ambang

Seperti Bilal bin Rabah yang bersitabah di tengah himpitan batu, pasir, dan terik matahari, “Ahad. Ahad. Ahad.” Tak ada satu kata lain yang sanggup terucap saat ia dipaksa cambuk Umayyah bin Khalaf untuk memuja memuji Latta dan Uzza. Hanya “Ahad, Ahad! Esa, Esa!” yang menggemuruhkan jiwa raga sang mu’adzin pertama, seolah siksa yang menderanya bukanlah apa-apa.

Sebagaimana ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang meletak iman di atas seluruh percaya, bahwa Allah akan menyucikannya dari fitnah zina nan keji. Ketika pencarian atas kalungnya yang hilang berujung dirinya tertinggal rombongan Rasulullah. Lalu ia terjumpa Shafwan yang hanya membantunya, tidak lebih. Maka tatkala fitnah dari Abdullah bin Ubay bin Salul merebak, ‘Aisyah menjawabnya dengan kutipan ayat, “Fashabrun jamiil, waallaahu almusta’aanu ‘alaa maa tashifuun. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan kepada Allah sajalah termohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Laksana Mush’ab bin Umair yang teguh menerjang Uhud, meski tertebas tangan kanannya. Digenggam erat dengan tangan kiri, panji pasukan Muslim yang berkibar bersama derapnya. Maka begitu tangan kirinya pun terpenggal, Mush’ab memeluk, merengkuh bendera dengan dadanya … dengan apa yang tersisa dari dirinya. Hingga tertombaklah ia, tergeletak, tanpa kain yang cukup menutup seluruh tubuhnya. Padahal dahulu ia bergelimang harta, tak kurang satu apa.

Demikianlah sebenar-benar definisi kesabaran. Tak terbatas. Tak punya ambang.

Dicontohkan sempurna oleh Bilal, ‘Aisyah, dan Mush’ab. Kesabaran menuju ridha Allah yang hanya akan berujung satu: syurga.

Sepatut itulah kesabaran Bilal, seorang budak yang bunyi terompahnya telah menggema hingga syurga, meski kakinya masih menjejak dunia. Selayak ‘Aisyah yang kesuciannya difirmankan langsung dari langit, dari Tuhan yang mengetahui segala. Serupa Mush’ab, yang mendapat kesaksian Rasulullah tentang syahidnya, tentang janji syurga atas dirinya.

Sementara kita masih sibuk menghitung, menimbang-nimbang, merumuskan definisi kesabaran dari kamus yang kita cipta sendiri.

Advertisements

tanpa terpaling

“Kumohon, palingkan wajahmu dariku,” kata Rasulullah kepada Wahsyi bin Harb. Getir. Bukan berarti Rasulullah tidak menerima keislaman Wahsyi. Bukan berarti masa lalu Wahsyi sang pembunuh Hamzah bin Abdul Muthalib tidak termaafkan. Namun luka atas wafatnya paman nabi di tombak Wahsyi belum terhapus seluruhnya dari hati Sang Rasul.

Pedih. Terbayang betapa remuknya perasaan Wahsyi kala itu. Rasul tak sanggup memandang wajahnya! Wahsyi pun pulang tertunduk. Terhuyung.

Setapak demi setapak, kususuri jembatan kisahmu. Berkali-kali harus kusandarkan tubuhku yang goyah. Jembatan ini terlalu suci untukku, Muhammad.

Telah kubaca ribuan buku. Namun memesrai perjalanan hidupmu, berbeda dengan novel, esai, dan prosa lainnya. Alih-alih bagai berbincang hangat di ruang tamu, aku hanya sanggup mengintip sudut-sudut rumahmu. Berharap ada yang sanggup kuterjemahkan saat pintu dan jendelamu terbuka singkat.

Pun sebaris demi sebaris, kutulis lamunanku tentangmu. Bait-bait yang kikuk dan lusuh. Bait-bait yang tahu diri, bahwa mereka tidak pantas untuk istana hatimu yang gemerlap. Bait-bait yang merindumu, Muhammad.

