Bersijingkat. Perlahan. Terlalu perlahan. Memastikan tidak ada suara apa pun yang mungkin mengganggu tamu agung di lantai bawah rumah mereka.

Menyusuri tepi-tepi dinding. Khawatir. Terlalu khawatir. Bahwa telapak kaki mereka berada di atas posisi kepala sang pembawa kebenaran. Ketakutan letak diri mereka akan menghalangi firman langit tersampai pada sang utusan Tuhan.

“Ya Habiballah, ya Kekasih Allah. Sudilah kiranya kau pindah ke lantai atas rumah kami. Engkau teramat suci, sementara kami demikian hina. Manalah mungkin kami berbaring di atas keberadaanmu? Sungguh, tak pejam sama sekali mata kami malam ini,” tertuturlah sangat hati-hati ungkap hati sang tuan rumah. Agar lelaki penuh sinar langit itu tiada tersinggung. Agar nabi tidak beranjak dari rumah mereka yang terpilih memayunginya di awal waktu hijrah.

Muhammad, rasul yang jiwanya lembut itu tersenyum, “Tidaklah perlu kau risaukan, wahai Abu Ayyub. Lebih mudah bagiku dan tetamu jika aku berada di lantai bawah.”

Abu Ayyub dan istri terdiam. Jika memang itu keinginan nabi, tak pantas bantah hati mereka diucap kembali. Ini tamu besar. Tamu mulia. Harapannya adalah titah, bagi Abu Ayyub dan istri yang mendulang berkah dari hadirnya Rasul di kamar-kamar mereka.

Tetapi malam itu, Ummu Ayyub tidak sengaja menumpahkan bejana air di lantai atas rumah. Tanpa pikir panjang, dikeringkannya genangan itu dengan selimut yang ada. Lupa, atau bahkan tidak peduli, bahwa itulah satu-satunya selimut penahan dingin malam Kota Madinah yang menggigilkan tulang. Semata demi teryakinkan, tak setetes air akan merembes ke lantai bawah. Sehingga tidakkan terganggu lelap atau munajat sang Rasul Allah.

“Ya Habiballah, ya Kekasih Allah. Sudilah kiranya kau pindah ke lantai atas rumah kami. Engkau teramat suci, sementara kami demikian hina. Manalah mungkin kami berbaring di atas keberadaanmu? Sungguh, tak pejam sama sekali mata kami malam ini,” Abu Ayyub menundukkan kepalanya. Menjelaskan kisah semalam tentang bejana air yang tumpah dan selimut yang basah.

Muhammad, rasul yang jiwanya lembut itu tersenyum. Memahami. Lalu mengangguk, bersedia pindah ke lantai atas. Mendoakan limpahan berkah bagi tuan rumah yang berhati indah, berbudi halus; Abu Ayyub dan Ummu Ayyub.

Abu Ayyub Al-Anshari dan Ummu Ayyub. Pantaslah unta nabi memilih rumah mereka. Semoga Allah ridha kepada keduanya, radhiallahu ‘anhum. Kepada suami istri yang mencatatkan namanya dalam sirah, yang mengajarkan kita tentang sejatinya memuliakan tamu. Menampar kita, betapa belum sebanding akhlak kita dengan mereka, meski kita juga mengaku mencinta mendamba Rasulullah.

Abu Ayyub Al-Anshari dan Ummu Ayyub. Nan kisahnya meninggalkan kita dengan tanda tanya besar: “Jikalah termungkin –kenankah, patutkah, Baginda Besar Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa sallam bertamu di rumah-rumah kita? Kenankah, patutkah Rasulullah mengucap salam di depan pintu-pintu kita? Pintu yang menutupi aib kita tentang shalat-shalat yang tak terjaga, tentang ayat-ayat yang terabai, tentang jiwa-jiwa yang sering terlena dengan kesementaraan dunia.”