Adalah luka; bahwa hingga kini masih saja kugapai-gapai tepian dipanku. Mencari dekapmu, menyesap wangimu dalam-dalam … tetapi hanya udara dingin saja yang tersisa.

Pipi merah delima, pipi merah delima. Rasanya masih demikian jelas kudengar panggilan itu, Kasihku.

Panggil aku sekali lagi. Bangunkan aku tuk sujud berpanjang-panjang bersamamu lagi. Meski dahulu sempat hadir tanya heranku, mengapa tak bersantai lelap saja bila telah terampun segala khilafmu. “Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur atas hal itu, ‘Aisyah Sayangku?” jawabmu berbalik tanya.

Adalah hampa; mengenang seluruh indahmu. Berlomba lari, penuh tawa –karena setelah terselisih bertahun-tahun, kau akhirnya dapat mengalahkanku. Bersuci dari satu bejana, minum dari cawan yang sama. Menyisir rambutmu, meminyaki tubuhmu.

Pipi merah delima, pipi merah delima; sapaan manismu yang selalu mampu menghangatkan hatiku.

Panggil aku sekali lagi, Kasihku. Nyata benar terbayang, hembusan napas terakhirmu dalam pangkuanku, dalam pelukanku. Ludahku dan ludahmu terhimpun saat kulunakkan siwak untukmu bersuci, tatkala kau bersiap menuju Firdaus yang menanti.

“Pipi merah delima… Pipi merah delima…”

Tergema-gema di ruang hati, panggilanmu nan penuh cinta.

Memeluk rinduku segigil-gigilnya.