Telah kuucap ribuan istighfar. Teriring tiruku atas doa Yunus ‘alayhissalam, “Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minadzhalimiin.” Tetapi penggalan hikayat Wahsyi selalu membayang-bayang. Ada satu ketakutan tak terjelaskan tentangnya. Siapakah yang mampu menjamin bahwa diriku, masa laluku, taubatku lebih baik darinya? Tak satu. Tak sesiapa pun.

Maka di sinilah aku, Muhammad. Merintih-rintih. Berlusuh dan berkikuk mengetuk pintu istanamu. Mengantar sepucuk pengharapan.

Agar satu saat nanti, kau izinkan aku mengakrabimu. Menatapmu lamat-lamat. Tanpa terpaling.

adakah sesal, duhai bunga surga?

Menempel punggung. Terbayangkah putri nabi begitu laparnya, perutnya pun terkempis hingga punggung? Terbungkuk payah, bahkan ayahnya tak sanggup menahan air mata pilu saat memeluknya. Itulah ketika Sang Bunga, Fathimah Az-Zahra, berpuasa tiga hari lamanya tanpa makan sedikit pun.

Roti yang telah ia siapkan, dari gandum imbalan memintal bulu domba, tidak sempat ia nikmati. Setiap kali roti tersaji untuk keluarganya berbuka puasa, datanglah seorang dhuafa, anak yatim, dan tawanan perang menadahkan tangannya. Fathimah memang tidak pernah menolak pinta mereka yang membutuhkan, meski perutnya jua kerontang. Tiga hari berturut-turut, hanya air yang menjadi menu sahur dan ifthar-nya.

Bertebaran, kisah serupa mengenai keindahan Sang Bunga Surga. Hikmah terserak di mana-mana. Menanti kita tuk memungutnya satu per satu.

Masihkah ingat betapa mata Fathimah mendanau tatkala ia harus memberikan kalung peninggalan ibundanya kepada seorang Baduy tua? Kalung yang dengan izin Allah akhirnya kembali ke genggaman Fathimah setelah menebar keberkahan demi keberkahan. Melalui perantara kalung itulah, orang yang lapar menjadi kenyang, yang tak berpunya menjadi tercukupi, dan budak sahaya pun menjadi merdeka.

Atau sewaktu ‘Ali baru saja mendapat warisan tiga puluh dinar, berangkat ke pasar untuk membeli bahan makanan, lantas kembali dengan hampa. Tiga puluh dinar disedekahkan seluruhnya. Fathimah tersenyum ikhlas, menenangkan suaminya dengan janji lebarnya pintu-pintu jannah bagi yang berinfak fii sabilillah.

Ah, lekat pula dalam benak, ajaran Rasulullah kepada Fathimah dan ‘Ali tentang kebaikan yang melebihi kehadiran seorang pembantu? Kebaikan yang melampaui dunia dan seisinya. Ucapan subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar. Diulang-ulang sebelum tidur, tiada terlupa, hingga akhir hayat. Melipur lara Fathimah yang melepuh tangannya karena beratnya pekerjaan rumah tangga.

Kelaparan. Keletihan. Ketiadaan materi. Semua dijalani tanpa keluh.

Ah, Bunga, adakah sesal dirimu karena tak bersuamikan saudagar kaya-raya?

Tentu tidak.

Berimamkan pemuda bagai ‘Ali adalah impian Fathimah sejak ia mulai mengenal rasa. Berdebar kencang dadanya manakala mendengar nama ‘Ali. Segala kebaikan telah ada dalam diri  ‘Ali, suaminya. Keshalehannya, keterpeliharaannya sejak lahir, kedekatannya dengan ayahnya. Sosok ilmuwan, sastrawan, dan panglima perang. Suami yang senantiasa sedia, suami yang setia. Ayah penyayang, pendidik, dan pemberi teladan terbaik bagi anak-anaknya. Adakah yang mungkin menyaingi?

Telah Fathimah tekuk dunia di bawah telapak kakinya. Tidaklah ia tergoda dengan kemilau fananya sedikit pun. Karena, apatah arti dunia dibanding surga yang maha tinggi, yang maha abadi? Karena, bukankah ridha Tuhannya ada pada ketakwaan dalam lubuk hati?

