Abrahah-Abrahah akhir zaman pun terbahak. Saling bersulang. Berdenting gelas-gelas anggur putih mereka. Bahagia, istana-istana megah yang mereka bangun berhasil merebut rindu umat. Tidak lagi ke Ka’bah. Tetapi ke pencakar langit yang di dalamnya penuh gempita dunia. Barang-barang berkilau. Menyilaukan.

“Kiblat hati manusia teralihkan!” seru Abrahah-Abrahah berdasi itu. Jumawa. Dada mereka busung, “Kita bahkan tidak perlu mengirim Mahmud dan ribuan gajah lainnya ke Mekkah!”

“Saksikan! Saksikan! Bahkan di bulan suci mereka, istana kita jauh lebih ramai dari rumah Tuhan mereka!” kata salah seorang Abrahah menutup rapat malam ini.

“Tambah lagi diskonnya! Biar mereka gelap mata!” tambah Abrahah yang lain. Sambil mengusap-usap perutnya yang gendut. Mungkin karena terlalu banyak makan babi.