Mungkin tidak akan tersampai, apalagi terjawab. Tetapi biarlah tetap kubisik tanyaku, duhai Sayyidi Ash-Shiddiq; “Bilakah kiranya, hatiku mampu melembut memeka sebagaimanamu?”

Karena sungguhnya, wahai yang senantiasa berkata benar, hanya engkaulah di antara para Anshar dan Muhajir yang mengerti siratan Rasulullah ketika itu. Hanya engkau yang melinangi wajahmu dengan air mata, begitu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya.” Hanya engkau yang mampu membaca, inilah saat-saat terakhir sebelum tunai tugas Rasulullah di dunia, dan akan segera mengabadi bersama Sang Pencipta yang dicintanya.

Pinjamkan padaku, ya Abu Bakar –semoga ridha Allah selalu menyertamu-, satu dari alasan-alasan mulia tangismu. Agar tak kering hatiku, sering sedu tersebab hal duniawi semata. Agar kelak tak terbungkuk-bungkuk malu diriku, karena ternyata isakku tak beri manfaat apa pun, tersia begitu saja.

Mungkin tidak akan tersampai, apalagi terjawab. Tetapi biarlah tetap kubisik tanyaku, duhai Sayyidi Ash-Shiddiq; “Sudikah kau ajari aku menangis serindu itu?” Rindu yang tulus, yang benar, yang mengalamat ke surga.

Karena tangismu bersendirian kala itu, di saat seluruh sahabat lain bersorak atas ayat “Telah Kusempurnakan untukmu agamamu”, adalah tangis terindah yang pernah ada.