Menempel punggung. Terbayangkah putri nabi begitu laparnya, perutnya pun terkempis hingga punggung? Terbungkuk payah, bahkan ayahnya tak sanggup menahan air mata pilu saat memeluknya. Itulah ketika Sang Bunga, Fathimah Az-Zahra, berpuasa tiga hari lamanya tanpa makan sedikit pun.

Roti yang telah ia siapkan, dari gandum imbalan memintal bulu domba, tidak sempat ia nikmati. Setiap kali roti tersaji untuk keluarganya berbuka puasa, datanglah seorang dhuafa, anak yatim, dan tawanan perang menadahkan tangannya. Fathimah memang tidak pernah menolak pinta mereka yang membutuhkan, meski perutnya jua kerontang. Tiga hari berturut-turut, hanya air yang menjadi menu sahur dan ifthar-nya.

Bertebaran, kisah serupa mengenai keindahan Sang Bunga Surga. Hikmah terserak di mana-mana. Menanti kita tuk memungutnya satu per satu.

Masihkah ingat betapa mata Fathimah mendanau tatkala ia harus memberikan kalung peninggalan ibundanya kepada seorang Baduy tua? Kalung yang dengan izin Allah akhirnya kembali ke genggaman Fathimah setelah menebar keberkahan demi keberkahan. Melalui perantara kalung itulah, orang yang lapar menjadi kenyang, yang tak berpunya menjadi tercukupi, dan budak sahaya pun menjadi merdeka.

Atau sewaktu ‘Ali baru saja mendapat warisan tiga puluh dinar, berangkat ke pasar untuk membeli bahan makanan, lantas kembali dengan hampa. Tiga puluh dinar disedekahkan seluruhnya. Fathimah tersenyum ikhlas, menenangkan suaminya dengan janji lebarnya pintu-pintu jannah bagi yang berinfak fii sabilillah.

Ah, lekat pula dalam benak, ajaran Rasulullah kepada Fathimah dan ‘Ali tentang kebaikan yang melebihi kehadiran seorang pembantu? Kebaikan yang melampaui dunia dan seisinya. Ucapan subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar. Diulang-ulang sebelum tidur, tiada terlupa, hingga akhir hayat. Melipur lara Fathimah yang melepuh tangannya karena beratnya pekerjaan rumah tangga.

Kelaparan. Keletihan. Ketiadaan materi. Semua dijalani tanpa keluh.

Ah, Bunga, adakah sesal dirimu karena tak bersuamikan saudagar kaya-raya?

Tentu tidak.

Berimamkan pemuda bagai ‘Ali adalah impian Fathimah sejak ia mulai mengenal rasa. Berdebar kencang dadanya manakala mendengar nama ‘Ali. Segala kebaikan telah ada dalam diri  ‘Ali, suaminya. Keshalehannya, keterpeliharaannya sejak lahir, kedekatannya dengan ayahnya. Sosok ilmuwan, sastrawan, dan panglima perang. Suami yang senantiasa sedia, suami yang setia. Ayah penyayang, pendidik, dan pemberi teladan terbaik bagi anak-anaknya. Adakah yang mungkin menyaingi?

Telah Fathimah tekuk dunia di bawah telapak kakinya. Tidaklah ia tergoda dengan kemilau fananya sedikit pun. Karena, apatah arti dunia dibanding surga yang maha tinggi, yang maha abadi? Karena, bukankah ridha Tuhannya ada pada ketakwaan dalam lubuk hati?

Jadi, betapa hina bila menilai seseorang hanya dari hartanya –titipan sementara dari Tuhan yang seringkali membiaskan pribadi manusia di baliknya. Segala kebaikan telah ada dalam diri  ‘Ali, suami Fathimah. Semua yang ia inginkan, yang ia butuhkan. Termasuk hati Fathimah, yang dahulu pernah dicuri ‘Ali.

Lagipula, apa yang dapat menandingi keindahan dua orang nan saling mencinta selain bersanding dalam pernikahan? Selain saling bergandengan hingga ke Firdaus-Nya? Katakan.