16 Januari 2013: Al-Hadid ayat 11 dan 12.

Ah, betapa dahulu terasa begitu mudah menghapal satu halaman Quran dalam sehari. Kini satu-dua ayat pun alhamdulillah. Mungkin belum terbiasa lagi karena terjeda sekian tahun dari terakhir menghapal Quran secara serius dan tertarget. Mungkin juga karena hati, jiwa, pikiran yang gelap. Membuat ayat-ayat cahaya enggan menetap.

Bait-bait cahaya hanya akan hadir dalam hati yang bercahaya pula. Karenanya, setelah meneguhkan tekad untuk menghapal bait-bait cahaya tersebut, saya merasa perlu mengevaluasi dahulu hidup saya. Hal-hal apa saja yang berpotensi menyia-nyiakan waktu dan mengeruhkan jiwa. Tidak mudah memang. Rasanya bagai mengurai benang kusut, tak tahu harus memulai dari mana.

Saya memulainya dengan deactivate akun Twitter. Karena mencermati lini masa sepertinya cukup menyita waktu luang—yang semakin langka sejak hadirnya Aisha Raudha Mardhia, anak saya. Amat mudah mengaktifkannya kembali kelak, jika saya telah lebih mampu mengelola waktu. Kini izinkan saya menyapu dan mengepel lantai hati saya yang penuh debu, agar siap menyambut datangnya ayat-ayat cahaya.

Semoga Allah perkenankan.