahkan napasnya. Lepas dari perintah baca; Iqra, Iqra, berulangkali, sementara ia ummi. Lepas dari peristiwa Gua Hira yang mengguncangkan dunianya, hanya satu yang ia inginkan; pulang. Kembali kepada kekasihnya, perempuan cinta pertamanya. Hanya kepadanya. Satu-satunya.

Maka bertahun setelahnya, ketika perempuan yang tak terganti posisinya dalam hati lelaki sempurna itu berpulang, rindu sang lelaki tak jua usai. Mengalir air mata dan sesak dadanya, saat tertemukan kembali sebuah perhiasan istri yang tak terduakan itu. Rindu. Rindu.

“Mari, biar kurangkul engkau, Kasihku. Kuselimuti. Kupeluk erat,” demikianlah Khadijah menunjukkan seluruh rasa, sepenuh percaya kepada Rasulullah. Mengimani suaminya, tanpa tanya, tanpa ragu. Hingga kenangan atasnya terus menjadi bunga dalam hati Rasulullah, memaku alasan-alasan cemburu bagi istri-istri Rasulullah setelahnya, bagi seluruh perempuan sesudahnya.

Tetapi sungguh tak terbantah. Memang hanya Khadijah yang pantas dicinta sedemikian dalam oleh Rasulullah yang terpuji, yang diridhai. Memang hanya Khadijah, yang mendapat salam dari Allah, bahwa telah terjanji baginya istana mutiara di surga.

Karena siapakah yang pertama percaya pada cerita bagai tak masuk akal itu –malaikat menyampai wahyu, bahwa ia kini utusan Tuhan Pencipta Semesta? Siapakah yang mengorban seluruh jiwa, raga, dan harta mendukungnya melewati jalan-jalan terberat dalam hidupnya? Siapa yang meregang nyawa, melahirkan para penyejuk hati bagi sang lelaki penerang batin umat sedunia?

: Khadijah. Hanya ia. Satu-satunya.