Seperti Bilal bin Rabah yang bersitabah di tengah himpitan batu, pasir, dan terik matahari, “Ahad. Ahad. Ahad.” Tak ada satu kata lain yang sanggup terucap saat ia dipaksa cambuk Umayyah bin Khalaf untuk memuja memuji Latta dan Uzza. Hanya “Ahad, Ahad! Esa, Esa!” yang menggemuruhkan jiwa raga sang mu’adzin pertama, seolah siksa yang menderanya bukanlah apa-apa.

Sebagaimana ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang meletak iman di atas seluruh percaya, bahwa Allah akan menyucikannya dari fitnah zina nan keji. Ketika pencarian atas kalungnya yang hilang berujung dirinya tertinggal rombongan Rasulullah. Lalu ia terjumpa Shafwan yang hanya membantunya, tidak lebih. Maka tatkala fitnah dari Abdullah bin Ubay bin Salul merebak, ‘Aisyah menjawabnya dengan kutipan ayat, “Fashabrun jamiil, waallaahu almusta’aanu ‘alaa maa tashifuun. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan kepada Allah sajalah termohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Laksana Mush’ab bin Umair yang teguh menerjang Uhud, meski tertebas tangan kanannya. Digenggam erat dengan tangan kiri, panji pasukan Muslim yang berkibar bersama derapnya. Maka begitu tangan kirinya pun terpenggal, Mush’ab memeluk, merengkuh bendera dengan dadanya … dengan apa yang tersisa dari dirinya. Hingga tertombaklah ia, tergeletak, tanpa kain yang cukup menutup seluruh tubuhnya. Padahal dahulu ia bergelimang harta, tak kurang satu apa.

Demikianlah sebenar-benar definisi kesabaran. Tak terbatas. Tak punya ambang.

Dicontohkan sempurna oleh Bilal, ‘Aisyah, dan Mush’ab. Kesabaran menuju ridha Allah yang hanya akan berujung satu: syurga.

Sepatut itulah kesabaran Bilal, seorang budak yang bunyi terompahnya telah menggema hingga syurga, meski kakinya masih menjejak dunia. Selayak ‘Aisyah yang kesuciannya difirmankan langsung dari langit, dari Tuhan yang mengetahui segala. Serupa Mush’ab, yang mendapat kesaksian Rasulullah tentang syahidnya, tentang janji syurga atas dirinya.

Sementara kita masih sibuk menghitung, menimbang-nimbang, merumuskan definisi kesabaran dari kamus yang kita cipta sendiri.