Bagi sebagian orang, aku mungkin hanya seorang penjual jamu. Biarlah, ada hal-hal yang tak perlu dilihat sesiapa kecuali Gusti Allah. Biarlah, semisal semua menyemat kata “hanya”, di depan pekerjaanku. Toh sejatinya setiap diri memang hanya hamba; hamba Allah. Dengan memahami hakikat penghambaan kepada Tuhan inilah, kuselami hidup sekhusyuk-khusyuknya.

Pukul dua pagi, hariku dimulai. Kuucap hamdalah, atas satu lagi jatah usia. Kubangunkan anak dan suamiku, mengajak mereka ikut shalat malam. Kadang mereka mau, kadang tak. Lalu kusiapkan semua kebutuhan untuk berjualan jamu hari ini.

Kunyit, kencur, temulawak, jahe, adas, asam, kedawung, keningar, brotowali, sambiloto, jambi, manis jangan, dan bahan lainnya kuracik dengan takaran tepat. Membuat jamu yang berkhasiat ada ilmunya. Kupelajari dan kuterapkan sungguh-sungguh.

Sebelum Subuh, semua jamu telah tersusun rapi di keranjang belakang sepedaku. Lalu aku beralih dari satu wujud penghambaan ke penghambaan lain, Subuh. Salah satu waktu shalat yang magis, ketika semesta merekah, bergeliat bersiap.

Kuperlama setiap sujudku, agar semakin kuat tertanam dalam dada, aku hanya seorang hamba. Terasa benar, tak ada yang bisa disombongkan ketika kepala kita ada di titik terendah membenam bumi. Tak juga perlu rendah diri, karena justru dalam sujud, di titik terendah itu, Allah terasa begitu dekat.

Lalu kusapu lantai semen rumahku, kubuka tirai-tirai yang menyimpan banyak debu, lalu kuhidangkan sarapan terbaik untuk orang-orang tercintaku. Nasi goreng lauk kerupuk, dengan jaminan rasa yang siap diadu dengan buatan restoran. Kopi hitam untuk bapak. Lalu teh manis untuk si Ujang.

Setelahnya, aku pamit berangkat duluan. Dengan jilbab yang kusemat rapi. Celana panjang bahan yang memudahkanku mengayuh sepeda. Juga sekelumit doa.

Sepanjang jalan, aku khusyuk berdzikir. Menderas harap, agar daganganku kali ini banyak terbeli. Utang-utangku terlunasi. Bapak ada panggilan gali sumur dan pulang dengan selamat. Pun semoga … si Ujang bisa sekolah lagi.

Bismillahirrahmanirrahim…

“JAMUUU! Neng geulis, jamu Kunyit Asam, Neng? Biar makin geulis… Cantik luar dalam…”

“JAMUUU! Bu Nisa, lagi jemur dedek ya? Mau jamu Uyup-Uyup, Bu? Supaya kalau nyusuin si dedek, ASI-nya deras…”

“JAMUUU! Pak, jamu, Pak? Ada Kudu Laos, Pak… Bagus untuk nurunin tekanan darah…”