Jadi, betapa hina bila menilai seseorang hanya dari hartanya –titipan sementara dari Tuhan yang seringkali membiaskan pribadi manusia di baliknya. Segala kebaikan telah ada dalam diri  ‘Ali, suami Fathimah. Semua yang ia inginkan, yang ia butuhkan. Termasuk hati Fathimah, yang dahulu pernah dicuri ‘Ali.

Lagipula, apa yang dapat menandingi keindahan dua orang nan saling mencinta selain bersanding dalam pernikahan? Selain saling bergandengan hingga ke Firdaus-Nya? Katakan.

pipi merah delima

Adalah luka; bahwa hingga kini masih saja kugapai-gapai tepian dipanku. Mencari dekapmu, menyesap wangimu dalam-dalam … tetapi hanya udara dingin saja yang tersisa.

Pipi merah delima, pipi merah delima. Rasanya masih demikian jelas kudengar panggilan itu, Kasihku.

Panggil aku sekali lagi. Bangunkan aku tuk sujud berpanjang-panjang bersamamu lagi. Meski dahulu sempat hadir tanya heranku, mengapa tak bersantai lelap saja bila telah terampun segala khilafmu. “Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur atas hal itu, ‘Aisyah Sayangku?” jawabmu berbalik tanya.

Adalah hampa; mengenang seluruh indahmu. Berlomba lari, penuh tawa –karena setelah terselisih bertahun-tahun, kau akhirnya dapat mengalahkanku. Bersuci dari satu bejana, minum dari cawan yang sama. Menyisir rambutmu, meminyaki tubuhmu.

Pipi merah delima, pipi merah delima; sapaan manismu yang selalu mampu menghangatkan hatiku.

Panggil aku sekali lagi, Kasihku. Nyata benar terbayang, hembusan napas terakhirmu dalam pangkuanku, dalam pelukanku. Ludahku dan ludahmu terhimpun saat kulunakkan siwak untukmu bersuci, tatkala kau bersiap menuju Firdaus yang menanti.

“Pipi merah delima… Pipi merah delima…”

Tergema-gema di ruang hati, panggilanmu nan penuh cinta.

Memeluk rinduku segigil-gigilnya.

pantaslah unta nabi memilihnya

Bersijingkat. Perlahan. Terlalu perlahan. Memastikan tidak ada suara apa pun yang mungkin mengganggu tamu agung di lantai bawah rumah mereka.

Menyusuri tepi-tepi dinding. Khawatir. Terlalu khawatir. Bahwa telapak kaki mereka berada di atas posisi kepala sang pembawa kebenaran. Ketakutan letak diri mereka akan menghalangi firman langit tersampai pada sang utusan Tuhan.

“Ya Habiballah, ya Kekasih Allah. Sudilah kiranya kau pindah ke lantai atas rumah kami. Engkau teramat suci, sementara kami demikian hina. Manalah mungkin kami berbaring di atas keberadaanmu? Sungguh, tak pejam sama sekali mata kami malam ini,” tertuturlah sangat hati-hati ungkap hati sang tuan rumah. Agar lelaki penuh sinar langit itu tiada tersinggung. Agar nabi tidak beranjak dari rumah mereka yang terpilih memayunginya di awal waktu hijrah.

Muhammad, rasul yang jiwanya lembut itu tersenyum, “Tidaklah perlu kau risaukan, wahai Abu Ayyub. Lebih mudah bagiku dan tetamu jika aku berada di lantai bawah.”

Abu Ayyub dan istri terdiam. Jika memang itu keinginan nabi, tak pantas bantah hati mereka diucap kembali. Ini tamu besar. Tamu mulia. Harapannya adalah titah, bagi Abu Ayyub dan istri yang mendulang berkah dari hadirnya Rasul di kamar-kamar mereka.

Tetapi malam itu, Ummu Ayyub tidak sengaja menumpahkan bejana air di lantai atas rumah. Tanpa pikir panjang, dikeringkannya genangan itu dengan selimut yang ada. Lupa, atau bahkan tidak peduli, bahwa itulah satu-satunya selimut penahan dingin malam Kota Madinah yang menggigilkan tulang. Semata demi teryakinkan, tak setetes air akan merembes ke lantai bawah. Sehingga tidakkan terganggu lelap atau munajat sang Rasul Allah.

