Bila terdamba tercemburukan alunan piano nan menyesak dada, jangan lupakan penat yang diterjang sang pianis menekuri tuts hitam putih belaka –bertahun lamanya.

Seumpama terbius terhanyut deburan prosa seorang pujangga, tanyakanlah berapa gelas kopi yang setia menemani malam-malamnya, atau berapa sering ia tersesat dalam kata-katanya sendiri.

Semisal tangismu gugu menyimak syahdunya ayat Tuhan dari bibir penjaga firman-Nya, telusurilah kesabarannya bergumul dengan kitab yang tidak bisa dihapal oleh hati yang gelap, sementara menjaga agar hati senantiasa bercahaya bukan hal mudah.

Karenanya, apa pun mimpimu saat ini, genggamlah ia erat-erat. Ya, pasti ada jenuh letih pun patah arang. Pasti ada karang dan badai menantang laju kapalmu. Pasti ada gelap membutakan arah kemudimu.

Tetapi terjang saja semua itu! Terjang! Kejar mimpimu, tak peduli dengan mengepak, mengayuh, atau merangkak. Tak peduli bahwa demi sang mimpi, kau justru tak bisa terlalu banyak memejam mata.

Lalu biarkan Tuhan menyelimuti mimpimu, merangkul doamu.