Silau, silau!

Ada cahaya-cahaya naik ke langit.

Diiringi gema suara-suara; Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Senyum-senyum mengembang. Air mata haru menggenang.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Di tangan mereka ada kerikil yang belum sempat terlontar.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Para ibu yang tersungkur dalam sujud syukur, selepas terkabar keempat putranya syahid. Para ayah yang mencium bayinya berlama-lama, sebelum berpamit siap tak kembali. Juga anak-anak! Anak-anak tak berdosa, yang hak hidupnya terenggut paksa.

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah!

Mata-mata terpejam.

Bisikan-bisikan syahdu terdengar, jiwa-jiwa mereka bicara!

“Panggil kami, Tuhan. Kami siap…”

Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah! Wahai jiwa-jiwa yang tenang…

Irji’i… Kembalilah…

Irji’i ilaa rabbiki raadhiatam mardhiyyah… Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya…

                                     …

Kumatikan televisi. Kumatikan telepon genggamku.

“Deg! Deg! Deg!”; suara jiwaku.

Suara jiwa yang gelisah.