“Ya Habiballah, ya Kekasih Allah. Sudilah kiranya kau pindah ke lantai atas rumah kami. Engkau teramat suci, sementara kami demikian hina. Manalah mungkin kami berbaring di atas keberadaanmu? Sungguh, tak pejam sama sekali mata kami malam ini,” Abu Ayyub menundukkan kepalanya. Menjelaskan kisah semalam tentang bejana air yang tumpah dan selimut yang basah.

Muhammad, rasul yang jiwanya lembut itu tersenyum. Memahami. Lalu mengangguk, bersedia pindah ke lantai atas. Mendoakan limpahan berkah bagi tuan rumah yang berhati indah, berbudi halus; Abu Ayyub dan Ummu Ayyub.

Abu Ayyub Al-Anshari dan Ummu Ayyub. Pantaslah unta nabi memilih rumah mereka. Semoga Allah ridha kepada keduanya, radhiallahu ‘anhum. Kepada suami istri yang mencatatkan namanya dalam sirah, yang mengajarkan kita tentang sejatinya memuliakan tamu. Menampar kita, betapa belum sebanding akhlak kita dengan mereka, meski kita juga mengaku mencinta mendamba Rasulullah.

Abu Ayyub Al-Anshari dan Ummu Ayyub. Nan kisahnya meninggalkan kita dengan tanda tanya besar: “Jikalah termungkin –kenankah, patutkah, Baginda Besar Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa sallam bertamu di rumah-rumah kita? Kenankah, patutkah Rasulullah mengucap salam di depan pintu-pintu kita? Pintu yang menutupi aib kita tentang shalat-shalat yang tak terjaga, tentang ayat-ayat yang terabai, tentang jiwa-jiwa yang sering terlena dengan kesementaraan dunia.”

tangis terindah

Mungkin tidak akan tersampai, apalagi terjawab. Tetapi biarlah tetap kubisik tanyaku, duhai Sayyidi Ash-Shiddiq; “Bilakah kiranya, hatiku mampu melembut memeka sebagaimanamu?”

Karena sungguhnya, wahai yang senantiasa berkata benar, hanya engkaulah di antara para Anshar dan Muhajir yang mengerti siratan Rasulullah ketika itu. Hanya engkau yang melinangi wajahmu dengan air mata, begitu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya.” Hanya engkau yang mampu membaca, inilah saat-saat terakhir sebelum tunai tugas Rasulullah di dunia, dan akan segera mengabadi bersama Sang Pencipta yang dicintanya.

Pinjamkan padaku, ya Abu Bakar –semoga ridha Allah selalu menyertamu-, satu dari alasan-alasan mulia tangismu. Agar tak kering hatiku, sering sedu tersebab hal duniawi semata. Agar kelak tak terbungkuk-bungkuk malu diriku, karena ternyata isakku tak beri manfaat apa pun, tersia begitu saja.

Mungkin tidak akan tersampai, apalagi terjawab. Tetapi biarlah tetap kubisik tanyaku, duhai Sayyidi Ash-Shiddiq; “Sudikah kau ajari aku menangis serindu itu?” Rindu yang tulus, yang benar, yang mengalamat ke surga.

Karena tangismu bersendirian kala itu, di saat seluruh sahabat lain bersorak atas ayat “Telah Kusempurnakan untukmu agamamu”, adalah tangis terindah yang pernah ada.

perempuan tak terdua

“Mari, biar kurangkul engkau, Kasihku. Kuselimuti. Kupeluk erat,” perempuan berhati sutra itu merengkuh lelaki rembulan yang pulang dengan tersaruk-terbata. Belum pernah dilihat sebelumnya, kalut memucatkan wajah sang suami nan mulia. Tetapi ditahannya seluruh tanya. Dibiarkan gigil kekasihnya mereda dalam lekap lembutnya.

Zamiluni! Zamiluni! Selimuti aku! Selimuti aku!” Biarlah kalimat pinta ini menggema, bertalu-talu meninta sejarah cinta mereka. Biarlah seluruh perempuan seluruh sisa waktu dan ruang dicemburukan kisah paling romantis ini.

