Belum pernah kubaca tulisan seluka mereka yang merindu orang terkasih nan telah tiada. Mereka bukan tak ikhlas melepas, tetapi kubangan kenangan memang masih menganga. Selebar-lebarnya. Sepekat-pekatnya.

“Pak…”

Hanya itu sapaanku. Aku kehabisan kata-kata. Harusnya kuceritakan tentang adik yang kemarin menangis karena jam tangan darimu hilang, tentang toko yang kini dibuka ibu, atau tentang gadis di kampus yang memikat hatiku.

Tetapi taman bapak sore ini demikian damai. Guguran bunga Kamboja kuning mengontras hijau rumput di sekitar nisan. Semut-semut merah berbaris rapi menjalari ubin tepian peristirahatan bapak.

Aku membuka ranselku. Mengeluarkan termos berisi kopi hitam panas. Kutuangkan pula segelas untuk bapak.

Senja, kopi hitam panas, dan dirimu: definisiku tentang kesempurnaan.

Selang dua minggu, batukku tak jua sembuh. Telah kucoba obat warung dan obat dokter. Tetapi sama saja, perih terus menyergak leherku yang gatal dan berdahak.

Lalu aku teringat dirimu. Tahun-tahun terakhir sebelum kepergianmu, kamu batuk siang dan malam. Sampai-sampai aku terbiasa, tidak lagi terbangun untuk menawarimu minum atau sekadar mengelus menenangkanmu. Tahun-tahun ketika kamu tidak pernah istirahat. Berjuang habis-habisan melawan kanker payudara yang tega menggerogoti sisa tubuh keringmu.

“Nanti saja aku istirahatnya, kalau sudah mati,” begitu ujarmu selalu.

Kupandangi langit-langit kamar kita yang berjamur. Dinding yang catnya mengelupas di sana sini. Lalu kuhirup mukenamu dalam-dalam … ah, beginikah harum surga?

Malam semakin larut. Kupadamkan lampu.

Selamat istirahat, Sayangku.