Menelusuri satu per satu tulisan di memori notebook, saya menemukan beberapa tulisan lama. Tulisan yang melempar kembali kenangan. Sajak sederhana yang dahulu saya rasa tak layak dibaca sesiapa. Sajak-sajak yang terlupa.

1.

Karena bukan tak bersebab, melahirkan disebut sebagai meregang nyawa, maka sudah seharusnya kau bersiap. Menghitung mundur. Telah cukupkah bekalmu untuk pergi?

Karena bukan tak bersebab, mengapa syurga diletak di telapak kaki seorang ibu –dan Rasul ucapkan “Ibumu” tiga kali, maka tengoklah kembali; apa kau sudah pantas untuk itu?

2.

Jauh sebelum kau kuajari mengeja suku kata di papan-papan iklan pinggir jalan, R-I-N, RIN, S-O, SO, RINSO!, S-A-M, SAM, S-U, SU, N-G, NG, SAMSUNG!, telah kutunjukkan padamu cara mengeja cinta.

Lewat senyumku di tengah malam. Menyiapkan ganti popokmu, air hangat untuk membersihkanmu, kapas, tisu, minyak telon. Lalu kusenandungkan shalawat menenangkanmu yang merengek haus, tak sabar ingin segera menyusu.

Dalam pelukku, dalam tatap matamu, cinta kueja sejelas-jelasnya.

Akan terus kueja, kubacakan, kutuliskan. Hingga kau percaya, hingga kau paham.

3.

Setiap perempuan, begitu terbersit di hatinya, “Aku ingin menjadi seorang ibu. Menjadi sebaik-baik ibu,” maka menjelmalah ia seorang ibu. Perjalanan seusainya, apakah ia menikah, mengandung, melahirkan, menyusui, mengadopsi, atau tidak mengalami semua itu, adalah kehendak Ilahi. Ia tetap seorang ibu. Dalam doa-doanya, telah ada buah hati yang didekap, dikecup, ditimang.

Maka sudahilah prasangka atas perempuan mana pun. Apalagi untuk hal-hal yang kita tidak tahu kisah di belakangnya. Mengapa operasi, susu formula, vaksinasi, bekerja, sekolah, dan sebagainya. Selama di matanya ada tatap penuh cinta kepada anak-anak, selama semua dilakukan untuk mendapat ridha Allah, perempuan itu malaikat tak bersayap. Perempuan itu ibu.

Karena sejarah telah memperkenalkan kita pada sosok-sosok ibu terbaik. Maryam, ibunda Nabi Isa. Perempuan suci yang ditakdirkan Allah mengandung tanpa suami. Aminah, ibunda kandung Nabi Muhammad. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Mekkah yang memilih anak-anak mereka dibesarkan di situasi terbaik, bukan di Kota Mekkah yang hingar bingar, maka ia pun menitipkan bayi Muhammad kepada ibu susunya. Halimah, sang ibu susu Muhammad yang datang berbekal air susunya yang mengering, hingga anaknya sendiri pun kehausan. Adakah Alquran sekali-kali pernah menyudutkan mereka? Tidak. Sama sekali tidak.