Dathiruni! Dathiruni! Peluk aku! Peluk aku!” Lepas dari bekapan Jibril yang mengengahkan napasnya. Lepas dari perintah baca; Iqra, Iqra, berulangkali, sementara ia ummi. Lepas dari peristiwa Gua Hira yang mengguncangkan dunianya, hanya satu yang ia inginkan; pulang. Kembali kepada kekasihnya, perempuan cinta pertamanya. Hanya kepadanya. Satu-satunya.

Maka bertahun setelahnya, ketika perempuan yang tak terganti posisinya dalam hati lelaki sempurna itu berpulang, rindu sang lelaki tak jua usai. Mengalir air mata dan sesak dadanya, saat tertemukan kembali sebuah perhiasan istri yang tak terduakan itu. Rindu. Rindu.

“Mari, biar kurangkul engkau, Kasihku. Kuselimuti. Kupeluk erat,” demikianlah Khadijah menunjukkan seluruh rasa, sepenuh percaya kepada Rasulullah. Mengimani suaminya, tanpa tanya, tanpa ragu. Hingga kenangan atasnya terus menjadi bunga dalam hati Rasulullah, memaku alasan-alasan cemburu bagi istri-istri Rasulullah setelahnya, bagi seluruh perempuan sesudahnya.

Tetapi sungguh tak terbantah. Memang hanya Khadijah yang pantas dicinta sedemikian dalam oleh Rasulullah yang terpuji, yang diridhai. Memang hanya Khadijah, yang mendapat salam dari Allah, bahwa telah terjanji baginya istana mutiara di surga.

Karena siapakah yang pertama percaya pada cerita bagai tak masuk akal itu –malaikat menyampai wahyu, bahwa ia kini utusan Tuhan Pencipta Semesta? Siapakah yang mengorban seluruh jiwa, raga, dan harta mendukungnya melewati jalan-jalan terberat dalam hidupnya? Siapa yang meregang nyawa, melahirkan para penyejuk hati bagi sang lelaki penerang batin umat sedunia?

: Khadijah. Hanya ia. Satu-satunya.

ibu yang melarungkan cinta

Pernahkah kau jatuh cinta pada seseorang yang belum kauketahui wajahnya, bahkan belum kaukenal namanya? Itulah cinta sang ibu kepada anaknya. Sembilan bulan, benih cinta yang tertanam dalam rahim merekah amat indah.

Tidak ada ibu yang dihadirkan janin dalam diri sebagai wujud doa-doanya, yang tidak merasakan hal ini. Mutlak. Pasti. Cinta akan hadir mengaliri setiap nadi sang ibu. Cinta itu menguat dan mengakar. Meski tubuh ibu bertambah lemah dan lemah, wahnan ‘ala wahnin.

Lantas apa kiranya yang ada dalam hati Yokhebed, Ibu Musa, ketika terilhamkan untuk melarungkan sang anak ke Sungai Nil, yang ujungnya tak tampak oleh mata? Seberapa pedih upayanya mengikhlas anak yang dicintainya lebih dari diri? Bimbang macam apa yang menggelayutinya karena bila tidak meletak Musa di sungai, tentara Fir’aun siap membunuh anaknya tanpa kecuali?

Saat itulah iman bicara. Ibu Musa percaya di atas segala, Allah sebaik-baik penjaga. Maka Musa, memulai pengembaraannya, segera setelah lahirnya. Terombang-ambing mengarus bersama Nil.

Allah sebaik-baik penjaga. Sungguh, Allah sebaik-baik penjaga. Terbayang, betapa haru, betapa biru. Ketika takdir Allah tersulam demikian indahnya.

Sang anak, Musa, diantarkan Allah kepada Asiyah. Istri Fir’aun, satu dari empat perempuan pemuka yang terjamin syurga. Satu-satunya yang dipenuhi pintanya oleh Fir’aun, untuk membiarkan Musa tetap hidup. Sementara seluruh bayi lelaki di penjuru negeri dihabisi tanpa belas kasih.

