“Kumohon, palingkan wajahmu dariku,” kata Rasulullah kepada Wahsyi bin Harb. Getir. Bukan berarti Rasulullah tidak menerima keislaman Wahsyi. Bukan berarti masa lalu Wahsyi sang pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib tidak termaafkan. Namun luka atas wafatnya paman nabi di tombak Wahsyi belum terhapus seluruhnya dari hati Sang Rasul.

Pedih. Terbayang betapa remuknya perasaan Wahsyi kala itu. Rasul tak sanggup memandang wajahnya! Wahsyi pun pulang tertunduk. Terhuyung.

Setapak demi setapak, kususuri jembatan kisahmu. Berkali-kali harus kusandarkan tubuhku yang goyah. Jembatan ini terlalu suci untukku, Muhammad.

Telah kubaca ribuan buku. Namun memesrai perjalanan hidupmu, berbeda dengan novel, esai, dan prosa lainnya. Alih-alih bagai berbincang hangat di ruang tamu, aku hanya sanggup mengintip sudut-sudut rumahmu. Berharap ada yang sanggup kuterjemahkan saat pintu dan jendelamu terbuka singkat.

Pun sebaris demi sebaris, kutulis lamunanku tentangmu. Bait-bait yang kikuk dan lusuh. Bait-bait yang tahu diri, bahwa mereka tidak pantas untuk istana hatimu yang gemerlap. Bait-bait yang merindumu, Muhammad.

Telah kuucap ribuan istighfar. Teriring tiruku atas doa Yunus ‘alayhissalam, “Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minadzhalimiin.” Tetapi penggalan hikayat Wahsyi selalu membayang-bayang. Ada satu ketakutan tak terjelaskan tentangnya. Siapakah yang mampu menjamin bahwa diriku, masa laluku, taubatku lebih baik darinya? Tak satu. Tak sesiapa pun.

Maka di sinilah aku, Muhammad. Merintih-rintih. Berlusuh dan berkikuk mengetuk pintu istanamu. Mengantar sepucuk pengharapan.

Agar satu saat nanti, kau izinkan aku mengakrabimu. Menatapmu lamat-lamat. Tanpa terpaling.