Allah sebaik-baik penjaga. Sungguh, Allah sebaik-baik penjaga. Terbayang, betapa haru, betapa biru. Ketika takdir Allah tersulam demikian indahnya.

Asiyah mencari ibu susu untuk Musa. Tertolak seluruh perempuan yang datang mencoba. Hanya satu, Yokhebed, yang air susunya diminum dengan gembira oleh Musa.

Pecahlah syukur dalam dada Yokhebed. Cinta yang dikandungnya sembilan bulan, kini kembali dalam dekapannya. Meski tidak sehari dua puluh empat jam dapat bersama. Ini cukup, lebih dari cukup bagi Yokhebed. Apa lagi yang sanggup diminta oleh seorang ibu sepertinya? Selain mencurah segala cinta yang ada kepada Musa, buah hatinya, penyejuk matanya?

pasir dan titik

Cobalah. Satu kali saja dalam hidupmu. Benamkan diri dalam luasnya laut nan mengombak. Tanpa pelampung. Berenang sepuasnya, sekuatnya.

Hingga merah matamu. Telingamu bagai tuli. Keriput jemarimu. Sesak napasmu.

Sampai ambang bahaya menjelang; terlalu serak suaramu untuk kelak berteriak meminta tolong.

Itu hobiku, silam berlalu.

“Manakah lagi, Tuhan, nikmat-Mu yang kudusta?” Tanyaku. Ketika sambil mengatur engahan napasku, kurebah batas pantai. Riak halus menjemput sisi tubuhku. Membelai mesra. Syahdu.

Lengkung langit kala itu, adalah saksi. Tidak ada bedaku dengan pepasir yang mendekap mengendap. Begitu kecil, begitu kerdil. Tergeletak pasrah, tamat kalah menantang samudra.

Lalu, satu kali saja dalam hidupmu, mendakilah! Gunung tidak terpancang hanya untuk kautatapi. Gapai ia! Genggam puncaknya!

Beban berat di punggungmu berolok-olok tentang kesombonganmu selama ini. Kerongkonganmu kering, pun botol minummu tak kalah kerontang. Hujan dini hari mencekammu segigil-gigilnya, sekejam-kejamnya. Sementara belum jua ada yang berteriak, “Puncak! Kita sampai! Sampai!”

Ha, pernah kulakukan itu. Berkali-kali.

Allahu akbar!” Pekikmu. Saat puncak gunung menekuk congkakmu, membungkam bualmu, dan merobek topeng kemunafikanmu. Karena tersadarlah engkau; di antara awan yang bergumul lembut di kakimu, di bawah ribuan bintang gemerlap – kau bukanlah siapa-siapa.

Hanya sebuah titik. Di tengah hamparan padang bunga keabadian. Di tengah pulau-pulau terapung. Di bulatan bumi. Tata surya. Galaksi.

Nan apalah, bila bersandingkan Al-Buruj; gugusan bebintang?

Tahun demi tahun berbilang. Meranggas. Menggilas. Tak peduli ratap sesal para pendosa; atas waktu yang tersia, atas hitam yang tertinta.

Maka seiringnya, (mungkin) lewat sudah masaku. Untuk mengombak hingga engah. Mendaki hingga payah.

Usaikah episode-episode pendefinisianku sebagai sepasir dan setitik? Tak! Sekali-kali tak!

Ufuk, pesisir, gelombang, gemintang, ancala, kini terjelma sedemikian indahnya di dalam diriku. Di dalam rahimku.

Meluluhlantakkanku akan kesima mukjizat yang kudoa sudi meletak surga di telapakku suatu saat nanti. Melumpuhkanku dalam sujud syukur tanpa tepi.

Selamat datang, Cinta.

Untukmu, aku rela tiada. Ikhlas menggadai jiwa.

Semata asal kau camkan amat-amat; hanyalah satu yang segala.

: Tuhanmu, yang ahad, yang eka, yang esa.

dua tanggal

Taman seharum kesturi.

Daun rambat memalu,

memayungi jiwa-jiwa yang sejenak berteduh

di bawah tanah bermeter saja.

 

Selepas duka,

kutapak selepas pandang.

 

Menelusuri. Satu. Satu.

 

Ternyata, dalam sebongkah batu atau sepapas kayu itu, tak banyak yang tertulis.

Hanya nama.

Lalu dua tanggal-bulan-tahun.

 

Kugurat dalam hati; bila memang demikian,

maka lebih baik kutulis nisanku sejak kini.

Agar tidak lagi batas bongkah batu atau papas kayu.

Tetapi jutaan kata, jutaan makna.

 

Pun.

Pahatlah nisan berlembar-lembar itu,

hanya dengan hikmah belaka.

 

Meski terkadang sulit.

Terkadang rumit.

 

sajak oktober [3]

Perempuan itu berusaha menjaga kembali keran hatinya. Agar degup dan detaknya tidak lagi teralirkan kepada seseorang yang tidak berhak mereguknya. Ditutupnya erat-erat. Hanya diusahakan olehnya untuk terus memperbaiki diri. Membeningkan sumber airnya. Menjernihkan.

Hingga suatu saat, tanpa ia sadari, telah tercipta sebuah telaga mini di bawah dunianya. Menggenang. Ternyata sekuat apa pun ia mencoba menutupnya, ada tetes-tetes air yang masih menyelinap. Perlahan, satu demi satu. Hampir tanpa suara.

Perempuan itu telah jatuh cinta. Diam-diam. Merindu, dalam redam.

Continue reading

sajak oktober

1.

Seusai terkisah seorang anak yang dipintakan ayahandanya memakukan tiap alpa diri di pagar kayu, lantas melepaskannya setiap perbuatan baik dilakukan, kupatut hati berluka-luka.

“Benar, Ayahanda, akan selalu ada bekas pada lelubang paku terpancang. Tetapi, tidakkah kau sudi ajarkan aku cara mendempul kayu? Lalu, ini lembar-lembar ribu tabunganku. Kiranya cukup, aku izin membeli dempul dan cat kayu ke toko bangunan di depan gang rumah kita. Pelajaranmu jangan kau henti sampai di sini, Ayah. Yakinkan aku bahwa pengampunan Tuhan menyamudra luasnya, dan upaya menutup salah laku kata dengan bertatih dalam kebaikan adalah sebuah perkenan.”

: Coretan singkat bertinta biru pada kertas bekas itu, yang kutuliskan di sela gigilku (dan –mu) berlaku pula padaku.

“Karena bila tidak, hancur benar hatiku, Ayah. Hancur benar –mengetahui telah kucipta lubang tak tertambal berjua apa, berjarak tak terengkuh.”

Continue reading

tetapi hujan tak mendengar

“Jangan. Jangan sekarang. Tunggu sebentar.”

Tetapi langit semakin gelap.

“Sedikit lagi saja. Sampai ada yang menjawab panggilanku.”

Gerimis.

“Kumohon. Jangan sekarang. Tunggu. Sebentar. Tunggu.”

Menderas.

“Sejak pagi aku berjalan. Berteriak. Sejak pagi. Sejak kemarin.”

Tetapi langit semakin gelap.


“Apa yang harus kukatakan pada istri dan anakku nanti?”

Air hujan mulai menggenang.

“Untuk terus bersabar?”

Di lelubang aspal.


“Bahwa Gusti Allah ora sare?”

Di pepatah hati.


Enam buah sapu lidi itu ia masukkan ke dalam sebuah plastik hitam.

Lalu dipeluknya erat-erat.

sang mu’adzin

“Tak tak tak.”

Ini hari ketiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh.

“Duk duk duk.”

Tiga belas ribu delapan ratus tujuh puluh kali pula dia membangunkanku dengan cara ini.

“Tak.”

Bukan dengan kecupan di kening. Pun segelas susu coklat hangat. Apalagi sekuntum bunga.

“Duk.”

Tetapi percayakah bila kukatakan, ini ucapan selamat pagi termanis yang pernah ada?

“Tak tak.”

Karena setelah dingin ini kusibak, lamur ini kuabaikan, dan ringkih ini kutegakkan, segera akan kujumpai dirinya berdiri di balik pagar itu. Menungguku.

“Duk duk duk duk.”

Dengan senyum yang sama. Binar mata yang sama.

Continue reading